#ABSTRAK "ARENZ" bag 1
“Non Arenz,
bubur ayamnya sudah siap’’ ucap bibi sambil meletakkan semangkuk bubur di
hadapan Arenz. Arenz membuka matanya perlahan, ia merapatkan kembali selimut ke
tubuhnya. Ia tengah menikmati udara pagi sambil tiduran di kursi panjang yang
terbuat dari rotan yang terletak di balkon depan kamarnya.
“Lebih nikmat jika dimakan
selagi hangat dan ini susunya, non”
“Makasih, Bi”ucap Arenz sambil
menguap lebar. Ia beranjak dari tidurnya tapi tetap membungkus tubuhnya dengan
selimut.
“Opa mana, Bi?”tanyanya.
“Sepertinya di kebun soalnya sejak
subuh tadi tuan sudah pergi sama mas Joko, non”
“Oh,..”
“Permisi, non. saya mau ke dapur
dulu”pamit bibi yang dibalas dengan anggukan Arenz.
Arenz mengikat rambut panjangnya, ia
berjalan ke arah balkon. Dihirupnya udara pagi yang terasa lembut menyentuh
kulitnya. Ia mulai merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan melakukan beberapa
gerakan senam kecil. Ia pun merentangkan tangannya sambil memejamkan matanya
seolah-olah ia telah siap menyambut datangnya pagi. Setelah itu ia mulai
merasakan kehangatan menyentuh dan menyelimuti tubuhnya. Darah yang mengalir
dalam tubuhnya seakan mengalir begitu derasnya mengikuti arah sinar matahari
yang begitu terasa ditubuhnya. Arenz membuka matanya perlahan, sebuah senyuman
tersungging dari bibir manisnya diikuti gerakan lesung pipinya yang menjorok
kedalam.
“Non, air hangatnya sudah siap. Mau
langsung mandi atau nanti, non?”ucap Bi Inah yang sudah ada dibelakangnya.
Arenz membalikkan tubuhnya.
“Sepuluh menit lagi aku
mandi. Aku mau sarapan dulu”
“Baik non,”
Arenz mulai melahap buburnya yang
mulai terasa dingin. Tak berapa lama kemudian ia menyambar handuknya sambil
berjalan ke arah kamar mandi.
000
Hamparan hijau terlihat begitu luas.
Dihadapannya berjejer barisan tumbuhan teh yang tertata dengan rapinya. Banyak
pekerja perkebunan yang mulai memetik daun teh, mereka terlihat begitu bahagia
saat pucuk daun teh telah berada dalam gendongan dan mulai memenuhi isi
keranjang mereka. Sungguh pemandangan yang begitu alami dan menakjubkan. Tak
lama kemudian ia pun mulai menelusuri perkebunan itu. Ia menyapa setiap orang
yang dijumpainya.
“Pagi Bu Sari!”
“Pagi non Arenz!”
“Wah, keranjangnya sudah hampir
penuh ya, bu”
“Iya nih, alhamdulillah”
“Oh ya, gimana kabar teh Anis?”
“Alhamdulillah, baik. Sekarang Anis
teh sudah mengandung 4 bulan, Non Arenz”
“Wah, berarti Bu Sari sudah mau
punya cucu dong. Selamat ya, bu”
“Terima kasih, non”
“Non Arenz nyari tuan Baskoro, ya?”
“Iya nih, Bu Sari tahu ngga’?”
“Tadi sih saya ngeliat sama mas Joko
lagi ngobrol sama petugas daerah di
sekitar gubuk peristirahatan, non”
“Oh, kalau begitu saya
pergi dulu ya, Bu Sari. Makasih”
“Sama-sama”
Arenz melanjutkan pencariannya. Ia
berjalan menelusuri perkebunan dengan langkah ringannya. Ia mengamati sekelilingnya
mencari sosok yang dicarinya. Sejurus kemudian ia tersenyum. Ia
berjingkat-jingkat mendekati sosok yang dicarinya.
“Opa,..!”panggilnya sambil berteriak
membuat Opa menutup telinganya lekat-lekat. Kemudian dipegangnya dadanya yang
terasa nyeri. Opa mencoba mengatur nafasnya kembali. Joko melihatnya tapi, Opa tersenyum
menandakan ia baik- baik saja membuat Joko tenang. Opa menggeleng pelan melihat
cucunya malah menertawainya. Dengan gemas Opa mencubit hidung Arenz.
“Sakit Opa!”gerutu Arenz sambil
mengelus-elus hidungnya. Gantian Opa yang tertawa melihat Arenz memanyunkan
bibirnya.
“Itu hukuman bagi orang yang sukanya
jahilin orang. Apalagi Opanya sendiri”ucap Opa. Mas Joko yang berada disamping
Opa ikut-ikutan tertawa melihat Arenz. Ia tak heran jika Arenz seperti itu.
Karena hal itu sudah sering terjadi malahan ia juga tak jarang menjadi korban
kejahiliannya.
“Makanya Renz, besok lagi hati-hati
kalau mau jahilin orang. Kena batunya baru tahu rasa kamu”ucap Mas Joko. Arenz mencibir
mendengar ucapan Joko.
“Awas ya, tinggal liat tanggal
mainnya aja”sungut Arenz pura-pura marah.
“Oke, aku tunggu tanggal
mainnya”tantang Joko sambil melipat tangannya membuat Arenz kesal. Dan kali ini
Opa dan Joko tertawa kompak membuat Arenz semakin kesal.
Arenz melipat tangannya, bibirnya
masih manyun perihal kejadian tadi. Tapi, beberapa saat kemudian ia tersenyum
mengingat sesuatu yang sedari tadi ingin ditanyakannya yang menjadi tujuannya
mencari Opa.
“Opa,… Opa”ucap Arenz manja. Kening
Opa berkerut mendengarnya, biasanya kalau sudah seperti ini ada udang dibalik
batu.
“Ehm, kemarin perasaan ada yang
janji mau ngajak Arenz kemana gitu. Katanya sih mau ngeliatin sesuatu”ucapnya
sambil memainkan rambutnya yang dikucir kuda. Opa mencoba mengingat sesuatu,
sejurus kemudian ia tersenyum.
“Ehm, gimana ya?”
“Opa, ayo dong jadi! Arenz pengen
tahu nih. Arenz penasaran!”pintanya memelas. Tapi, Opa tidak memberinya respon
positif. Opa hanya terdiam sambil menatapnya.
“Opa,.. Arenz janji dech ngga’
gangguin Opa lagi. Ayo dong Opa!”pintanya sekali lagi.
“Ehm, boleh sih,..”
Tanpa ba-bi-bu Arenz mendorong tubuh
Opa berjalan.
“Eh,…e ..kok dorong-dorong
sih. Opa kan
belum selesai bicara “
“Ayo kita berangkat!”ucap Arenz
tanpa memedulikan ucapan Opa. Dan Opa hanya bisa menggelengkan kepalanya
melihat tingkah cucu semata wayangnya.
“Joko, tolong teruskan pekerjaan
yang belum selesai. Aku mau nurutin gadis manja ini dulu”pesan Opa.
“Baik, Tuan”
Opa dan Arenz berjalan beriringan
menelusuri perkebunan menuju pinggiran jalan.
“Sepedamu dimana, Renz?Ambil
dulu!”perintah Opa.
“Emangnya mau kemana sih,
Opa?”tanyan Arenz penasaran.
“Ada dech, kalau Opa beritahu sekarang bukan
kejutan namanya”jawaban Opa membuat Arenz semakin penasaran. Ia pun mengambil
sepedanya sambil terus menebak-nebak kejutan yang akan diberikan Opa padanya.
000
bersambunggggg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar