Jumat, 04 Mei 2012

novel jilid 1


   #ABSTRAK                                            "ARENZ" bag 1
“Non Arenz, bubur ayamnya sudah siap’’ ucap bibi sambil meletakkan semangkuk bubur di hadapan Arenz. Arenz membuka matanya perlahan, ia merapatkan kembali selimut ke tubuhnya. Ia tengah menikmati udara pagi sambil tiduran di kursi panjang yang terbuat dari rotan yang terletak di balkon depan kamarnya.
            “Lebih nikmat jika dimakan selagi hangat dan ini susunya, non”
            “Makasih, Bi”ucap Arenz sambil menguap lebar. Ia beranjak dari tidurnya tapi tetap membungkus tubuhnya dengan selimut.
            “Opa mana, Bi?”tanyanya.
            “Sepertinya di kebun soalnya sejak subuh tadi tuan sudah pergi sama mas Joko, non”
            “Oh,..”
            “Permisi, non. saya mau ke dapur dulu”pamit bibi yang dibalas dengan anggukan Arenz.
            Arenz mengikat rambut panjangnya, ia berjalan ke arah balkon. Dihirupnya udara pagi yang terasa lembut menyentuh kulitnya. Ia mulai merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan melakukan beberapa gerakan senam kecil. Ia pun merentangkan tangannya sambil memejamkan matanya seolah-olah ia telah siap menyambut datangnya pagi. Setelah itu ia mulai merasakan kehangatan menyentuh dan menyelimuti tubuhnya. Darah yang mengalir dalam tubuhnya seakan mengalir begitu derasnya mengikuti arah sinar matahari yang begitu terasa ditubuhnya. Arenz membuka matanya perlahan, sebuah senyuman tersungging dari bibir manisnya diikuti gerakan lesung pipinya yang menjorok kedalam.
            “Non, air hangatnya sudah siap. Mau langsung mandi atau nanti, non?”ucap Bi Inah yang sudah ada dibelakangnya. Arenz membalikkan tubuhnya.
            “Sepuluh menit lagi aku mandi. Aku mau sarapan dulu”
            “Baik non,”
            Arenz mulai melahap buburnya yang mulai terasa dingin. Tak berapa lama kemudian ia menyambar handuknya sambil berjalan ke arah kamar mandi.

            000

            Hamparan hijau terlihat begitu luas. Dihadapannya berjejer barisan tumbuhan teh yang tertata dengan rapinya. Banyak pekerja perkebunan yang mulai memetik daun teh, mereka terlihat begitu bahagia saat pucuk daun teh telah berada dalam gendongan dan mulai memenuhi isi keranjang mereka. Sungguh pemandangan yang begitu alami dan menakjubkan. Tak lama kemudian ia pun mulai menelusuri perkebunan itu. Ia menyapa setiap orang yang dijumpainya.
            “Pagi Bu Sari!”
            “Pagi non Arenz!”
            “Wah, keranjangnya sudah hampir penuh ya, bu”
            “Iya nih, alhamdulillah”
            “Oh ya, gimana kabar teh Anis?”
            “Alhamdulillah, baik. Sekarang Anis teh sudah mengandung 4 bulan, Non Arenz”
            “Wah, berarti Bu Sari sudah mau punya cucu dong. Selamat ya, bu”
            “Terima kasih, non”
            “Non Arenz nyari tuan Baskoro, ya?”
            “Iya nih, Bu Sari tahu ngga’?”
            “Tadi sih saya ngeliat sama mas Joko lagi ngobrol  sama petugas daerah di sekitar gubuk peristirahatan, non”
            “Oh, kalau begitu saya pergi dulu ya, Bu Sari. Makasih”
            “Sama-sama”
            Arenz melanjutkan pencariannya. Ia berjalan menelusuri perkebunan dengan langkah ringannya. Ia mengamati sekelilingnya mencari sosok yang dicarinya. Sejurus kemudian ia tersenyum. Ia berjingkat-jingkat mendekati sosok yang dicarinya.
            “Opa,..!”panggilnya sambil berteriak membuat Opa menutup telinganya lekat-lekat. Kemudian dipegangnya dadanya yang terasa nyeri. Opa mencoba mengatur nafasnya kembali. Joko melihatnya tapi, Opa tersenyum menandakan ia baik- baik saja membuat Joko tenang. Opa menggeleng pelan melihat cucunya malah menertawainya. Dengan gemas Opa mencubit hidung Arenz.
            “Sakit Opa!”gerutu Arenz sambil mengelus-elus hidungnya. Gantian Opa yang tertawa melihat Arenz memanyunkan bibirnya.
            “Itu hukuman bagi orang yang sukanya jahilin orang. Apalagi Opanya sendiri”ucap Opa. Mas Joko yang berada disamping Opa ikut-ikutan tertawa melihat Arenz. Ia tak heran jika Arenz seperti itu. Karena hal itu sudah sering terjadi malahan ia juga tak jarang menjadi korban kejahiliannya.
            “Makanya Renz, besok lagi hati-hati kalau mau jahilin orang. Kena batunya baru tahu rasa kamu”ucap Mas Joko. Arenz mencibir mendengar ucapan Joko.
            “Awas ya, tinggal liat tanggal mainnya aja”sungut Arenz pura-pura marah.
            “Oke, aku tunggu tanggal mainnya”tantang Joko sambil melipat tangannya membuat Arenz kesal. Dan kali ini Opa dan Joko tertawa kompak membuat Arenz semakin kesal.
            Arenz melipat tangannya, bibirnya masih manyun perihal kejadian tadi. Tapi, beberapa saat kemudian ia tersenyum mengingat sesuatu yang sedari tadi ingin ditanyakannya yang menjadi tujuannya mencari Opa.
            “Opa,… Opa”ucap Arenz manja. Kening Opa berkerut mendengarnya, biasanya kalau sudah seperti ini ada udang dibalik batu.
            “Ehm, kemarin perasaan ada yang janji mau ngajak Arenz kemana gitu. Katanya sih mau ngeliatin sesuatu”ucapnya sambil memainkan rambutnya yang dikucir kuda. Opa mencoba mengingat sesuatu, sejurus kemudian ia tersenyum.
            “Ehm, gimana ya?”
            “Opa, ayo dong jadi! Arenz pengen tahu nih. Arenz penasaran!”pintanya memelas. Tapi, Opa tidak memberinya respon positif. Opa hanya terdiam sambil menatapnya.
            “Opa,.. Arenz janji dech ngga’ gangguin Opa lagi. Ayo dong Opa!”pintanya sekali lagi.
            “Ehm, boleh sih,..”
            Tanpa ba-bi-bu Arenz mendorong tubuh Opa berjalan.
            “Eh,…e ..kok dorong-dorong sih. Opa kan belum selesai bicara “
            “Ayo kita berangkat!”ucap Arenz tanpa memedulikan ucapan Opa. Dan Opa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucu semata wayangnya.
            “Joko, tolong teruskan pekerjaan yang belum selesai. Aku mau nurutin gadis manja ini dulu”pesan Opa.
            “Baik, Tuan”
            Opa dan Arenz berjalan beriringan menelusuri perkebunan menuju pinggiran jalan.
            “Sepedamu dimana, Renz?Ambil dulu!”perintah Opa.
            “Emangnya mau kemana sih, Opa?”tanyan Arenz penasaran.
            “Ada dech, kalau Opa beritahu sekarang bukan kejutan namanya”jawaban Opa membuat Arenz semakin penasaran. Ia pun mengambil sepedanya sambil terus menebak-nebak kejutan yang akan diberikan Opa padanya.

000

bersambunggggg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar