Rabu, 31 Oktober 2012

novel jilid 1

#Abstrak                                                      ARENZbag 5

kali ini, lebih panjang daru biasanya, soalnyaa dah lamaa ga kesentuh nie blog...



Air mata Arenz tak dapat lagi dibendung. Ia menangis sesenggukan dibawah ranjangnya. Pikirannya melayang entah kemana. Namun yang ada dalam benaknya saat ini adalah kerinduan. Kerinduan yang terpancar jelas dari sorot matanya. Ia rindu akan belaian opa yang begitu menyanyanginya. Lama Arenz duduk mematung. Tapi, perlahan-lahan Arenz beranjak dari duduknya. Serpihan giok itu masih digenggamnya. Ia pun kembali meletakkan serpihan itu ditempatnya.

000

Arenz terbangun malam harinya. Hatinya berdegup kencang. Bahkan ia kaget kenapa tiba-tiba jantungnya berdegup sangat kencang dan tidak terkontrol. Ia mencoba menetralisirnya dengan meminum segelas air putih.  Tidak berapa lama kemudian ia pun mulai tenang.  Aku kenapa?kenapa aku jadi seperti ini?batinnya sambil menyentuh dadanya. Apa yang terjadi denganku?apakah aku bermimpi?ah tidak, aku tidak bermimpi. Tapi, ada perasaan aneh yang menghampiriku.?tanyanya dalam hati.

000

Pagi- pagi Arenz sudah duduk di beranda rumahnya, menikmati kesejukan alam yang diberikan Tuhan untuk hambanya sama seperti yang ia lakukan dengan kakeknya dulu. Serpihan giok itu berada dalam genggamannya. Ia mencoba merenungkan peristiwa tadi malam karena sepertinya ada kaitannya dengan giok pemberian opa. Kenapa aku tiba- tiba merindukan seseorang? sebenarnya siapa yang aku rindukan? Lalu siapa cowok itu? Siapa cowok yang menghampiriku tadi malam? Kenapa dia tersenyum? Kenapa dia meraih tanganku?mimpi ini sama seperti mimpi satu minggu yang lalu.
“Arenz,..”panggil bunda membuyarkan lamunannya.
“Eh,… Bunda ngagetin aja”
“Ngga’ baik lho pagi- pagi ngelamun, pamali””Memangnya kamu lagi mikirin apa sich?”tanya bunda.
“Ngga’ kok, Bun. Cuma mikir aja aku mau hunting lagi hari ini. Kira- kira tempat yang asyik yang mana ya, Bun?”sahut Arenz berbohong.
“Kamu mau hunting lagi? Bukannya kemaren- kemaren kamu hunting juga, ya?”
“Iya, Bun. Tapi, daripada dirumah nganggur mendingan cari sesuatu yang baru”
“Ehm, gimana kalau ke toko buku aja. Bukannya sekarang lagi banyak diskon. Waktumu akan lebih bermanfaat di sana”usul bunda.
“Benar juga, Bunda. Sudah lama aku ngga’ ke toko buku”
“Tapi, jangan lupa ya. Nanti ikut jemput Ayah di bandara jam 3 sore”
“Oke, Bunda”

000

Mata Arenz terpaku pada tiga buku didepannya. Tangannya menimang- nimang buku- buku tersebut. Ia bingung memilih antara buku akuntansi yang harus dibelinya atau buku sastra yang ingin dibelinya dari dulu begitu juga buku analisis kesehatan yang diinginkannya.
“Yang mana, ya? Sayangnya aku cuma bawa uang dua ratus lima puluh ribu. Coba tadi aku ambil uang dulu di ATM, pasti aku bisa beli dua-duanya”ucap Arenz lirih.
 Sedang bingung- bingungnya memilih tiba- tiba seseorang muncul dari belakang.
“Coba pilih yang lebih kamu butuhin”ucap seorang cewek yang tiba-tiba ada disampingnya. Arenz memalingkan wajahnya. Terlihat didepannya seorang cewek berkerudung biru tersenyum ke arahnya. Cewek itu melirik buku yang dibawa Arenz sedari tadi.
“Akuntansi, analisis kesehatan atau sastra? Mana yang lebih kamu butuhin?”ucap cewek itu lagi membuat Arenz terdiam.
“Oh,… maaf aku lancang ya?”ucap cewek itu merasa bersalah dengan kelakuannya. Arenz segera tersadar dari lamunannya.
“Eh,.. ngga’ kok. Ngga’ apa-apa lagi”bantah Arenz.
“Beneran? Maaf ya””Ehm, kenalin namaku Suci”ucap cewek itu yang ternyata bernama Suci. Ia mengulurkan tangannya.
“Arenza”sahut Arenz sambil menyambut tangan Suci.
“Namamu Ryan” puji Suci.
“Terima kasih. Kamu juga”sahut Arenz.
“ Eh, kok jadi kaku gini sich suasananya. Lucu dech”ucap Suci mencoba mencairkan suasana. Membuat Arenz tertawa yang diikuti oleh Suci. Mereka berdua pun menjadi akrab karena itu.
“Jadi kamu anak seni? Ambil jurusan apa?”
“Ehm, seni music”
“Keren banget. Berarti kamu bisa mainin semua alat music dong?”
“Ngga’ semua kok, cuma beberapa soalnya aku lebih konsentrasi ke biola”
“Wah biola, keren banget. Aku mau dong diajarin”pinta Arenz.
“Shiiep, kapan- kapan ya…”
“Oke”
“Suci”panggil seseorang dari belakang. Reflek Suci dan Arenz pun menoleh. Seorang cowok dengan kemeja biru tengah berdiri tak jauh dari mereka.
“Mas Bowo”
“Ngapain aja sich, lama banget beli bukunya”ucap cowok itu yang ternyata bernama Bowo.
“Sorry dech, Mas. Sini aku kenalin sama temen baruku”ucap Suci. Bowo pun berjalan mendekat ke arah Suci.
“Kenalin, ini Arenz teman baruku”ucap Suci.
Bowo sedikit terkejut melihat Arenz yang tersenyum kepadanya.
“Halo, Mas Bowo. Kita ketemu lagi”sapa Arenz membuat Bowo sedikit mengerutkan keningnya.
“Kamu itu Arenz yang kemarin, bukan?tanya Bowo memastikan. Arenz mengangguk mantap.
“Tepat sekali”Bowo tersenyum mendengarnya.
“Jadi kalian sudah kenal?”tanya Suci heran.
“Kamu inget ngga’ sich, Ci. Dia itu cewek yang aku ceritain tadi”ucap Bowo mengingatkan. Suci memutar otaknya.
“Oh, yang kamu bilang cewek lucu ya?”tanya Suci yang dibalas anggukan Bowo.
“Nanti dulu, jadi mas Bowo cerita apa aja sama kamu, Suci?”tanya Arenz.
“Ehm, ada aja”jawab Suci membuat Arenz gemas.
“Sucii, jahat banget sich”ucap Arenz sedikit kesal. Tapi, malah membuat Suci dan Bowo tertawa.
“Mas Bowo kok ikut-ikutan ketawa sich,…”sungut Arenz membuat Bowo menggelengkan kepalanya.
“Kamu itu bener- bener lucu ya”tambah Bowo.


000


Sore ini Bandara Adisucipto tampak ramai. Hal ini terlihat dari beberapa kerumunan orang di berbagai tempat. Ada yang tengah duduk di ruang tunggu, ada yang hanya berdiri, ada pula yang duduk- duduk di kafe. Arenz tengah menikmati vanilla ice nya sambil duduk di ruang tunggu. Disampingnya bunda tampak serius melihat berita  yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun tv.
“Denger tuch Renz, sekarang banyak banget penyakit yang muncul dan aneh- aneh macamnya. Kamu harus hati- hati lho kalau deket sama orang yang ngga’ kamu kenal. Ntar kalau dia punya penyakit dan kamu tertular gimana? Sekarang kan banyak penyakit yang menular lewat udara. Jadi hati- hati kalau deket sama orang apalagi kamu bersentuhan. Ihh,… serem.”jelas bunda panjang lebar membuat Arenz jengah mendengarnya.
“Bunda, Arenz ke toilet dulu ya”pamit Arenz.
“Jangan lama- lama ya! Bentar lagi ayah landing”
“Oke, Bunda”
Arenz berjalan menelusuri kerumunan orang di depannya. Matanya mencari- cari papan nama yang bertuliskan toilet. Akhirnya ia menemukannya. Dengan langkah yang sedikit tergesa- gesa ia menerobos kerumunan orang. Tiba- tiba ia tersandung dan membuat keseimbangan tubuhnya goyah. Ia pun terjatuh ke depan dan membuat orang yang berada di depannya terkejut. Ice yang dibawanya pun ikut nimbrung menodai baju orang tersebut. Dengan segudang rasa bersalahnya Arenz berdiri sambil tesenyum kaku memandangi orang yang ditabraknya.
“Maaf ya, aku ngga’ sengaja”pintanya sambil meringis menunjukkan giginya yang tersusun rapi. Tapi, kemudian ia menyadari sesuatu. Cowok yang ditabraknya adalah cowok yang ia temui beberapa hari yang lalu di toko bunga.
“Oh ya, … kamu sudah membuat bajuku kotor dan satu lagi, kamu telah membuat karangan bungaku hancur gara- gara kamu. Dan kamu hanya bilang “Maaf ngga’ sengaja””ucap cowok itu dingin membuat Arenz semakin kikuk dan merasa bersalah, ia tidak menyangka cowok itu masih saja ingat peristiwa kemarin.
“Aku bener- bener minta maaf. Apa yang bisa kulakukan supaya kamu maafin aku?”tanya Arenz. Cowok itu hanya memandanginya dingin.
“Pergi dari hadapanku sekarang juga!”ucap cowok itu dingin membuat Arenz sedikit terkejut. Ia pun segera pergi dari hadapan cowok itu. Sesampainya di toilet Arenz mengelus- elus dadanya yang terasa sakit.
“Galak banget sich tuch cowok. Aku sampai takut begini dibuatnya”ucapnya lirih sambil membenahi pakaiannya. Arenz segera membasuh tangannya yang kotor di westafel. Ia melirik jam tangannya. Sedetik kemudian ia teringat sesuatu.
“Ayah”ucapnya sambil buru- buru keluar. Tiba- tiba ia mengerem langkahnya. Hampir saja ia menabrak orang lagi di depan toilet. Ia pun mengarahkan pandangannya pada orang tersebut. Cowok itu lagi!batinnya . cowok itu hanya memandanginya kemudian berlalu tanpa sepatah kata. Arenz tidak memedulikannya. Segera ia melanjutkan langkahnya karena pesawat yang membawa ayahnya sudah tiba dari tadi. Handphone nya pun terus berdering.
“Iya Bunda, Arenz sudah selesai kok”

“Ayah,..!”Arenz segera bersalaman menyambut kedatangan ayah dan menghambur kepelukan ayah.
“Arenz kangen, Yah”
“Ayah juga, Arenz baik- baik aja kan dirumah sama Bunda?”tanya Ayah yang dijawab dengan anggukan mantap Arenz.
“Oke, sekarang kita pulang. Ayah dah kangen nih sama masakan Bunda”
“Cieee, sama masakannya atau orangnya?”goda Arenz membuat Ayah tertawa geli.
“Dua- duanya lah”sahut Ayah membuat Bunda menggelengkan kepalanya geli melihat tingkah suami dan anaknya. Mereka bertiga pun berjalan beriringan meninggalkan bandara. Dijalan tak henti- hentinya Arenz bercerita dengan Ayahnya.
“Iya, Yah. Kemaren itu pamerannya Ryan banget. Ada juga yang permainan biolanya itu keren banget”cerocos Arenz tanpa henti.
“Arenz, udah dong ceritanya nanti lagi. Ayah kan butuh istirahat”ucap bunda mengingatkan.
“Hehe, iya Bunda. Lagian Arenz dah ngga’ punya bahan lagi buat cerita”sahut Arenz.
“Oke, nanti gantian Ayah yang cerita. Tapi, dirumah aja ya”ucap ayah yang disambut anggukan Arenz.
“Oke”
Mobil berhenti di lampu merah. Arenz mengalihkan pandangannya ke luar. Awan mendung tampak berjejeran di atas langit. Gerimis pun mulai turun perlahan- lahan. Arenz menikmati suasana ini. Ia memejamkan matanya beberapa saat. Ketika ia membuka kembali matanya ia dikejutkan dengan pemandangan didepannya. Seorang cowok yang tengah bermain gitar di depan sebuah gedung bekas toko. Cowok itu dikelilngi dengan anak- anak kecil yang duduk melingkar. Arenz teringat sesuatu, ia pun membuka kaca mobilnya dan memperhatikan wajah cowok itu lekat- lekat. Dia kan cowok biola itu. Akhirnya aku lihat dia lagi. Pikirnya.
Tiba- tiba sebuah mobil berhenti disampingnya dan menghalangi pandangannya pada cowok biola itu. Arenz sedikit mengeluh. Tapi, ia kembali dikejutkan dengan pemandangan di depannya. Sekarang gantian cowok dingin pembawa bunga itu yang berada di hadapannya.
Cowok itu melirik sekilas dan sedikit kaget melihat Arenz yang tiba- tiba ada di depannya. Matanya membelalak kaget yang disambut dengan cengiran Arenz yang buru- buru menutup kaca mobilnya.
Arenz mengelus- elus dadanya sambil mengatur kembali nafasnya. Ia tak habis pikir sudah tiga kali dalam satu hari ini ia bertemu dengan cowok dingin itu. Cowok yang membuatnya deg- degan karena tatapannya yang tajam. Tanpa sadar Ayah melihat gelagat aneh Arenz.
“Kenapa, Renz?”
“E.. Ngga pa pa kok, Yah”
“Ngga’ pa pa kok ngos- ngosan gitu”
“Beneran, aku cuma kaget aja tiba- tiba kutub utara pindah disini”
“Kutub utara? Kamu itu aneh- aneh aja sich, Renz”ucap ayah sambil menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan Arenz yang asal-asalan. Lampu kembali hijau dan mobil pun kembali berjalan.

000


Arenz menatap bangunan didepannya, sebuah gedung bertingkat membuatnya berdiri terpaku beberapa saat. Sebuah impian yang tersimpan erat didalam hatinya selama ini, kini hanya bisa tergantung dalam hatinya saja. Cukup lama ia berdiri sendiri di pinggir jalan memandangi bangunan itu. Sampai seseorang memanggilnya dan membuyarkan lamunannya.
  “Arenz!!”panggil seseorang dari arah belakang membuat Arenz mengalihkan pandangannya.
“Eh, Kak Bowo”sahut Arenz sedikit terkejut melihat Bowo yang tengah berjalan ke arahnya.
“Ngapain kamu disini?”tanya Bowo sesampainya dihadapan Arenz.
“Ehm, Cuma main doang kok. Mas Bowo sich ngapain disini?”tanya Arenz balik.
“Lho aku memang disini kuliahnya”
“Oh, disini,…”sahut Arenz sambil mengangguk- angguk mengerti.
“Kamu mau ikut ke dalam ngga’? soalnya aku mau ujian praktek” tawar Bowo.
“Ngga’ dech, aku sudah mau pulang kok. Oh ya, bukannya sekarang ada pertunjukkan music ya di museum Van Den Burg?”
“He’eh, tadi aku baru kesana. Suci juga disana kok”
“Oh, Mbak Suci ikut?”
“Iya, dia ikut mengiringi temannya”
“Wah, kalau begitu aku mau mampir ke sana dulu dech”
“Iya, pasti Suci seneng kalau kamu ke sana”
“Ya udah, aku pergi dulu ya”
“Oke”
“Oh, iya, sukses ya ujian prakteknya, Mas Bowo”
“Makasih, Renz, aku masuk duluan”pamit Bowo sambil beranjak pergi. Sepeninggal Bowo, Arenz pun beranjak pergi dari tempatnya berdiri dengan sisa- sisa harapannya. Baru saja ia membalikkan badan tiba- tiba seseorang sudah ada di belakangnya, Arenz sedikit terkejut. Ia mundur beberapa langkah.
“Kenapa kamu selalu menghalangi jalanku?”ucap cowok itu ketus tanpa basa- basi. Arenz terdiam. Tanpa sepatah kata arenz pergi meninggalkan cowok itu.
“Cewek aneh”

“Kenapa sich aku selalu bertemu dengannya? Dan kenapa juga ia selalu ketus sama aku? Apa sich salahku? Kurasa semua peristiwa yang terjadi bukan hanya salahku, tapi salah dia juga. Dia yang pertama kali membuatku jengkel karena ia tak menjawab pertanyaanku sewaktu di toko bunga seharusnya aku yang marah sama dia, trus kalau di bandara kemarin itu memang salahku karena aku kurang hati- hati. Trus tadi, aku kan ngga’ tahu kalau ternyata dia ada dibelakangku. Kurasa dia kekurangan obat tidur dech sampai- sampai dia selalu ketus sama aku.”omel Arenz lirih. Kini, ia tengah berada di halte bus Trans, tak lama kemudian bus itu datang dan membawa Arenz pergi.
Di dalam bus Arenz mengeluarkan buku oranyenya. Ia pun membenahi posisi duduknya. Dengan sebuah pena ia mulai bermain dengan imajinasinya.

Apa yang kurasakan???
Kenapa aku harus merasakannya?
Duduk dalam sebuah posisi yang memberiku sedikit ruang untuk nafasku.
Apa ini yang dinamakan cinta?
Atau mungkin ini adalah beban???
Sebuah teka teki yang mungkin hanya aku dan Dia yang mengetahuinya.
Aku??? Apakah aku benar- benar bisa mendiskripsikannya???
Aku lelah, dan aku tak mau tahu.

“Sepertinya posisi seperti itu yang selalu membuatmu nyaman.”celetuk seseorang yang membuat Arenz menghentikan tulisannya. Arenz mengalihkan pandangannya.
“Sepertinya aku merusak suasanamu? Sorry”ucap cowok itu.
“Siapa kamu?”tanya Arenz bingung.
“Oh iya, kenalin namaku Gilang.”
“Arenz”Arenz tampak berfikir, wajah cowok itu begitu familiar baginya.
Wajahnya?? Mengingatkanku padanya. Kenapa mereka bisa sebegitu miripnya? Ahh, mana mungkin, sekarang kan sudah banyak orang yang wajahnya mirip. Masa bodo’.   
“Kamu suka menulis ya?”tanya Gilang membuyarkan lamunannya.
“Oh, iya. Itu merupakan hobiku”jawab Arenz singkat.
“Hobi yang pastinya membuatmu selalu melamun”tambah Gilang membuat Arenz tertawa kecil.
“Sepertinya kita pernah ketemu ya?”tanya Arenz.
“Ya, kita memang pernah bertemu. Di bus trans juga. Kalau tidak salah di sekitar malioboro”jawabnya lancar membuat Arenz terperangah.
“Kamu benar- benar mengingatnya?”
“Yup, untuk masalah ingatan aku jagonya.”
“Oh,…”jawab Arenz sedikit heran campur bingung, dan kaget.
Tapi, kenapa yang terfikirkan olehku malah orang lain??? Ucap Arenz dalam hati.
“Hei,.. kok diem aja!”ucap Gilang membuyarkan lamunannya.
“Eh,..ehm, ngga’,.. ngga’ apa- apa kok”jawabnya asal sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela bus.

Arenz berhenti di pemberhentian halte depan museum benteng Van Den Burg, ia pun berpisah dengan Gilang yang masih melanjutkan perjalanannya. Sore ini tampak ramai di sekitar benteng karena tengah ada pertunjukkan music didalam, segera Arenz berjalan memasuki museum.
Setibanya di dalam Arenz langsung disambut dengan suara biola yang menggema. Matanya pun langsung tertuju pada panggung kecil yang berada tak jauh darinya. Terlihat seorang cowok tengah bermain biola yang diiringi dengan piano disampingnya. Arenz mengenal cowok itu. Dia adalah cowok biola itu.
Tiba- tiba seseorang menepuk bahunya pelan membuatnya sedikit terkejut. Tampak Suci tersenyum ke arahnya.
“Mbak Suci,..”
“Hei Renz, apa kabar?”
“Baik, Mbak. Pamerannya lumayan ramai ya”
“Alhamdulillah, di Jogja kan gudangnya seniman”
“Bener juga tuch,..”
“Oh iya, Mbak Suci ikut main, ya”
“He’eh, pasti kamu tahu dari Mas Bowo, ya”
“Iya,..”
“Kapan mainnya? jangan- jangan aku telat nih”
“Ngga’ kok, tepat waktu malah. Nih aku baru mau main.”
“Wah, asyik dong. Aku bisa lihat atraksi Mbak Suci”
“Aku itu cuma mengiringi temenku, Ryan. Itu lho yang lagi main biola di depan. Keren kan”
“Oh, namanya Ryan”
“Gimana? Cakep kan orangnya? Nanti aku kenalin ke kamu.”
“Tapi, Mbak,…”
“Aku ke depan dulu ya”pamit Suci tanpa menanggapi respon Arenz.
Arenz memperhatikan Suci yang tengah naik ke atas panggung dan disambut tepukan tangan dari penonton. Arenz tersenyum saat melihat Suci tersenyum ke arahnya, tapi sejurus kemudian ia terdiam ketika melihat Ryan memandang ke arahnya dengan tatapan tajam. Ia pun langsung menundukkan kepalanya. Ia kembali teringat tatapan mata itu. Tatapan itu hampir sama seperti tatapan mata cowok pembawa bunga itu.
Tiba- tiba  jantungnya berdegup kencang membuatnya bingung. Aku kenapa sich? Kok tiba- tiba perasaanku jadi aneh. Degupan jantung ini sama seperti degupan jantung beberapa hari yang lalu. Tepatnya saat ia bermimpi sesuatu yang aneh. Arenz memutar otaknya mencoba menerka sesuatu yang tengah terjadi padanya.
“Arenz”panggil Suci yang membuyarkan lamunannya. Dilihatnya Suci tengah melambaikan tangannya ke arahnya memintanya untuk menghampirinya. Ya Allah, ternyata permainan music Mbak Suci sudah selesai padahal aku tidak mendengarkannya sama sekali. gerutu Arenz dalam hati.
Arenz pun berjalan pelan ke arah Suci. Ia tidak berani memandang Ryan yang duduk di sebelah Suci.
“Ryan, kenalin Arenz”ucap Suci memperkenalkan Arenz kepada Ryan.
“Arenz, ini Ryan.”ucapnya lagi.
Ryan memandang ke arah Arenz dengan tatapan tajamnya membuat Arenz menjadi kikuk.
“Ryan”ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
“Arenz”sahutnya sambil menyambut uluran tangan Ryan.
“Oh iya, tahu ngga’ Yan, Arenz ini suka banget lho sama music. Dia juga suka sama sastra sama kayak kamu”
“Ah, Mbak Suci ini bisa aja”ucap Arenz merasa tidak enak hati.
“Oh gitu,… Suci kamu bisa ambilin air minumku di tas ngga’?”tanya Ryan.
“Tentu”jawab Suci singkat yang kemudian meninggalkan Arenz sendirian.
Ryan menatap Arenz dari bawah ke atas. Tatapannya tak lepas dari wajah Arenz. Ia tampak berfikir sesaat.
“Kamu itu cewek yang kulihat waktu di dekat malioboro itu, kan?”tanya Ryan tanpa basa basi.
“Iya”jawab Arenz singkat.
“Kamu juga cewek yang waktu di pameran JEC itu, kan?”tanyanya lagi.
“Iya”
“Kuharap kamu ngga’ cerita apa- apa sama Suci tentang kejadian waktu itu, antara aku dengan mantanku”
“Ngga’ kok, aku ngga’ akan cerita sama Suci”
“Baguslah kalau begitu, sekarang kita bisa berteman.”ucap Ryan sambil tersenyum. Arenz pun ikut tersenyum.
“Biasa aja kalau sama aku, walaupun aku memang agak nyeremin”
“Baiklah”
Tak butuh waktu lama untuk mengakrabkan mereka berdua. Karena memang ada yang menyatukan pembicaraan mereka, yaitu music. mereka pun mengobrol akrab. Ketegangan yang terjadi di antara mereka selama ini seakan menguap entah kemana. Suci yang berdiri tak jauh dari mereka pun tersenyum melihat hal itu. Botol minuman yang dibawanya dibiarkannya saja tergantung dalam kepalan tangannya. Ia tidak ingin mengganggu perkenalan kedua temannya. Bunyi handphone membuat Suci segera mengangkat telponnya.
“Gimana?”tanya suara di seberang.
“Semuanya lancar”jawab Suci mantap.
“Baguslah”

000

“Ayolah, bantu aku untuk mengantarkan pesanan pelangganku. Please”pinta Gilang. Galang melengos mendengarnya.
“Aku bukan tukang antar, you know!”bantah Galang sambil membenahi meja kerjanya.
“Ayolah, sebagai saudara seharusnya kita kan saling membantu.”
“Tapi tidak dengan ini!”ucap Galang setengah berteriak.
“Kalau penyakit maag ku tidak  kambuh, aku tidak akan memintamu seperti ini”ucap Gilang menjelaskan.
“Ayolah, kumohon saudaraku”
“Galang, bantulah adikmu sesekali. Kasihan dia.”pinta Mama yang sudah ada dibalik pintu kerja Galang. Galang melengos untuk sekian kalinya.
“Kenapa bukan Mang Jaka atau siapa kek, rekan kerjamu? Atau mungkin dengan paket kilat? Kenapa harus aku?”Galang mencoba mengelak untuk sekian kalinya.
“Lagian aku juga heran, Kenapa sich pelangganmu itu menyuruh untuk mengantarkan pesanannya malam- malam begini. Buat orang susah aja”tambahnya.
“Aduh Galang, mana ku tahu, yang jelas aku dapat dua kali lipat bayarannya. Lagian kamu lupa ya. Kalau Mang Jaka itu masih baru di Jogja ini. Lagipula dia itu tukang kebun bukan tukang sopir jadi mana mugkin dia tahu jalanan daerah sini. Trus yang kedua semua rekan kerjaku sudah pada pulang kerumah masing- masing. Kamu inget sekarang jam berapa? Jam sebelas malam. Mana mungkin aku menyuruh mereka untuk melakukan hal ini. Lalu yang ketiga kalau aku paketin yang ada jadinya nyampenya besok pagi plus semua paketan sudah tutup dari jam 8 tadi. Dan yang terakhir,…”
“STOP,..oke aku bantu kamu, tapi ini untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya!”tegas Galang membuat Gilang tersenyum lebar.
“Waah, beneran, Lang. makasih ya. Makasih Kakakku yang paling ganteng”ucap Gilang senang sambil mencoba  memeluk Galang.
“Hei,.. apa- apaan ini. Jangan coba- coba kamu melakukannya sama aku! aku masih normal tahu”ucap Galang emosi.
“Hehe,… maaf dech”sahut Gilang.

000

Arenz merebahkan tubuhnya di sofa tidur kamarnya. Pikirannya melayang membayangkan kejadian yang dialaminya sehari tadi. Dia bertemu tiga cowok dalam satu hari. Tiga cowok yang memiliki tiga sifat yang berbeda. Tiga cowok yang memiliki satu kesamaan yang sama. Tiga cowok yang tiba- tiba datang dalam kehidupannya dengan cara yang berbeda. Arenz tak habis fikir dengan semua ini. Kenapa hal ini bisa terjadi padanya? Ia tidak tahu dengan apa yang direncanakan yang maha kuasa padanya kali ini. Arenz menghembuskan nafasnya berat.
“Tok,..tok,..tok,..”ketukan pintu khas bunda.
“Arenz, apakah kamu sudah tidur, nak?”tanya Bunda dari balik pintu. Mendengar hal itu segera Arenz bangun dari tempat tidurnya.
“Ngga’ kok, Bun. Arenz belum tidur.”
Sejurus kemudian pintu terbuka muncul kedua orangtuanya dari balik pintu.
“Ayah Bunda, ada apa?”
“Ehm, Ayah punya sesuatu buat kamu”ucap Ayah sambil menghampiri Arenz yang diikuti bunda.
“Apa itu, Yah?”
“Ehm, coba kamu lihat di depan”
“Di depan?”dengan rasa penasaran yang membuncah Arenz berlari keluar dari kamarnya. Ia menuruni tangga dengan tergesa- gesa dan membuka pintu rumahnya dengan tergesa- gesa. Saat pintu terbuka ia tampak kaget setengah mati seorang cowok tengah berdiri tepat didepannya. Dan dia adalah cowok es itu.
“Kamu,..”ucap Arenz bingung dengan kedatangan cowok yang tak kalah kagetnya dengan Arenz.
“Kamu”ucap Galang sama kagetnya.
“Ngapain kamu kesini malam- malam? Lagian kamu tahu rumahku dari mana?”tanya Arenz tanpa henti.
Galang melengos, ia buru- buru menutupi wajahnya dengan topi.
“Gimana Arenz? Kamu suka nak dengan motor baru kamu?”tanya Ayah yang sudah ada dibelakangnya.
“Hah, motor baru?”ucap Arenz tambah bingung.
“Iya, Ayah beliin motor baru buat kamu. Kamu suka, kan?”tanya Ayah sambil berdiri disampingnya. Arenz segera mencari motor yang dikatakan Ayahnya. Tampak sebuah motor tergeletak di teras rumahnya.
“Oh, iya. Bagus banget, Yah. Makasih ya”ucap Arenz sambil melihat motor barunya.
“Makasih ya, Yah. Motor barunya. Aku kira tadi Ayah mindahin gunung es  ke sini”ucap Arenz sambil memandang kea rah Galang.
“Gunung es, ada ada aja kamu, Renz.”
“Oh, iya. Terima kasih ya, udah mau nganterin malam- malam begini”ucap ayah pada Galang. Galang tersenyum tipis menanggapinya.
“Saya pamit”tambahnya.
“Oke,..”
Segera Galang pergi dari hadapan keluarga Arenz. Mobilnya pun melaju kencang meninggalkan pekarangan rumah. Gilang, awas kau!!!! Teriak Galang dalam hati.

000

Malam semakin larut, udara dingin pun semakin terasa menyerbak merasuki tubuh Arenz yang tengah duduk di atas balkon depan kamarnya. Sesekali ia meminum teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya.
“Cowok itu sebenarnya siapa sich?”tanya Arenz pada dirinya sendiri.
“Akhir- akhir ini aku sering banget ketemu dia, sehari ini aja udah dua kali ketemu. Udah gitu ada lagi yang mirip sama dia…. Aduh, kenapa aku harus mikirin dia sich, kenal aja ngga, apalagi tahu namanya. Eh, tapi tatapan dia hampir sama seperti Ryan. Dan aku ngerasa seperti udah kenal mata itu lama. Aduh, kenapa sich dia selalu pakai topi dan handband di tangan kanannya. Seperti ada yang disembunyiin dech.”
“Aduh, kenapa juga aku harus mikirin itu”ucap Arenz  bingung pada dirinya sendiri.
“Arenz, kamu belum tidur, nak?”tanya Bunda tiba- tiba muncul dibelakangnya.
“Eh, Bunda. Iya nih belum bisa tidur”jawab Arenz.
“Tidur dong, udah malem nih. Lihat tuch jam berapa? Udah hampir jam satu malam kan? Dan besok kamu kuliah”
Arenz tersenyum mendengarnya.
“Iya, Bunda”sahutnya manja.
“Bunda, Arenz mau nanya sesuatu boleh ngga’?”
“Tentu, mau tanya apa, nak?”
“Ehm, sebentar”ucap Arenz sambil beranjak dari duduknya dan masuk kedalam rumah. Beberapa saat kemudian ia kembali datang dengan membawa sebuah kotak. Tepatnya kotak pemberian opanya dulu.
“Lihat dech, Bunda” Secara perlahan dibukanya kotak itu, sedangkan Bunda menunggu apa yang diperlihatkan putrinya sambil mengerutkan keningnya.
“Ehm, Bunda. Giok ini adalah pemberian almarhum Opa sebagai kado warisan dari Oma”ucap Arenz sambil menyerahkan giok itu pada Bundanya.
“Giok ini indah sekali, Renz. Tapi, kok Cuma setengah hati bentuknya? Yang satu lagi mana? Ngga’ ada?”tanya Bunda terpukau melihat keelokan giok itu.
“Giok ini pada awalnya memiliki pasangan yang jika nanti disatukan akan menjadi sebuah hati. Konon giok ini adalah sebuah lambang kasih sayang, bisa juga diartikan sebuah kesetian cinta. Lalu saat itu Oma membelinya untukku. Beliau percaya bahwa giok ini nantinya akan membawaku pada jodohku. Giok ini nantinya yang akan mempertemukanku dengannya. Kedengarannya mungkin sangat konyol. Tapi, entah kenapa Arenz percaya banget akan hal itu. Menurut Bunda, Arenz harus bagaimana?”
Bunda menatap Arenz lembut. Dibelainya rambut Arenz yang terurai panjang.
“Kamu tahu, nak. Bahwa jodoh itu ditangan Tuhan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Karena itulah kebesaran Allah. Mungkin kita bisa mengartikan giok ini sebagai permata indah yang konon dapat menemukan atau membawa kita pada jodoh kita nantinya. Tapi, semua itu kembali kepada yang Maha Kuasa. Mungkin kita dapat memposisikan giok itu sebagai perantara. Jikalau giok ini  dapat membawa kita pada jodoh adalah atas kuasa Allah. Jika tidak ya tidak.”
Arenz mengangguk mengerti penjelasan Bundanya.
“Iya, Bunda. Sekarang Arenz mengerti apa yang harus Arenz lakukan.”
“Baguslah kalau begitu. Sekarang tidurlah. Sudah malam”
“Baik, Bunda.”
Bunda segera pergi ketika Arenz telah merebahkan tubuhnya di sofa tidur.

000

Arenz terbangun dari tidurnya, keringat dingin merajai seluruh tubuhnya membuat baju tidurnya basah. jantungnya pun berdegup kencang membuatnya terasa sakit. Nafasnya yang naik turun membuatnya sulit bernafas. Arenz mencoba mengontrol kembali nafasnya dengan meminum segelas air putih. Beberapa saat kemudian ia merasa lebih baik. Diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Ia pun menyadari serpihan gioknya masih dalam genggamannya.
Ya Allah, ada apa denganku? Apa yang sebenarnya tengah terjadi padaku? Kenapa hal ini sering terjadi padaku?ucapnya dalam hati.
Arenz teringat akan mimpi yang baru saja dialaminya. Dalam mimpi itu ia melihat wajah seorang cowok yang terlihat kabur dan tidak jelas. Cowok itu mengenakan sesuatu di atas kepalanya membuatnya semakin terlihat gelap. Saat cowok itu tengah berjalan ke arahnya bayangannya tampak semakin jelas. Cowok itu tersenyum ke arahnya. Tapi, tiba- tiba ia terbangun dan melihat kondisinya yang buruk.
Mimpi apa aku sebenarnya? Kenapa setiap mimpi ini terjadi tubuhku mengalami reaksi yang aneh? Siapa sebenarnya cowok dalam mimpi itu? Pikirnya bingung.

000




Aku tersudut pada suatu titik
Sebuah kegelapan yang tampak padaku
Tak ada secercah cahaya yang membuatku mengerti
Hanya dengungan suara yang membuatku pilu
Ku coba untuk bangun dan berdiri
Mencoba mencari celah untuk seberkas cahaya
Namun, aku hanya dapat berdiri tanpa menemukan suatu apapun.


000

Ryan memasukkan semua buku- buku kuliahnya dalam tas. Hari ini tidak ada jadwal manggung untuk pertunjukkannya. Jadi, ia ingin menghabiskan waktunya seharian untuk belajar. Maklum mahasiswa akuntansi haruslah bisa mengatur waktu selain mengatur keuangannya. Kadang ia tersenyum sendiri saat orang- orang mengiranya adalah seorang mahasiswa seni padahal ia seorang mahasiswa seni akutansi. Kebanyakan temannya adalah anak seni, seperti Suci temannya sejak SMA. Tapi, tak menutup kemungkinan bahwa ia juga memiliki banyak teman anak akutansi.
Handphone berdering membuat Ryan menghentikan sarapannya.
“Assalamualaikum, kenapa?”
“Oh,,, tapi hari ini aku full kuliahnya”
“Ehm, iya dech nanti aku sempatin”
“Jam makan siang aja yach?”
“Oke, baayyy”hubungan telpon terputus, Ryan kembali meletakkan Hpnya dan melanjutkan sarapannya yang tertunda.


Teriknya matahari tak membuat Arenz mengurungkan niatnya untuk kuliah, hari ini ia hanya memiliki kelas siang tepatnya jam ketiga. Ia segera memarkir motor barunya di tempat yang aman. Kali ini ia mengenakan celana panjang putih dengan atasan kemeja panjang warna merah membuatnya semakin terlihat cantik. Apalagi ditambah rambutnya yang terikat rapi di atas kepalanya.
Arenz melirik jam tangannya, masih tersisa waktu sepuluh menit untuk berjalan ke kelasnya. Dengan langkah santai ia menaiki tangga dan berjalan menuju kelasnya. Buku besarnya pun telah tertenteng di lengan tangannya.
Satu lantai telah terlewati, tinggal dua lantai lagi. Pikirnya sambil terus berjalan. satu hal yang masih menggantung dalam pikirannya, yaitu tentang mimpi anehnya. Betapa ia tidak mengerti tentang maksud mimpi itu. Hal itu membuatnya menjadi seorang pemikir berat. Tiba- tiba bukunya terjatuh dan ia pun tersadar dari lamunannya.
“Makasih”ucapnya ketika buku- bukunya diambilkan oleh orang lain.
“Makanya lain kali jangan melamun lagi”sahut cowok itu yang kemudian berdiri dan menyerahkan buku- bukunya. Arenz terkejut melihat orang di depannya yang tak lain adalah Ryan.
“Kak Ryan, Ngapain di sini?”tanyanya.
Ryan tersenyum mendengarnya.
“Aku ada janji sama temanku. Tadinya aku mau menyapamu tapi melihatmu jalan sambil melamun membuatku mengurungkan niatku dan akhirnya kau tersadar juga dari lamunanmu. Memangnya sedang mikirin apa sich?”
“Ah, ngga’ apa- apa kok. Ngga’ penting”
Arenz memperhatikan penampilan Ryan hari ini. Ia memakai celana jeans dengan atasan kemeja biru dan rambutnya tertutupi oleh topi.
“Kamu suka pakai topi ya?”tanya Arenz.
“Ngga’ juga sich, cuma kalau lagi pengen aja”
“Oh, gitu”
“Oh iya, Renz. Besok datang ya di festival music”
“Wah, boleh tuch. Dimana tempatnya?”
“Di Mandala Krida”
“Oke, aku akan datang”arenz melirik jam tangannya.
“Sepertinya aku harus ke kelas. Aku tinggal ngga’ apa- apa kan?”
“Ngga’ apa- apa kok, lagian aku juga harus balik ke kampus.”
“Sampai jumpa”ucap Arenz sambil berjalan meninggalkan Ryan.
Ryan memandangi Arenz yang telah pergi dan tak terlihat lagi. Ia pun tersenyum.
“Hei, siapa tuch? Pacar baru ya? Tumben seorang Ryan bisa secair itu menghadapi cewek yang satu ini. Pake senyum- senyum lagi.”tanya Andi tiba-tiba yang sudah berada disampingnya.
“Bukan kok, enak saja. Memangnya  kamu kenal sama dia?”tanya Ryan.
“Lho kok, balik nanya. Aku memang tahu dia tapi ngga’ kenal. Kamu tahu ngga’ diam- diam banyak lho yang suka sama dia. Jadi kalau kamu suka langsung tunjukin keburu entar diambil orang”
“Ah, kamu ini ada- ada aja. Ayo antar aku ke parkiran!”
“Baiklah, Boss”
000

Kenapa sich akuntansi selalu membuatku kesal?? Kenapa sedikitpun aku tidak bisa mengerjakannya?? Ada apa sebenarnya denganku?? Gerutu Arenz dalam hati sambil membanting pensilnya ke lantai. Matanya terarah pada seorang teman yang duduk di depannya, tampak sekali ia begitu mudah mengerjakan soal- soal yang tengah dikerjakannya. Kenapa aku tidak bisa seperti dia??
“Arenz, kamu kenapa sich? Kok diem aja?”tanya Tasya. Arenz tersenyum kikuk.
“Ngga’ apa- apa, Cuma lagi kangen ma kimia”jawab Arenz asal yang ternyata membuat Sansan memperhatikannya.
“Tenang aja, nanti aku pasti bantu kamu”ucapnya membuat Arenz tersenyum.
“Makasih, San. Kamu baik dech”
“Aku kan temanmu, Renz. Jangan lupa itu!” keduanya pun tersenyum.

Sekeluarnya dari kelas Arenz melirik jam tangannya. Ia pun  tengah mempertimbangkan sesuatu. Akhirnya ia pun melangkahkan kakinya pergi.
“Renz, mau kemana?” tanya Tasya yang melihat Arenz berjalan berlawanan dengannya.
“Ehm, pengen ke perpus bentar. Mau ikut?” tanya Arenz balik.
“Ngga’ ah, kapan- kapan aja. Hehe,,”jawab Tasya terkekeh.
“Huu, sukanya,,”timpal Arenz. Ia pun kembali melangkahkan kakinya. Tapi, baru saja melangkah Tasya kembali memanggilnya yang membuatnya kembali membalikkan tubuhnya.
“Oh iya, Renz”
“Apa lagi?”
“Besok ada festival music di Mandala. Kamu mau ke sana ngga’? kalo iya, bareng ya”
“Oke,,”

Arenz membolak- balik buku akuntansi. Pikirannya terpusat pada angka- angka di depannya. Tangannya pun tak lepas dari pensil dan kalkulator. Cukup lama Arenz bertekur pada pekerjaannya saat ini sampai- sampai ia tak sadar akan waktu yang sudah menunjukkan pukul empat sore.
Seorang petugas perpustakaan menghampirinya.
“Permisi, sudah saatnya tutup”
“Oh iya, Pak” Arenz segera mengemasi buku- bukunya.
“Lumayanlah, hari ini satu soal terselesaikan”ucapnya lirih.
“Arenz,,”terdengar seseorang memanggilnya. Ia pun menoleh dan sedikit terkejut ketika mendapati Gilang yang tiba- tiba ada di hadapannya.
“Gilang, ngapain disini?”tanya Arenz sedikit terkejut. Tapi, kemudian ia tersadar saat melihat sosok perempuan yang berdiri tak jauh dari Gilang.
“Ehm, sepertinya,,,,”goda Arenz membuat Gilang salah tingkah.
“Ah, kamu ada- ada aja sich, Renz. Jadi malu,,”
“Haha,, “
“Udah dari tadi ya?”tanya Arenz.
“He’eh, lumayan sich.”
“Kok, aku ngga’ liat kalian ya”
“Gimana mau liat kalo sedari tadi kamu ngga lepas sama bukumu”
“Oh, Ya Allah, maaf dech”
“Ngga’ pa pa asalkan,,,”
“Asalkan apa?”
“Ehm, nanti aja dech. Yang penting kamu harus ingat kalo kamu punya utang ma aku!”
“Ah, kamu ini,, okelah”
“Yawdah, pulang dulu ya.”
“Oke,,, hati- hati ya”
“Yup,,”

bersaaammbuuunggggggg.................

Senin, 28 Mei 2012

novel jilid 1

#ABSTRAK                                                ARENZ bag 4



Makan di Lesehan Kenari adalah favoritnya. Makanannya yang selalu menggoda selera membuat Arenz tak bisa jika tidak menikmatinya setiap hari apalagi nasi goreng telurnya sangat menggoda selera. Arenz mengambil tempat duduk dibawah pohon. Ia menunggu pesanannya datang sambil menikmati keadaan sekitarnya. Siang ini lesehan tidak terlalu ramai karena memang biasanya lesehan ini ramai menjelang sore sampai malam. Tak berapa lama kemudian pesanannya pun datang. Mbak Sarti yang mengantarkannya. Arenz tersenyum melihat nasi goreng kesukaannya sudah ada di depan matanya. Hanya tinggal tunggu waktu menyantapnya.
“Ini nasi goreng special kesukaan mbak Arenz sudah siap”
“Makasih Mbak”
“Oh ya, tumben Mbak Arenz ke sininya siang? Biasanya agak sorean?”
“Hehe,.. iya neh. Habis sudah keburu laper Mbak”
“Haha,… Mbak Arenz ini bisa aja. Yaudah Mbak, selamat menikmati. Saya ke belakang dulu, ya”
“Oke”
Sepeninggal Mbak Sarti pergi, Arenz pun langsung melahap makanannya.

000

Sosok itu berdiri mematung. Tatapannya penuh kebencian memandang cakrawala didepannya. Disampingnya terlihat seorang cewek tengah menangis tersedu-sedu. Ia berbalik tanpa memandang cewek itu.
“Tangisan buaya kamu, tidak akan mengubah keputusanku”jelasnya dingin.
“Aku mohon, maafkan aku. Apakah tidak ada lagi rasa sayangmu untukku?Aku masih sangat menyanyangimu”
“Sayangnya rasa itu telah berubah menjadi kebencian untukmu. Tapi, aku harus berterima kasih padamu karena kamu telah membukakan mataku tentang semua ini.”
“Aku mohon, maafkan aku. Aku khilaf saat itu”akunya membuat cowok itu tersenyum sinis.
“Oh ya, khilafkah?Sudah berapa kali kamu melakukannya?Dibayar berapa kamu sampai kamu mau melakukannya?HAH!!!Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu karena aku menghormatimu sebagai perempuan. Tapi, apa yang kamu lakukan dibelakangku?Pengkhianatan!!!Kamu menunjukkan bahwa kamu tak pantas untuk dihormati bahkan dihargai”jelasnya. Cowok itu mengambil biolanya kemudian pergi dengan ninjanya. Sedangkan cewek yang disampingnya hanya menangis dan terus menangis.
Arenz terpaku melihatnya. Kejadian itu benar-benar didepannya. Baru kali ini ia melihat kejadian itu. Dengan ragu ia mendekati cewek itu.
“Jika kamu ingin meneruskan tangismu, pergilah!Jangan disini atau semua orang akan melihatmu!”ucapnya membuat cewek itu menghentikan tangisnya. Cewek itu pun tersadar ketika semua orang berkerumun melihatnya. Ia pun langsung lari menembus kerumunan itu yang diikuti seruan dari kerumunan orang itu. Arenz menghela nafasnya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.
Hari ini ia ingin melihat pameran yang dilihatnya kemarin di spanduk. Ia pun menyetop taksi karena ia tidak mengetahui daerah yang tertera di spanduk itu. Taksi itu pun langsung berjalan menuju gedung yang yang dimaksud.
“Oh, mb’nya mau lihat pameran ya mb’?”tanya sopir taksi itu.
“Iya nih, pak”
“Saya tadi juga kesana lho mb’. Nganterin pelanggan yang juga kesana. Kayaknya sih pameran kali ini berbeda deh mb’ dari biasanya, orang biasanya pamerannya diadainnya ngga’ di situ.”
Jogja Expo Center, maksud bapak?”
“Iya mb’, biasanya itu  di gedung kesenian atau di moseum. Lha ini malah di JEC”Arenz mengangguk mengerti karena ia memang belum mengetahui semuanya tentang Jogja.
“Bapak kerja sebagai sopir taksi sih berapa tahun?”tanyanya.
“Sudah 10 tahun ini, mb’”jawab sopir itu.
“Oh,.. berarti sudah lama banget ya, pak?”
“Ya, kira-kira sich begitu, mb’”
“Bapak, ngga’ bosen melakoni pekerjaan sebagai sopir taksi?”
Sopir itu tertawa mendengar pertanyaan Arenz.
“Semua orang pasti memiliki rasa bosan dalam melakoni pekerjaannya. Tinggal kita pintar-pintar aja mengatasinya”jelas sopir itu membuat Arenz terpukau dengan jawaban yang diberikannya. Ternyata, walaupun hanya sopir taksi tidak membuatnya menjadi orang yang berpikiran sempit.
“Yah, walaupun saya cuma sebagai sopir taksi alhamdulillah saya bisa menyekolahkan anak saya sampai kuliah”
“Memang anak bapak kuliah dimana, pak?” tanya Arenz penasaran. Sopir itu menyebutkan sebuah universitas.
“Wah, hebat dong!Universitas kebanggaan saya itu pak. Anak bapak di jurusan apa pak?”tanya Arenz menggebu-gebu.
“Di kedokteran”
“Wah, benar-benar hebat!”
“Saya itu bersyukur sekali lho mb’ anak saya sampai diterima di sana. Saya dulu malah tidak sempat membayangkan menyekolahkan anak saya sampai kuliah. Tapi, berkat kegigihan anak saya. Dia berhasil masuk melalui jalur beasiswa tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun”cerita sopir itu menggebu-gebu. Arenz tersenyum melihat ekspresi sopir itu yang begitu semangat menceritakan kisah hidupnya. Air mata disudut mata sopir itu pun jelas menggambarkan kebahagiannya.
“Bapak, pasti bangga sekali, ya”timpal Arenz.
“Pastinya mb’, saya sampai tidak tahu harus berbuat apa waktu mendengar berita itu. saya hanya bisa bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Yang Maha Kuasa.”
“Mb’ sendiri kuliah dimana?”
“Di Akutansi, pak”
“Wah, Ryan itu mb’. Akhir-akhir ini kan pekerjaan yang melibatkan sarjana akuntansi cukup banyak. Saya doakan mb’ sukses nantinya”
Arenz terharu mendengarnya.
“Amin. Makasih pak atas doanya”
“Sama-sama mb’”
Arenz termenung. Ia memejamkan matanya beberapa saat. Terima kasih, pak. Bapak telah memberiku sepercik harapan  untuk hal ini. Batin Arenz.
Sopir itu menghentikan taksinya. Ia menoleh kebelakang dengan senyum khasnya.
“Sudah sampai, mb’”Arenz tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum.

Jogja Expo Center merupakan gedung dengan halaman yang cukup luas. Halamannya pun dibuat sedemikian rupa agar terlihat indah dan rapi. Gedung itu telah dipenuhi banyak orang rupanya. Kebanyakan yang menghadiri pameran adalah para seniman dari berbagai daerah.  Terlihat dari cara mereka mengungkapkan gaya bahasa mereka. Arenz menatap gedung itu. spanduk yang ia lihat kemarin pun terpasang juga di sepanjang jalan. Sepertinya ini memang pameran besar-besaran. Pikirnya.
Arenz melangkahkan kakinya memasuki gedung itu. di depan pintu terpasang sebuah denah lokasi pameran karya seni itu. Sederet seniman sastra membuka stand di sebelah timur, itu pun masih terbagi menjadi beberapa stand. Seperti sastra puisi, cerpen, novel, syair dan lainnya. Kemudian diikuti oleh stand-stand yang memamerkan karya-karya lukisan mereka. ada  juga yang memainkan drama teater disebuah panggung kecil ditengah-tengah. Kemudian di ujung sebelah barat untuk para seniman musik. Mereka memperlihatkan keahlian mereka dalam bermain musik dengan memainkan beberapa alat musik. Ada juga yang bernyanyi, menciptakan syair baru secara spontan ditengah keramaian. Sehingga gemuruh tepuk tangan terdengar dari segala arah. Ia tersadar ternyata yang menghadiri pameran ini tidak hanya para seniman tapi juga puluhan pelajar yang bersorak gembira melihat tontonan mereka masing-masing. Mereka terlihat karena memakai seragam sekolah mereka. Ada juga beberapa masyarakat umum yang tampak antusias menghadiri pameran ini. Arenz tersenyum melihatnya.
Arenz memperhatikan seorang seniman yang tengah membaca sebuah puisi. Ia mencoba memahami makna puisi yang dibacakan oleh seniman itu. setelah itu ia pun berkeliling melihat pameran-pameran yang lain. Arenz menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memainkan sebuah biola. Lagu yang dimainkan seniman itu langsung menyentuh hatinya begitu ia mendengarkan. Sebuah lagu dengan nada kesedihan yang begitu sempurna menyedot otaknya untuk berhenti berfikir dan menjadikannya menikmati alunan nada itu. Arenz seperti ikut merasakan apa yang tengah dituangkan dalam lagu itu. Sepertinya seniman itu tengah menuangkan perasaannya dan berbaur dalam satu alunan nada yang dimainkannya. Tepuk tangan terdengar gemuruh di sekitar stand itu. Ternyata seniman biola itu mampu menyedot banyak pengunjung dan mendapatkan pujian dari penonton. Arenz pun memberikan tepuk tangannya pada pemain biola. Tapi, kemudian ia tersadar.
“Dia,..?”pikirnya tak percaya melihat apa yang dilihat didepannya.

000

Arenz mencari keberadaan cowok biola itu. Tiba-tiba cowok itu menghilang ditengah-tengah  gemuruh tepuk tangan. Mungkinkah permainannya menggambarkan kejadian tadi pagi?Ah,.. tapi itu bukan urusanku. Simpul Arenz kemudian. Ia pun keluar dari kerumunan. Mendingan lihat yang lain. Pikirnya. Tapi, tiba-tiba perutnya mengkerut dan mengeluarkan bunyi membuat Arenz merubah niatnya. Ia pun memutuskan untuk mencari tempat makan terlebih dahulu.
Arenz memasuki warung bakso dipinggir jalan tak jauh dari JEC. Setelah memesan bakso kesukaannya ia pun mencari tempat untuk duduk melepas lelahnya. Tidak terasa ia telah berdiri berjam-jam di pameran tadi. Sambil menunggu pesanannya ia mengambil buku diarynya. Belum sempat ia membukanya, pesanannya telah datang. Ia pun memasukkan kembali buku diarynya.
Seseorang membuatnya menghentikan makannya ketika ia mendengar perkataannya. Matanya pun beralih pada sosok itu. seorang cowok dengan kemeja biru tua yang tengah memesan. Sesaat ia nampak berfikir tapi, kemudian ia pun melanjutkan kembali makannya. Tapi, Arenz kembali menghentikan makannya saat seseorang menyapanya.
“Permisi, boleh saya duduk disini?”tanya seorang cowok dengan logat jawanya. Arenz menengadahkan kepalanya. Ternyata cowok berkemeja biru itu yang menyapanya. Ia pun tersenyum mempersilakan cowok itu duduk.
“Mb’ ini ngga’ pake micin tho mb’?”tanya cowok itu kepada pelayan.
“Iya mas, bakso ini sesuai pesanan masnya kok”jawab pelayan itu.
“Ryan, makasih kalau begitu”
 Arenz telah mengahabiskan makanannya. Ia menoleh ke arah cowok disampingnya yang tengah sibuk mencampur kecap dan sambal kedalam baksonya.
“Mas, dokter ya?”tanya Arenz tiba-tiba membuat cowok itu menoleh heran.
“Kok mb’ tw?”tanyanya penuh selidik. Arenz tersenyum.
“Terlihat dari cara mas memesan bakso”jawab Arenz yang disambut senyum cowok itu.
“Yah, tepatnya baru mau mb’ soalnya belum jadi sarjana”jelas cowok itu.
“Oh ya, kenalan dulu mb’ nama saya Bowo”ucapnya.
“Arenza”
“Oh,.. mb’ Arenza”
“Ngga usah pake mb’ soalnya sepertinya saya lebih muda dari masnya”cowok itu tertawa mendengar ucapan polos Arenz.
“Haha,.. iya dech Arenza”ucap Bowo membuat Arenz tertawa mendengar logat jawa Bowo yang begitu kental.
“Kita ngobrol sambil aku makan ya””Kamu bukan asli jogja, ya?soalnya gaya bicaramu beda, Arenza”tebak Bowo.
“Kata siapa aku bukan orang asli Jogja. Ibuku asli jawa sedangkan ayahku asli sunda”Sanggah Arenz.
“Oh, berarti kamu keturunan Jawa-sunda tho. Pantesan bentuk-bentuk wajah kamu itu membentuk dua daerah itu”canda Bowo.
“Yee, memangnya aku pulau apa”keduanya pun tertawa.
“Kamu lucu juga ya…”“Oh ya, dari mana kamu menyimpulkan bahwa aku memesan bakso ngga’ pake penyedap rasa itu menandakan kalau aku seorang dokter?”tanya Bowo. Arenz terdiam beberapa saat.
“Ehm, … nebak aja. Mungkin untuk gaya hidup sehat”tebak Arenz tersenyum kecut.
“Exactly”sahut Bowo.
“Temenku aja ya, saking sukanya sama bakso sampai-sampai dia belajar untuk membuat bakso yang tanpa penyedap rasa. dan hasilnya pun tidak kalah dengan bakso yang kita makan. Kapan-kapan dech aku ajak kamu ke tempatnya untuk mencicipi masakannya. Dijamin mak nyos!!Tapi, Itu aja kalau dia lagi buat, hehe …”Arenz tersenyum.
“Tapi, karena aku tidak sehebat dia dalam memasak. Aku putuskan kalau aku beli bakso tanpa micin. Oh ya, kamu sudah kuliah? di jurusan apa?”tanyanya
“Akuntansi”jawab Arenz pendek.
“Oh pantes, mukamu itu kayak ada perkaliannya.”canda Bowo. Arenz tertawa mendengarnya.
“Ada-ada aja”sahut Arenz.
“Oh ya, kata temenku itu kalau kita melakukan gaya hidup sehat menjadikan kita tahan banting. Maksudnya kita dapat menjaga keseimbangan tubuh kita apabila ada hal-hal yang mengganggu kehidupan kita. Contohnya saja bila kita ada masalah. Seberapa besar pun badai menerjang kamu akan tetap berdiri di posisimu. Karena kamu memiliki pemikiran yang jernih dan berbeda dari orang lain.”Arenz merenungi ucapan Bowo. Sepertinya ia pernah mendengar hal itu tapi, dari siapa ya?. Pikirnya.
“Kata temenku juga yang terpenting adalah olah raga. Karena dengan olah raga akan membuatmu   menjadi lebih baik dalam menghadapi hari esok”ucap Bowo menggebu-gebu.
Seketika itu Arenz teringat sesuatu.
“Opa?”ucapnya lirih.
“Arenza, kamu ngga’ papa kan?”tanya Bowo yang melihat Arenz terdiam.
“Oh, ngga papa kok. Aku duluan ya. “
“Iya, hati-hati Arenza”Arenz beranjak dari duduknya. Ia segera ke kasir. Setelah membayar ia berjalan keluar. Tapi, sesaat ia membalikkan badannya waktu Bowo memanggilnya kembali.
“Arenza, sukses ya!”ucap Bowo membuat Arenz tersenyum.
“Makasih,”sahut Arenz tanpa mengeluarkan suara. Ia pun segera bergegas pergi.

000

Arenz membuka laci mejanya. Tampak sebuah kotak kecil keemasan bertengger didalamnya. Diambilnya kotak itu perlahan. Opa?.pikirnya.
Serpihan batu giok itu kini berada ditangannya. Digenggamnya serpihan itu dengan kuatnya. Terngiang-ngiang wajah opa dipikirannya. Karena genggamannya yang terlalu kuat, ia tidak menyadari bahwa ia telah menjatuhkan kotak itu. Saat ia akan mengambil kotak itu, ia melihat sesuatu dibalik bantalan kotak itu. Sebuah kertas yang terlipat cukup tebal dengan warna sama seperti kotak itu “keemasan”. Ia merasa asing dengan kertas itu. karena ia tidak pernah melihatnya. Ia memang tidak pernah membukanya sejak kematian opa. Dengan rasa penasaran yang membuncah. ia membukanya dengan cepat dan mulai membaca isi tulisan itu.

Untuk Arenz peri kecil Opa.
Mungkin saat kamu membaca tulisan ini, opa sudah tidak ada disisimu lagi, cucuku.
Tangan Arenz gemetar saat ia membaca tulisan Opa. Matanya mulai berkaca-kaca.
Opa ingin kembali memberimu selamat untuk kedua kalinya. Yang mungkin tidak bisa Opa ucapkan lagi nantinya. Selamat Ulang Tahun, cucuku. Semoga apa yang kau cita-citakan tercapai. Dan kau selalu berada dalam lindungan-Nya.
Maaf, jika Opa tidak memberitahukan kepadamu tentang penyakit jantung Opa yang kambuh beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya Bi Inah dan Joko sudah mengetahuinya sejak peristiwa itu. yaitu sejak Opa jatuh pingsan beberapa bulan yang lalu tepatnya saat Ayahmu kecelakaan. Sejak saat itu opa sering merasakan nyeri didada opa.  Opa sudah mencoba berobat ke kota sampai-sampai opa berbohong padamu bahwa opa harus pergi beberapa hari untuk urusan perkebunan. Tapi, sepertinya takdir berkata lain. Opa divonis penyakit jantung opa semakin parah dan harus segera dicangkok. Opa menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan seorang pendonor. Tapi, tak ada hasilnya. Akhirnya opa memutuskan untuk menghentikan pencarian itu. dan kembali dengan kehidupan opa. Opa bersyukur karena opa menjalani sisa hidup opa ditemani oleh seorang peri kecil bernama Arenza. Sosok orang yang selalu ceria dan semangat dalam menjalani hidupnya. Dia tetap tertawa walaupun sebenarnya ia menangis. Seorang cucu yang dapat membuat semua orang tersenyum padanya. Dialah kamu, Arenza. Sosok gadis yang merindukan sentuhan kasih sayang pada mulanya tapi kemudian tumbuh menjadi sosok seorang gadis yang selalu memberikan kasih sayangnya pada setiap orang agar mereka selalu tersenyum.
Opa tidak ingin membuatmu menjadi khawatir karena penyakit opa. Maka dari itu, opa tidak pernah memberitahumu tentang hal itu. Opa pun melarang keras Bi Inah ataupun Joko memberitahukan hal itu kepada orang tuamu apalagi padamu.
Opa sering mengajakmu untuk berolah raga karena opa tidak ingin kamu seperti opa. Opa tidak ingin kamu memiliki penyakit sama seperti opa. Opa ingin melihatmu selalu sehat. Opa selalu menekankan padamu untuk selalu berolah raga. Opa harap kamu tidak melupakan pesan opa untuk hal ini. Hahaha ….. tapi, opa jamin kamu pasti lupa. Ingatlah Arenz bahwa olah raga dapat membuatmu menjadi lebih baik dalam menghadapi hari esok! Karena akan membantu dalam menyeimbangkan kesehatan jasmani dan rohanimu.
Arenza, jagalah dengan baik serpihan giok pemberian omamu. Mungkin itu akan membawamu pada sosok yang akan menemanimu suatu saat nanti. Sosok yang akan menjadi suamimu. Opa yakin kamu akan mendapatkan seseorang yang memang pantas untuk gadis sebaik kamu. Dan ingat jangan lupa untuk memperjuangkan cita-citamu,  Bu dokter!
Opa yakin kamu pasti bisa. Dengan semangat dan ceriamu yang selalu tinggi. Kamu pasti bisa meraihnya!
Terimakasih cucuku karena kamu telah menjadi peri kecil opa. Dan kamu mampu membuat opa bangkit setelah kematian omamu.
Opa menyanyangimu, Arenza.

                                                        Dari opa yang selalu menyanyangimu


Air mata Arenz tak dapat lagi dibendung. Ia menangis sesenggukan dibawah ranjangnya. Pikirannya melayang entah kemana. Namun yang ada dalam benaknya saat ini adalah kerinduan. Kerinduan yang terpancar jelas dari sorot matanya. Ia rindu akan belaian opa yang begitu menyanyanginya. Lama Arenz duduk mematung. Tapi, perlahan-lahan Arenz beranjak dari duduknya. Serpihan giok itu masih digenggamnya. Ia pun kembali meletakkan serpihan itu ditempatnya.

000

bersammbuuungggg,,,,,,