Senin, 28 Mei 2012

novel jilid 1

#ABSTRAK                                                ARENZ bag 4



Makan di Lesehan Kenari adalah favoritnya. Makanannya yang selalu menggoda selera membuat Arenz tak bisa jika tidak menikmatinya setiap hari apalagi nasi goreng telurnya sangat menggoda selera. Arenz mengambil tempat duduk dibawah pohon. Ia menunggu pesanannya datang sambil menikmati keadaan sekitarnya. Siang ini lesehan tidak terlalu ramai karena memang biasanya lesehan ini ramai menjelang sore sampai malam. Tak berapa lama kemudian pesanannya pun datang. Mbak Sarti yang mengantarkannya. Arenz tersenyum melihat nasi goreng kesukaannya sudah ada di depan matanya. Hanya tinggal tunggu waktu menyantapnya.
“Ini nasi goreng special kesukaan mbak Arenz sudah siap”
“Makasih Mbak”
“Oh ya, tumben Mbak Arenz ke sininya siang? Biasanya agak sorean?”
“Hehe,.. iya neh. Habis sudah keburu laper Mbak”
“Haha,… Mbak Arenz ini bisa aja. Yaudah Mbak, selamat menikmati. Saya ke belakang dulu, ya”
“Oke”
Sepeninggal Mbak Sarti pergi, Arenz pun langsung melahap makanannya.

000

Sosok itu berdiri mematung. Tatapannya penuh kebencian memandang cakrawala didepannya. Disampingnya terlihat seorang cewek tengah menangis tersedu-sedu. Ia berbalik tanpa memandang cewek itu.
“Tangisan buaya kamu, tidak akan mengubah keputusanku”jelasnya dingin.
“Aku mohon, maafkan aku. Apakah tidak ada lagi rasa sayangmu untukku?Aku masih sangat menyanyangimu”
“Sayangnya rasa itu telah berubah menjadi kebencian untukmu. Tapi, aku harus berterima kasih padamu karena kamu telah membukakan mataku tentang semua ini.”
“Aku mohon, maafkan aku. Aku khilaf saat itu”akunya membuat cowok itu tersenyum sinis.
“Oh ya, khilafkah?Sudah berapa kali kamu melakukannya?Dibayar berapa kamu sampai kamu mau melakukannya?HAH!!!Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu karena aku menghormatimu sebagai perempuan. Tapi, apa yang kamu lakukan dibelakangku?Pengkhianatan!!!Kamu menunjukkan bahwa kamu tak pantas untuk dihormati bahkan dihargai”jelasnya. Cowok itu mengambil biolanya kemudian pergi dengan ninjanya. Sedangkan cewek yang disampingnya hanya menangis dan terus menangis.
Arenz terpaku melihatnya. Kejadian itu benar-benar didepannya. Baru kali ini ia melihat kejadian itu. Dengan ragu ia mendekati cewek itu.
“Jika kamu ingin meneruskan tangismu, pergilah!Jangan disini atau semua orang akan melihatmu!”ucapnya membuat cewek itu menghentikan tangisnya. Cewek itu pun tersadar ketika semua orang berkerumun melihatnya. Ia pun langsung lari menembus kerumunan itu yang diikuti seruan dari kerumunan orang itu. Arenz menghela nafasnya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.
Hari ini ia ingin melihat pameran yang dilihatnya kemarin di spanduk. Ia pun menyetop taksi karena ia tidak mengetahui daerah yang tertera di spanduk itu. Taksi itu pun langsung berjalan menuju gedung yang yang dimaksud.
“Oh, mb’nya mau lihat pameran ya mb’?”tanya sopir taksi itu.
“Iya nih, pak”
“Saya tadi juga kesana lho mb’. Nganterin pelanggan yang juga kesana. Kayaknya sih pameran kali ini berbeda deh mb’ dari biasanya, orang biasanya pamerannya diadainnya ngga’ di situ.”
Jogja Expo Center, maksud bapak?”
“Iya mb’, biasanya itu  di gedung kesenian atau di moseum. Lha ini malah di JEC”Arenz mengangguk mengerti karena ia memang belum mengetahui semuanya tentang Jogja.
“Bapak kerja sebagai sopir taksi sih berapa tahun?”tanyanya.
“Sudah 10 tahun ini, mb’”jawab sopir itu.
“Oh,.. berarti sudah lama banget ya, pak?”
“Ya, kira-kira sich begitu, mb’”
“Bapak, ngga’ bosen melakoni pekerjaan sebagai sopir taksi?”
Sopir itu tertawa mendengar pertanyaan Arenz.
“Semua orang pasti memiliki rasa bosan dalam melakoni pekerjaannya. Tinggal kita pintar-pintar aja mengatasinya”jelas sopir itu membuat Arenz terpukau dengan jawaban yang diberikannya. Ternyata, walaupun hanya sopir taksi tidak membuatnya menjadi orang yang berpikiran sempit.
“Yah, walaupun saya cuma sebagai sopir taksi alhamdulillah saya bisa menyekolahkan anak saya sampai kuliah”
“Memang anak bapak kuliah dimana, pak?” tanya Arenz penasaran. Sopir itu menyebutkan sebuah universitas.
“Wah, hebat dong!Universitas kebanggaan saya itu pak. Anak bapak di jurusan apa pak?”tanya Arenz menggebu-gebu.
“Di kedokteran”
“Wah, benar-benar hebat!”
“Saya itu bersyukur sekali lho mb’ anak saya sampai diterima di sana. Saya dulu malah tidak sempat membayangkan menyekolahkan anak saya sampai kuliah. Tapi, berkat kegigihan anak saya. Dia berhasil masuk melalui jalur beasiswa tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun”cerita sopir itu menggebu-gebu. Arenz tersenyum melihat ekspresi sopir itu yang begitu semangat menceritakan kisah hidupnya. Air mata disudut mata sopir itu pun jelas menggambarkan kebahagiannya.
“Bapak, pasti bangga sekali, ya”timpal Arenz.
“Pastinya mb’, saya sampai tidak tahu harus berbuat apa waktu mendengar berita itu. saya hanya bisa bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Yang Maha Kuasa.”
“Mb’ sendiri kuliah dimana?”
“Di Akutansi, pak”
“Wah, Ryan itu mb’. Akhir-akhir ini kan pekerjaan yang melibatkan sarjana akuntansi cukup banyak. Saya doakan mb’ sukses nantinya”
Arenz terharu mendengarnya.
“Amin. Makasih pak atas doanya”
“Sama-sama mb’”
Arenz termenung. Ia memejamkan matanya beberapa saat. Terima kasih, pak. Bapak telah memberiku sepercik harapan  untuk hal ini. Batin Arenz.
Sopir itu menghentikan taksinya. Ia menoleh kebelakang dengan senyum khasnya.
“Sudah sampai, mb’”Arenz tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum.

Jogja Expo Center merupakan gedung dengan halaman yang cukup luas. Halamannya pun dibuat sedemikian rupa agar terlihat indah dan rapi. Gedung itu telah dipenuhi banyak orang rupanya. Kebanyakan yang menghadiri pameran adalah para seniman dari berbagai daerah.  Terlihat dari cara mereka mengungkapkan gaya bahasa mereka. Arenz menatap gedung itu. spanduk yang ia lihat kemarin pun terpasang juga di sepanjang jalan. Sepertinya ini memang pameran besar-besaran. Pikirnya.
Arenz melangkahkan kakinya memasuki gedung itu. di depan pintu terpasang sebuah denah lokasi pameran karya seni itu. Sederet seniman sastra membuka stand di sebelah timur, itu pun masih terbagi menjadi beberapa stand. Seperti sastra puisi, cerpen, novel, syair dan lainnya. Kemudian diikuti oleh stand-stand yang memamerkan karya-karya lukisan mereka. ada  juga yang memainkan drama teater disebuah panggung kecil ditengah-tengah. Kemudian di ujung sebelah barat untuk para seniman musik. Mereka memperlihatkan keahlian mereka dalam bermain musik dengan memainkan beberapa alat musik. Ada juga yang bernyanyi, menciptakan syair baru secara spontan ditengah keramaian. Sehingga gemuruh tepuk tangan terdengar dari segala arah. Ia tersadar ternyata yang menghadiri pameran ini tidak hanya para seniman tapi juga puluhan pelajar yang bersorak gembira melihat tontonan mereka masing-masing. Mereka terlihat karena memakai seragam sekolah mereka. Ada juga beberapa masyarakat umum yang tampak antusias menghadiri pameran ini. Arenz tersenyum melihatnya.
Arenz memperhatikan seorang seniman yang tengah membaca sebuah puisi. Ia mencoba memahami makna puisi yang dibacakan oleh seniman itu. setelah itu ia pun berkeliling melihat pameran-pameran yang lain. Arenz menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memainkan sebuah biola. Lagu yang dimainkan seniman itu langsung menyentuh hatinya begitu ia mendengarkan. Sebuah lagu dengan nada kesedihan yang begitu sempurna menyedot otaknya untuk berhenti berfikir dan menjadikannya menikmati alunan nada itu. Arenz seperti ikut merasakan apa yang tengah dituangkan dalam lagu itu. Sepertinya seniman itu tengah menuangkan perasaannya dan berbaur dalam satu alunan nada yang dimainkannya. Tepuk tangan terdengar gemuruh di sekitar stand itu. Ternyata seniman biola itu mampu menyedot banyak pengunjung dan mendapatkan pujian dari penonton. Arenz pun memberikan tepuk tangannya pada pemain biola. Tapi, kemudian ia tersadar.
“Dia,..?”pikirnya tak percaya melihat apa yang dilihat didepannya.

000

Arenz mencari keberadaan cowok biola itu. Tiba-tiba cowok itu menghilang ditengah-tengah  gemuruh tepuk tangan. Mungkinkah permainannya menggambarkan kejadian tadi pagi?Ah,.. tapi itu bukan urusanku. Simpul Arenz kemudian. Ia pun keluar dari kerumunan. Mendingan lihat yang lain. Pikirnya. Tapi, tiba-tiba perutnya mengkerut dan mengeluarkan bunyi membuat Arenz merubah niatnya. Ia pun memutuskan untuk mencari tempat makan terlebih dahulu.
Arenz memasuki warung bakso dipinggir jalan tak jauh dari JEC. Setelah memesan bakso kesukaannya ia pun mencari tempat untuk duduk melepas lelahnya. Tidak terasa ia telah berdiri berjam-jam di pameran tadi. Sambil menunggu pesanannya ia mengambil buku diarynya. Belum sempat ia membukanya, pesanannya telah datang. Ia pun memasukkan kembali buku diarynya.
Seseorang membuatnya menghentikan makannya ketika ia mendengar perkataannya. Matanya pun beralih pada sosok itu. seorang cowok dengan kemeja biru tua yang tengah memesan. Sesaat ia nampak berfikir tapi, kemudian ia pun melanjutkan kembali makannya. Tapi, Arenz kembali menghentikan makannya saat seseorang menyapanya.
“Permisi, boleh saya duduk disini?”tanya seorang cowok dengan logat jawanya. Arenz menengadahkan kepalanya. Ternyata cowok berkemeja biru itu yang menyapanya. Ia pun tersenyum mempersilakan cowok itu duduk.
“Mb’ ini ngga’ pake micin tho mb’?”tanya cowok itu kepada pelayan.
“Iya mas, bakso ini sesuai pesanan masnya kok”jawab pelayan itu.
“Ryan, makasih kalau begitu”
 Arenz telah mengahabiskan makanannya. Ia menoleh ke arah cowok disampingnya yang tengah sibuk mencampur kecap dan sambal kedalam baksonya.
“Mas, dokter ya?”tanya Arenz tiba-tiba membuat cowok itu menoleh heran.
“Kok mb’ tw?”tanyanya penuh selidik. Arenz tersenyum.
“Terlihat dari cara mas memesan bakso”jawab Arenz yang disambut senyum cowok itu.
“Yah, tepatnya baru mau mb’ soalnya belum jadi sarjana”jelas cowok itu.
“Oh ya, kenalan dulu mb’ nama saya Bowo”ucapnya.
“Arenza”
“Oh,.. mb’ Arenza”
“Ngga usah pake mb’ soalnya sepertinya saya lebih muda dari masnya”cowok itu tertawa mendengar ucapan polos Arenz.
“Haha,.. iya dech Arenza”ucap Bowo membuat Arenz tertawa mendengar logat jawa Bowo yang begitu kental.
“Kita ngobrol sambil aku makan ya””Kamu bukan asli jogja, ya?soalnya gaya bicaramu beda, Arenza”tebak Bowo.
“Kata siapa aku bukan orang asli Jogja. Ibuku asli jawa sedangkan ayahku asli sunda”Sanggah Arenz.
“Oh, berarti kamu keturunan Jawa-sunda tho. Pantesan bentuk-bentuk wajah kamu itu membentuk dua daerah itu”canda Bowo.
“Yee, memangnya aku pulau apa”keduanya pun tertawa.
“Kamu lucu juga ya…”“Oh ya, dari mana kamu menyimpulkan bahwa aku memesan bakso ngga’ pake penyedap rasa itu menandakan kalau aku seorang dokter?”tanya Bowo. Arenz terdiam beberapa saat.
“Ehm, … nebak aja. Mungkin untuk gaya hidup sehat”tebak Arenz tersenyum kecut.
“Exactly”sahut Bowo.
“Temenku aja ya, saking sukanya sama bakso sampai-sampai dia belajar untuk membuat bakso yang tanpa penyedap rasa. dan hasilnya pun tidak kalah dengan bakso yang kita makan. Kapan-kapan dech aku ajak kamu ke tempatnya untuk mencicipi masakannya. Dijamin mak nyos!!Tapi, Itu aja kalau dia lagi buat, hehe …”Arenz tersenyum.
“Tapi, karena aku tidak sehebat dia dalam memasak. Aku putuskan kalau aku beli bakso tanpa micin. Oh ya, kamu sudah kuliah? di jurusan apa?”tanyanya
“Akuntansi”jawab Arenz pendek.
“Oh pantes, mukamu itu kayak ada perkaliannya.”canda Bowo. Arenz tertawa mendengarnya.
“Ada-ada aja”sahut Arenz.
“Oh ya, kata temenku itu kalau kita melakukan gaya hidup sehat menjadikan kita tahan banting. Maksudnya kita dapat menjaga keseimbangan tubuh kita apabila ada hal-hal yang mengganggu kehidupan kita. Contohnya saja bila kita ada masalah. Seberapa besar pun badai menerjang kamu akan tetap berdiri di posisimu. Karena kamu memiliki pemikiran yang jernih dan berbeda dari orang lain.”Arenz merenungi ucapan Bowo. Sepertinya ia pernah mendengar hal itu tapi, dari siapa ya?. Pikirnya.
“Kata temenku juga yang terpenting adalah olah raga. Karena dengan olah raga akan membuatmu   menjadi lebih baik dalam menghadapi hari esok”ucap Bowo menggebu-gebu.
Seketika itu Arenz teringat sesuatu.
“Opa?”ucapnya lirih.
“Arenza, kamu ngga’ papa kan?”tanya Bowo yang melihat Arenz terdiam.
“Oh, ngga papa kok. Aku duluan ya. “
“Iya, hati-hati Arenza”Arenz beranjak dari duduknya. Ia segera ke kasir. Setelah membayar ia berjalan keluar. Tapi, sesaat ia membalikkan badannya waktu Bowo memanggilnya kembali.
“Arenza, sukses ya!”ucap Bowo membuat Arenz tersenyum.
“Makasih,”sahut Arenz tanpa mengeluarkan suara. Ia pun segera bergegas pergi.

000

Arenz membuka laci mejanya. Tampak sebuah kotak kecil keemasan bertengger didalamnya. Diambilnya kotak itu perlahan. Opa?.pikirnya.
Serpihan batu giok itu kini berada ditangannya. Digenggamnya serpihan itu dengan kuatnya. Terngiang-ngiang wajah opa dipikirannya. Karena genggamannya yang terlalu kuat, ia tidak menyadari bahwa ia telah menjatuhkan kotak itu. Saat ia akan mengambil kotak itu, ia melihat sesuatu dibalik bantalan kotak itu. Sebuah kertas yang terlipat cukup tebal dengan warna sama seperti kotak itu “keemasan”. Ia merasa asing dengan kertas itu. karena ia tidak pernah melihatnya. Ia memang tidak pernah membukanya sejak kematian opa. Dengan rasa penasaran yang membuncah. ia membukanya dengan cepat dan mulai membaca isi tulisan itu.

Untuk Arenz peri kecil Opa.
Mungkin saat kamu membaca tulisan ini, opa sudah tidak ada disisimu lagi, cucuku.
Tangan Arenz gemetar saat ia membaca tulisan Opa. Matanya mulai berkaca-kaca.
Opa ingin kembali memberimu selamat untuk kedua kalinya. Yang mungkin tidak bisa Opa ucapkan lagi nantinya. Selamat Ulang Tahun, cucuku. Semoga apa yang kau cita-citakan tercapai. Dan kau selalu berada dalam lindungan-Nya.
Maaf, jika Opa tidak memberitahukan kepadamu tentang penyakit jantung Opa yang kambuh beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya Bi Inah dan Joko sudah mengetahuinya sejak peristiwa itu. yaitu sejak Opa jatuh pingsan beberapa bulan yang lalu tepatnya saat Ayahmu kecelakaan. Sejak saat itu opa sering merasakan nyeri didada opa.  Opa sudah mencoba berobat ke kota sampai-sampai opa berbohong padamu bahwa opa harus pergi beberapa hari untuk urusan perkebunan. Tapi, sepertinya takdir berkata lain. Opa divonis penyakit jantung opa semakin parah dan harus segera dicangkok. Opa menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan seorang pendonor. Tapi, tak ada hasilnya. Akhirnya opa memutuskan untuk menghentikan pencarian itu. dan kembali dengan kehidupan opa. Opa bersyukur karena opa menjalani sisa hidup opa ditemani oleh seorang peri kecil bernama Arenza. Sosok orang yang selalu ceria dan semangat dalam menjalani hidupnya. Dia tetap tertawa walaupun sebenarnya ia menangis. Seorang cucu yang dapat membuat semua orang tersenyum padanya. Dialah kamu, Arenza. Sosok gadis yang merindukan sentuhan kasih sayang pada mulanya tapi kemudian tumbuh menjadi sosok seorang gadis yang selalu memberikan kasih sayangnya pada setiap orang agar mereka selalu tersenyum.
Opa tidak ingin membuatmu menjadi khawatir karena penyakit opa. Maka dari itu, opa tidak pernah memberitahumu tentang hal itu. Opa pun melarang keras Bi Inah ataupun Joko memberitahukan hal itu kepada orang tuamu apalagi padamu.
Opa sering mengajakmu untuk berolah raga karena opa tidak ingin kamu seperti opa. Opa tidak ingin kamu memiliki penyakit sama seperti opa. Opa ingin melihatmu selalu sehat. Opa selalu menekankan padamu untuk selalu berolah raga. Opa harap kamu tidak melupakan pesan opa untuk hal ini. Hahaha ….. tapi, opa jamin kamu pasti lupa. Ingatlah Arenz bahwa olah raga dapat membuatmu menjadi lebih baik dalam menghadapi hari esok! Karena akan membantu dalam menyeimbangkan kesehatan jasmani dan rohanimu.
Arenza, jagalah dengan baik serpihan giok pemberian omamu. Mungkin itu akan membawamu pada sosok yang akan menemanimu suatu saat nanti. Sosok yang akan menjadi suamimu. Opa yakin kamu akan mendapatkan seseorang yang memang pantas untuk gadis sebaik kamu. Dan ingat jangan lupa untuk memperjuangkan cita-citamu,  Bu dokter!
Opa yakin kamu pasti bisa. Dengan semangat dan ceriamu yang selalu tinggi. Kamu pasti bisa meraihnya!
Terimakasih cucuku karena kamu telah menjadi peri kecil opa. Dan kamu mampu membuat opa bangkit setelah kematian omamu.
Opa menyanyangimu, Arenza.

                                                        Dari opa yang selalu menyanyangimu


Air mata Arenz tak dapat lagi dibendung. Ia menangis sesenggukan dibawah ranjangnya. Pikirannya melayang entah kemana. Namun yang ada dalam benaknya saat ini adalah kerinduan. Kerinduan yang terpancar jelas dari sorot matanya. Ia rindu akan belaian opa yang begitu menyanyanginya. Lama Arenz duduk mematung. Tapi, perlahan-lahan Arenz beranjak dari duduknya. Serpihan giok itu masih digenggamnya. Ia pun kembali meletakkan serpihan itu ditempatnya.

000

bersammbuuungggg,,,,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar