Selasa, 08 Mei 2012

novel jilid 1

#ABSTRAK                                  ARENZ bag 3


by: Dezira Qoryza

Gesekan itu semakin pelan dan tak terdengar. Sosok itu membuka matanya kembali. Kenangan indah di masa lalunya merasuk kembali dalam ingatannya. Ia terdiam beberapa saat. Kemudian meletakkan kembali biolanya. Ia merindukan seseorang.

000

            “CEPRET”kilatan cahaya keluar dari kamera Arenz. Ia tersenyum. Hari ini ia telah berhasil mengambil  gambar perkebunan teh Opanya dari atas. Rasa senang menyelimutinya. Ia berjalan menuruni jalan setapak.
            Arenz tersenyum jahil saat melihat calon objeknya, terlihat Joko tengah sibuk memetik daun teh. Berjingkat-jingkat Arenz mendekati Joko. Sepertinya Joko tidak menyadari kehadiran Arenz. Arenz mulai meluncurkan jurus kejahiliannya. Dengan sedikit membungkuk ia menali silang tali sepatu Joko. Kemudian ia memakai topeng hantu yang sudah disediakanya. Dengan senyuman jahilnya ia menepuk pundak Joko. Saat Joko menoleh Arenz meneriakkan sesuatu yang membuat joko ketakutan. Joko pun terjatuh saat ia berniat berlari karena sepatunya tak bisa jalan, akibatnya ia terguling beberapa meter ke bawah. Bajunya kotor penuh dengah tanah basah,  wajahnya pun dipenuhi debu yang menempel. Sekali lagi tiba-tiba wajahnya terkena kilatan cahaya yang membuatnya menyipitkan matanya. Joko ngos-ngosan. Untung saja ranjangnya tadi tidak dipakainya, kalau dipakai kacaulah semua daun tehnya yang dipetiknya sedari tadi akan jatuh semua.
            “ARENZ,..”teriak Joko kesal.
            “CEPRET” lagi-lagi Arenz mengambil gambarnya. Dengan tawa khasnya Arenz berlari menjauh. Joko berusaha bangkit dan mengejar Arenz. Ia akan memberi balasan yang setimpal untuk Arenz. Joko mulai kehilangan jejak Arenz. Arenz terlalu cepat larinya. Ia pun  menelusuri perkebunan itu mencari sosok Arenz. Tiba-tiba ia dijegal seseorang yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Akhirnya ia terjatuh untuk kedua kalinya.
            “CEPRET”lagi-lagi kilatan cahaya membuatnya menyipitkan matanya.
            “ARENZ”teriak Joko semakin kesal.
            “Hahaha,.. makasih ya Mas Joko”
            “Daa,…”Arenz melambaikan tangannya. Joko ingin sekali mengejarnya tapi apa dayanya. Ia merasakan tubuhnya sakit bukan main. Arenz telah menguras tenaganya untuk bangun.
            “SIAL!PARAH!”gerutunya kesal.

            Langkah Arenz terhenti ketika melihat sebuah mercedes biru bertengger manis dipekarangan rumahnya. Ia tersenyum saat melihat plat mobil AB123Q. Senyumnya semakin mengembang. Dengan berlari kecil ia memasuki rumah.
            “Ayah! Bunda!”suara Arenz menggema di seluruh isi ruangan membuat semua yang ada di dalam menutup telinganya risih.
            “Arenz!”seru Opa, Ayah, dan Bunda bersamaan. Arenz nyengir kuda menanggapinya.
            “Ayah, Bunda!Arenz kangen!”ucap Arenz masih dengan volume tingginya membuat Ayah Bundanya menggelengkan kepalanya. Arenz menghambur ke pelukan kedua orang tuanya.
            “Bunda sama Ayah juga kangen Arenz. Banget malah”sahut Bunda sambil mencium pipi Arenz gemas.
            “Oh iya, Ayah dan Bunda punya sesuatu buat kamu”ucap Ayah sambil memberikan sebuah bungkusan pada Arenz. Arenz menerimanya dengan senang hati. Dengan semangat Arenz membuka bungkusan itu.
            Sebuah handphone keluaran terbaru bertengger dengan manisnya dalam bungkusan itu. Diraihnya handphone bercorak siluet oranye. Arenz terkesima melihatnya.
            “Bunda sengaja memilih warna oranye karena Arenz suka banget sama warna oranye”
            “Gimana sayang?”tanya Ayah.
            “Ryan banget Yah. Makasih ya, Ayah Bunda”ucap Arenz sambil menimang-nimang handphone barunya. 
            “Happy birthday, ya sayang.”ucap Bunda.
            “Makasih Bunda”sahut Arenz.
            “Oh ya, tunggu bentar!”Arenz berlari kecil ke kamarnya membuat semua orang terheran. Arenz kembali muncul sambil membawa kamera barunya.
            “Ini dia, Arenz juga dapet hadiah dari Opa”Arenz menunjukkan kameranya.
            “Wah Ryannya!!Opa memang pandai memilih”puji Bunda.
            “Iya dong, walaupun sudah tua tapi semangat masih muda”timpal Opa membuat semua yang berada di ruangan itu tertawa.
            “Sekarang kita foto bareng ya. Buat kenang-kenangan”
            “Oke dech, Ayo baris yang rapi!”seru Opa. Semua pun berdiri membentuk satu barisan. Arenz berdiri ditengah-tengah antara Opa dan kedua orang tuanya.
            “CEPRET”gambar itu pun berhasil diambil dengan sempurna. Sebuah kenangan yang takk

000

            Canda dan tawa menghiasi bibir manis Arenz beberapa hari ini. Kedatangan Ayah Bundanya mampu membuatnya betah untuk tidak menjahili orang. Kali ini pun pagi-pagi sekali Arenz bangun dari tidurnya karena Ayah dan Opa mengajaknya untuk berlari pagi. Arenz berlari menelusuri jalan setapak. Dibelakangnya tampak Ayah dan Opa berlari mengejarnya.
            “Arenz tunggu kami!”teriak Opa ngos-ngosan. Arenz menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya sambil berkacak pinggang.
            “Siapa suruh nantang Arenz!”ucap Arenz setengah berteriak sambil membusungkan dada. Ayah menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah putri semata wayangnya sambil terus berlari. Arenz kembali melangkahkan kakinya tapi, kali ini ia menurunkan kecepatan larinya.
            “Seperti itulah anakmu, keras kepala, maunya menang sendiri, manjanya minta ampun mentang-mentang ia cucuku satu-satunya. Dan satu lagi, jahilnya minta ampun dech”ucap Opa membuat Ayah tersenyum mendengarnya.
            “Satu hal lagi yang terlupakan Opa, yaitu keceriannya yang selalu membuat orang tersenyum jika melihatnya. Dan itulah yang membuatku selalu merindukannya. Aku ingin membawanya pulang karena kukira ia sudah cukup lama tinggal disini”ucap Ayah membuat Opa kaget.
            “Jadi kamu ingin membawa Arenz kembali ke jogja?”
            “Sudah saatnya ia mengenal tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya suatu saat nanti, Opa. Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk Arenz termasuk mendaftarkannya di universitas terbaik di jogja. Tapi, semua keputusan aku kembalikan pada Arenz. Karena dia yang akan menjalaninya nanti”jelas Ayah. Hal itu membuat Opa sedikit kecewa, ia menghentikan langkahnya. Dalam pikirannya, terbayang wajah Arenz saat ia tersenyum dan ia tidak akan melihatnya kembali nanti.
            “Ayah!Opa!”Panggil Arenz dari atas gubuk.
            “Opa, Ayo cepat!Arenz sudah sampai atas tuch”ajak Ayah membuat Opa tersadar dari lamunannya.
            “Oh iya,..”
            Arenz tersenyum melihat Ayah dan Opanya telah sampai diatas. Mereka berjalan menghampiri Arenz.
            “Gimana Ayah, Opa?Arenz menangkan!”seru Arenz.
            “Ya ya ya, kamu pemenangnya”sahut Ayah.
            “Baiklah, Opa ngaku kalah. Gelar raja tercepat Opa berikan sama kamu”ucap Opa membuat Arenz melonjak kegirangan.”Yes”ucapnya disela tawanya. Opa ikut tertawa mendengarnya. Sedangkan Ayah hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arenz dan Opa sambil sesekali tersenyum.
            “Kakek sama cucu, sama aja sifatnya”gumam Ayah.

            Arenz menatapi brosur-brosur yang ada dihadapannya. Ia memilah satu persatu brosur itu.
            “Ehm, Arenz pengen coba yang ini deh, Yah”ucap Arenz sambil menunjuk salah satu brosur yang menarik perhatiannya.
            “Baik, lalu yang lainnya. Pilihan cadangannya?”
            “Ehm, yang ini dech, Yah”
            “Ryan, kamu pintarnya milihnya”puji Ayah.
            “Iya dong, Arenz gitu lho”ucap Arenz bangga.
            “Aduh, sudah mulai nih narsisnya”sindir Bunda sambil membelai rambut Arenz. Arenz nyengir menanggapinya.
            “Oh iya, .. Opa mana, Bun?”tanya Arenz yang sedari tadi tidak melihat batang hidung Opanya.
            “Dikamar. Tadi Bunda lihat Opa masuk kamar setelah salat isya’. Mungkin Opa sudah tidur”simpul Bunda.
            “Oh,..”
            “Ayah Bunda, boleh ngga’ Arenz meminta satu permintaan lagi?”
            “Apa itu, sayang?”tanya Bunda.
            Arenz menerawang ke atap rumah. Ia tersenyum simpul.

            Disisi lain, Opa tengah duduk diatas kasurnya. Dalam keremangan lampu ia memegang sebuah bingkai yang terdapat foto Arenz didalamnya. Disentuhnya foto itu, pandangannya menerawang  jauh. Tak terasa ia menitikan air mata.
            “Arenz”ucapnya lirih.

000

            Pagi-pagi sekali Arenz sudah mengetuk pintu kamar Opa. Arenz tersenyum saat  Opa membukakan pintu untuknya.
            “Pagi Opa,..”sapa Arenz dengan senyuman khasnya. Opa tersenyum.
            “Ada apa ini? tumben pagi-pagi sudah ke kamar Opa?”tanya Opa heran.
            “Ayo masuk!”

            Opa mengernyitkan dahinya.“Apa? ke Jogja?”
            Arenz mengangguk mantap.
            “Mau ya, Opa. Opa tinggal di Jogja sama Arenz”pinta Arenz. Opa menggeleng pelan.
            “Arenz, Opa tidak bisa kalau harus tinggal di Jogja. Nanti yang akan mengurusi perkebunan Opa siapa? lagi pula tempat Opa disini bukan di Jogja.”tolak Opa.
            “Yah, Opa. Mas Joko kan bisa membantu Opa mengurus perkebunan, nanti kita kesini setiap satu atau dua bulan sekali. Lagi pula nanti kita bisa olahraga bersama, terus jalan-jalan”rayu Arenz. Opa tersenyum mendengarnya.
            “Tidak Arenz, Opa tidak bisa”
            Arenz menunduk kecewa.”Pokoknya, kalau Opa ngga’ mau ikut Arenz ngga’ mau sekolah di Jogja”ancam Arenz akhirnya membuat Opa merasa serba salah.
            “Arenz,”
            “Opa, Ayolah demi Arenz!”pinta Bunda tiba-tiba muncul dari pintu diikuti Ayah. Arenz tersenyum, ia merasa mendapat dukungan dari kedua orang tuanya.
            “Opa,..”
            Opa terdiam beberapa saat. Ia menghela nafas.
            “Kalau bukan karena Arenz, Opa ngga’ mau ke jogja”ucap Opa akhirnya membuat Arenz tersenyum.
            “Benar, Opa?Opa mau ke Jogja?”Opa mengangguk.
            “Yes,…!”seru Arenz bahagia.
            “Akhirnya kita ke Jogja besok. Jogja iam coming!”serunya membuat Opa, Ayah, dan Bunda tertawa.

000

            Arenz mengikat rambutnya sambil bercermin.
            “Oke, sudah selesai”ucapnya sambil merapikan kaos panjangnya.
            Dengan mendorong kopernya ia keluar dari kamarnya.
            “Selamat tinggal, kamarku”ucapnya sambil menutup pintu. Ia pun menghampiri kamar Ayah bundanya.
            “Ayah, Bunda!”panggilnya. sepi tak ada orang. Kopernya pun sudah tidak ada. Mungkin sudah kebawah duluan. Pikirnya. Ia pun menyusul ke bawah. Ia berniat untuk menghampiri Opa.
            Arenz menghentikan langkahnya ketika berada di depan pintu kamar Opa. Ia melihat kedua orang tuanya menangis di tepi ranjang Opa. Terlihat Opa tengah berbaring di ranjangnya. Arenz merasakan firasat buruknya.
            “Opa,..”ucapnya lirih. Ayah dan Bunda menoleh. Bunda pun menghampiri Arenz yang masih berdiri di depan pintu.
            “Bunda, Opa kenapa?Opa sakit?Opa kenapa, Bunda?”tanya Arenz, suaranya mulai serak.
            “Bunda kita jadi ke Jogja kan?””Bunda kenapa diam?kenapa Bunda ngga’ jawab?”.Arenz semakin tak terkontrol.
            “Arenz,”Bunda tak sanggup mengeluarkan kata-katanya. Arenz semakin bingung. Ia berlari menghampiri Opa. Dilihatnya Opa berbaring di ranjangnya dengan senyum yang mengembang dari bibirnya. Tangan Opa terlipat diatas perutnya. Arenz tak kuasa menahan tangisnya.
            “Opa?Opa kenapa?Opa kok tidur sih?kita kan mau ke Jogja sekarang. Kita harus berangkat Opa nanti takut ketinggalan pesawat”ucap Arenz parau.
            “Opa!bangun Opa!bangun!”ucap Arenz setengah berteriak sambil menggoyang-goyang tubuh Opa.
            “Arenz!”ucap Bunda.
“Bangun Opa!Opa bangun!”
“Sudahlah, Arenz”ucap Ayah sambil memeluk Arenz dari belakang. menariknya menjauh dari ranjang Opa.
“Ngga’ Yah, Opa harus bangun. Kita harus berangkat sekarang”ucap Arenz berusaha melepaskan pelukan Ayahnya.
“Arenz!Arenz dengarkan Ayah!”perintah Ayahnya.
“Opa sudah meninggal,  Arenz”ucap Ayah membuat Arenz semakin menangis.
“Ngga’ Yah, ngga’”rintih Arenz dalam pelukan Ayah. Semakin lama suara Arenz semakin pelan. Ayah merasakan tubuh Arenz begitu lemas. 
“Arenz,..”tak ada jawaban. Ia jatuh pingsan.

000

6 bulan kemudian disebuah toko musik.

Aku rindu setengah mati kepadamu…
Sungguh ku ingin kau tahu…
Aku rindu…
Setengah mati…
Aku rindu...

Arenz memejamkan matanya sambil menghayati lagu yang tengah diputar di toko musik itu. Lagu itu menggambarkan dirinya yang tengah merindukan seseorang. Ya., ia memang merindukan Opa. Tapi, ia juga merindukan seseorang yang tak dikenalnya tapi telah berani mengambil setengah isi hatinya. Lama-lama lagu itu redup dan berganti lagu lainnya. Arenz menghela nafasnya. Ia berjalan ke arah kasir.
“Permisi mb’, lagu yang baru saja diputar tersedia kasetnya ngga’ ya mb’?”tanyanya pada penjaga kasir.
“Oh, maksud mb’ D’Masiv?”penjaga kasir itu balik menanyainya.
“Ehm, iya mungkin”jawabnya ragu karena ia tak banyak tahu  tentang musik. Ia baru menyukai musik beberapa bulan yang lalu setelah mendengar sebuah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang disayanginya meninggal karena ia teringat akan kematian Opanya.  Sejak saat itu ia menyukai lagu-lagu mellow.
“Disebelah sana mb’, deket pintu sebelah timur”ucap penjaga itu.
“Oh iya, ehm bisa minta tolong ambilkan mb’”pinta Arenz. Penjaga kasir itu tersenyum.
“Sepertinya mb’ tidak terlalu mengetahui tentang musik ya?”tebak penjaga kasir itu membuat Arenz tersenyum kecut.
“Baiklah, ayo ikut saya mb’!”ajak penjaga kasir itu sambil berjalan menuju tempat yang dicarinya.
Arenz kembali mendengar sebuah lagu kesukaannya menggema ditelinganya.

Mengapa terjadi kepada dirimu…
Aku tak percaya, kau telah tiada..
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia…
Agar aku dapat, berjumpa denganmu…
            Arenz tersenyum sendiri mendengarkan lagu itu. Ia teringat Opanya. Ia kembali sadar saat penjaga kasir melambaikan tangannya didepannya.
            ‘’Mb’ ngelamun ya… mikirin apa sich mb?’’’ Arenz tersenyum sambil menggeleng pelan.
            ‘’Ehm,.. Mb’ lagi dengerin lagu yang baru diputar ya?’’tebak penjaga kasir itu membuat Arenz sedikit kaget.
            ‘’Lagunya peterpan, kan? Lagunya memang Ryan-Ryan kok. Ini lagu lama mb tapi, kalau mb’ mau biar saya carikan’’tawar penjaga kasir. Arenz menggelen pelan.
            ‘’Aku udah punya kok’’jawab Arenz.
            ‘’Oh…gitu.’’sahut penjaga kasir sambil kembali mencari kaset yang diminta Arenz.
“Ehm, ini dia”penjaga kasir itu menyerahkan kaset yang diminta Arenz.
“Lagunya sedih banget ya mb’ “ucap penjaga kasir itu membuat Arenz tersenyum.
“Atau mb’ lagi merindukan seseorang nih”tebak penjaga kasir itu membuat Arenz terpaku.
“Mb’ ngerinduin siapa mb’?pacar ya?”tebaknya lagi.
“Ehm, ngga’ kok. Cuma suka lagunya aja. Saya jadinya beli yang ini mb’”ucap Arenz.
“Baik mb’”Oh ya mb’, biasanya orang itu sukanya mengekspresikan dirinya lewat musik lho mb’. Ada yang dengan menyanyi ada juga yang dengan memainkan alat musik tertentu atau menciptakan lagu”ucap penjaga kasir itu sambil memberikan kembalian pada Arenz.
“Makasih, ya mb’. Kapan-kapan kesini lagi ya mb’”Arenz tersenyum menanggapinya. Ia keluar dari toko musik itu.
Kawasan malioboro selalu dipenuhi oleh lautan manusia. Mereka datang dari berbagai daerah dengan tujuan mereka masing-masing. Arenz langsung menyukai tempat ini sejak ia menginjakkan kakinya di Jogja 2 bulan yang lalu tepatnya dua minggu setelah Opanya meninggal.
Arenz berjalan menelusuri jalanan malioboro. Ia berhenti di halte trans Jogja, salah satu bus berwarna hijau yang beroperasi di wilayah sekitar malioboro selain bus-bus yang lain. Setelah membayar tiket ia duduk beberapa menit menunggu bus yang akan ia naiki datang. Tak berapa lama kemudian bus itu pun datang. Ia pun segera masuk dan mengambil tempat dekat pintu.
Arenz melirik orang disebelahnya yang tengah mendengarkan musik. Melihat itu ia jadi teringat akan kata-kata penjaga kasir tadi. Ia tertarik dengan “Menciptakan sebuah lagu” apakah mungkin ia bisa melakukan hal itu. Ia pun mengambil buku diarynya dalam tas. Ia kembali melihat tulisan-tulisannya selama ini. Sebuah tulisan ungkapan hatinya yang ia tulis dengan makna konotasinya. Lelaki disampinya meliriknya dan melihat lembaran tulisan yang terbuka. Ia tersenyum.
“Puisimu Ryan juga ya”celetuknya membuat Arenz kaget dan langsung menutup buku diarynya. Arenz hanya tersenyum kecut menanggapinya. Tak lama kemudian bus itu berhenti. Lelaki itu beranjak dari duduknya.
“Aku duluan ya. Oh ya, ngomong soal tadi aku beneran ngga’ bohong”ucap lelaki itu seraya keluar dari bus. Sepeninggal lelaki itu, Arenz masih terdiam sampai-sampai ia tidak tahu jika ia telah melalui halte yang seharusnya ia turun. Ia tersadar ketika mendengar komando dari bus itu bahwa ia telah melewatkan haltenya. Arenz pun segera turun di pemberhentian setelahnya. ia berjalan melewati trotoar jalan. Saat ia ingin menyetop taksi ia melihat sesuatu yang membuatnya mengurungkan niatnya. Ia melihat spanduk bertuliskan “Hadirilah Pertunjukkan dan Pameran Karya Para Seniman Jogja”. Arenz melihat tanggal yang tertera di spanduk itu. Masih 2 hari lagi. Pikirnya.

000

Dalam sepiku, kucoba untuk memahami semua ini.
Memahami apa yang ada dalam diriku.
Memahami gejolak yang menerpa hidupku.
Memahami satu demi satu sesuatu yang hadir dalam hidupku.
Tapi,                                                           
Tak tuntasnya Kau memberiku berbagai warna dalam kehidupanku ini.
Dan semua itu terjadi laksana sebuah petir yang menggelegar di siang hari.
Mungkin aku memang tidak memperhatikan gemuruh yang datang lebih awal.
Tapi,
Sungguh aku butuh proses untuk semua ini.

“Arenza,..”panggil Bunda dari lantai bawah.
“Ya, Bunda”sahut Arenz sambil menutup buku diarinya.
Ada telpon dari Ayah, sayang”
Ya Bunda, Arenz turun sekarang”segera Arenz keluar dari kamarnya. Ia berlari kecil menuruni tangga.
“Hei, hati-hati dong Arenz kalau turun”Bunda mengingatkan. Arenz nyengir. Ia pun langsung menerima telpon dari ayahnya.
“Ayah,..”

000

“Arenz, mau kemana hari ini?masih libur kan kuliahnya?”tanya bunda.
“Ehm, Arenz mau hunting sesuatu. Memang kenapa bunda?”Arenz balik nanya. Ia mengambil sepotong roti bakarnya dan melahapnya.
“Ehm, Bunda mau nitip nih, boleh?”pinta bunda sambil meneguk tehnya. Arenz mengangguk tanpa bersuara. Ia masih berkutat dengan rotinya sambil sesekali menambahkan selai pada rotinya.
“Tolong nanti kamu mampir ke tempat Bu Narti. Trus bilang ke dia kalau bunda jadi pesan rangkaian bunga yang kemarin. Dan ini uangnya”Bunda memberikan  amplop berisi uang yang langsung diterima oleh Arenz.
“Kenapa ngga’ telpon aja sich, Bunda?”
“Sekalian silaturahmi kan lebih baik. Lagi pula hari ini bunda ada acara dirumah teman lama bunda. Kamu mau ikut?”tawar bunda yang langsung ditolak oleh Arenz.
“Maaf ya, Bunda. Arenz masih muda belum berumur”ucapnya sambil menghabiskan rotinya membuat bunda tersenyum geli.
“Lho, sekalian latihan untuk jadi seorang ibu kan baik”canda bunda membuat Arenz bersungut.
“Bunda,…”rengeknya kesal. Bunda tertawa melihatnya.
“Ya sudah, cepat mandi!sudah siang nih!”
“Oke, ini juga mau mandi”sahutnya sambil bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan ruang makan yang diikuti bunda.

“Assalamualaikum, Bu Narti”
Arenz berdiri di depan ruko bunga milik salah seorang teman bundanya. Ruko itu cukup luas dengan hiasan bunga setiap sudutnya. Tak lama kemudian muncul seorang cowok dari dalam. Ia membawa rangkaian bunga ditangannya. Arenz memperhatikannya, ia pun berjalan ke arah cowok itu.
“Maaf, Bu Nartinya ada?”tanyanya pada cowok pembawa bunga. Cowok itu menoleh sekilas kemudian kembali sibuk dengan bunga bawaannya tanpa merespon pertanyaan Arenz. Arenz sedikit kesal. Ia pun mengulang pertanyaannya.
“Maaf, Bu Nartinya ada?”tanyanya dengan penuh kesabaran. Tapi, lagi-lagi cowok itu tak meresponnya membuatnya geregetan. Cowok itu malah hendak pergi meninggalkannya.
“ Maaf, aku kan nanya sama kamu, Bu Nartinya ada ngga’? kenapa kamu ngga’ jawab? ”tanyanya untuk sekian kali. Ia mencoba untuk mengendalikan emosinya. Tiba- tiba cowok itu menatap ke arahnya, tatapannya begitu tajam membuat Arenz terhenyak. Mata itu???? Pikirnya. Saat itu juga muncul seorang perempuan paruh baya dari dalam.
“Eh, Ada mbak Arenz tho” sapa perempuan itu dengan logat jawa kentalnya membuat Arenz lega. Akhirnya orang yang dicarinya muncul juga. Seketika perhatiannya tertuju pada perempuan paruh baya itu. Arenz tersenyum simpul.
“Sama siapa Mbak? Bundanya mana? Sendirian ya?”tanya Bu Narti.
“Iya, sendirian”jawab Arenz singkat.
“Wah, sudah berani pergi sendiri ya, Mbak. Naik apa tadi? Kesasar ngga’?”
“Naik taksi Bu, soalnya belum tahu jalannya.”
“Oh gitu. Ya sudah duduk dulu Mbak, saya kebelakang sebentar”ucap Bu Narti sambil beranjak pergi.
“Maaf, saya buru-buru jadi tidak bisa lama-lama.”ucap Arenz membuat Bu Narti mengurungkan niatnya.
Arenz langsung mengatakan sebab kedatangannya kepada Bu Narti.
“Saya kesini cuma mau memberikan ini kepada Ibu.”ucap Arenz sambil memberikan sebuah amplop kepada Bu Narti.
“Kata Bunda rangkaian bunganya yang kemarin jadi”
Bu Narti tersenyum penuh arti.
“Mbak Arenz ini lucu ya. Mbok duduk dulu sambil minum. Baru nanti kita ngobrol banyak. Sekalian silaturahmi”ucap Bu Narti yang melihat gelagat Arenz yang terburu-buru. Arenz tersenyum kikuk membuat Bu Narti semakin geli melihatnya.
“Ya sudah, nanti saya kirimkan paket bunganya”
“Makasih, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu”pamit Arenz.
“Beneran ngga’ mau minum dulu?”tanya Bu Narti membuat Arenz semakin kikuk.
“Bilang aja kalau mau, ngga’ usah basa basi. Pake malu-malu segala”ucap cowok pembawa bunga sambil tersenyum kecut. Arenz tersadar cowok itu belum pergi dari tadi. Cowok itu merekam semua pembicaraannya dengan Bu Narti.
“Ngga’ kok. Sungguh saya lagi terburu-buru”ucap Arenz membela dirinya.
“Mas Galang, ngga’ boleh kayak gitu! Kasihan Mbak Arenz. Ya sudah hati-hati dijalan ya Mbak Arenz”
Arenz tersenyum kikuk.
“Permisi, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” Arenz berjalan ke arah taksinya.
“Bu Narti, saya jadinya pesan yang ini dech”ucap cowok pembawa bunga yang bernama Galang.
“Oke, nanti saya kirimkan Mas Galang”

000

bersambuuunggg......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar