by: Dezira Qoryza
Gesekan itu
semakin pelan dan tak terdengar. Sosok itu membuka matanya kembali. Kenangan
indah di masa lalunya merasuk kembali dalam ingatannya. Ia terdiam beberapa
saat. Kemudian meletakkan kembali biolanya. Ia merindukan seseorang.
000
“CEPRET”kilatan cahaya keluar dari
kamera Arenz. Ia tersenyum. Hari ini ia telah berhasil mengambil gambar perkebunan teh Opanya dari atas. Rasa
senang menyelimutinya. Ia berjalan menuruni jalan setapak.
Arenz tersenyum jahil saat melihat
calon objeknya, terlihat Joko tengah sibuk memetik daun teh. Berjingkat-jingkat
Arenz mendekati Joko. Sepertinya Joko tidak menyadari kehadiran Arenz. Arenz
mulai meluncurkan jurus kejahiliannya. Dengan sedikit membungkuk ia menali
silang tali sepatu Joko. Kemudian ia memakai topeng hantu yang sudah
disediakanya. Dengan senyuman jahilnya ia menepuk pundak Joko. Saat Joko
menoleh Arenz meneriakkan sesuatu yang membuat joko ketakutan. Joko pun
terjatuh saat ia berniat berlari karena sepatunya tak bisa jalan, akibatnya ia
terguling beberapa meter ke bawah. Bajunya kotor penuh dengah tanah basah, wajahnya pun dipenuhi debu yang menempel.
Sekali lagi tiba-tiba wajahnya terkena kilatan cahaya yang membuatnya
menyipitkan matanya. Joko ngos-ngosan. Untung saja ranjangnya tadi tidak
dipakainya, kalau dipakai kacaulah semua daun tehnya yang dipetiknya sedari
tadi akan jatuh semua.
“ARENZ,..”teriak Joko kesal.
“CEPRET” lagi-lagi Arenz mengambil
gambarnya. Dengan tawa khasnya Arenz berlari menjauh. Joko berusaha bangkit dan
mengejar Arenz. Ia akan memberi balasan yang setimpal untuk Arenz. Joko mulai
kehilangan jejak Arenz. Arenz terlalu cepat larinya. Ia pun menelusuri perkebunan itu mencari sosok Arenz.
Tiba-tiba ia dijegal seseorang yang membuatnya kehilangan keseimbangan.
Akhirnya ia terjatuh untuk kedua kalinya.
“CEPRET”lagi-lagi kilatan cahaya
membuatnya menyipitkan matanya.
“ARENZ”teriak Joko semakin kesal.
“Hahaha,.. makasih ya Mas Joko”
“Daa,…”Arenz melambaikan tangannya.
Joko ingin sekali mengejarnya tapi apa dayanya. Ia merasakan tubuhnya sakit
bukan main. Arenz telah menguras tenaganya untuk bangun.
“SIAL!PARAH!”gerutunya kesal.
Langkah Arenz terhenti ketika
melihat sebuah mercedes biru bertengger manis dipekarangan rumahnya. Ia
tersenyum saat melihat plat mobil AB123Q. Senyumnya semakin mengembang. Dengan
berlari kecil ia memasuki rumah.
“Ayah! Bunda!”suara Arenz menggema di
seluruh isi ruangan membuat semua yang ada di dalam menutup telinganya risih.
“Arenz!”seru Opa, Ayah, dan Bunda
bersamaan. Arenz nyengir kuda menanggapinya.
“Ayah, Bunda!Arenz kangen!”ucap
Arenz masih dengan volume tingginya membuat Ayah Bundanya menggelengkan kepalanya.
Arenz menghambur ke pelukan kedua orang tuanya.
“Bunda sama Ayah juga kangen Arenz.
Banget malah”sahut Bunda sambil mencium pipi Arenz gemas.
“Oh iya, Ayah dan Bunda punya
sesuatu buat kamu”ucap Ayah sambil memberikan sebuah bungkusan pada Arenz. Arenz
menerimanya dengan senang hati. Dengan semangat Arenz membuka bungkusan itu.
Sebuah handphone keluaran terbaru
bertengger dengan manisnya dalam bungkusan itu. Diraihnya handphone bercorak
siluet oranye. Arenz terkesima melihatnya.
“Bunda sengaja memilih warna oranye
karena Arenz suka banget sama warna oranye”
“Gimana sayang?”tanya Ayah.
“Ryan banget Yah. Makasih ya, Ayah
Bunda”ucap Arenz sambil menimang-nimang handphone barunya.
“Happy birthday, ya sayang.”ucap
Bunda.
“Makasih Bunda”sahut Arenz.
“Oh ya, tunggu bentar!”Arenz berlari
kecil ke kamarnya membuat semua orang terheran. Arenz kembali muncul sambil
membawa kamera barunya.
“Ini dia, Arenz juga dapet hadiah
dari Opa”Arenz menunjukkan kameranya.
“Wah Ryannya!!Opa memang pandai
memilih”puji Bunda.
“Iya dong, walaupun sudah tua tapi
semangat masih muda”timpal Opa membuat semua yang berada di ruangan itu
tertawa.
“Sekarang kita foto bareng
ya. Buat kenang-kenangan”
“Oke dech, Ayo baris yang rapi!”seru
Opa. Semua pun berdiri membentuk satu barisan. Arenz berdiri ditengah-tengah
antara Opa dan kedua orang tuanya.
“CEPRET”gambar itu pun berhasil
diambil dengan sempurna. Sebuah kenangan yang takk
000
Canda dan tawa menghiasi bibir manis
Arenz beberapa hari ini. Kedatangan Ayah Bundanya mampu membuatnya betah untuk
tidak menjahili orang. Kali ini pun pagi-pagi sekali Arenz bangun dari tidurnya
karena Ayah dan Opa mengajaknya untuk berlari pagi. Arenz berlari menelusuri
jalan setapak. Dibelakangnya tampak Ayah dan Opa berlari mengejarnya.
“Arenz tunggu kami!”teriak Opa
ngos-ngosan. Arenz menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya sambil
berkacak pinggang.
“Siapa suruh nantang Arenz!”ucap
Arenz setengah berteriak sambil membusungkan dada. Ayah menggelengkan kepalanya
pelan melihat tingkah putri semata wayangnya sambil terus berlari. Arenz
kembali melangkahkan kakinya tapi, kali ini ia menurunkan kecepatan larinya.
“Seperti itulah anakmu, keras
kepala, maunya menang sendiri, manjanya minta ampun mentang-mentang ia cucuku
satu-satunya. Dan satu lagi, jahilnya minta ampun dech”ucap Opa membuat Ayah
tersenyum mendengarnya.
“Satu hal lagi yang terlupakan Opa,
yaitu keceriannya yang selalu membuat orang tersenyum jika melihatnya. Dan
itulah yang membuatku selalu merindukannya. Aku ingin membawanya pulang karena
kukira ia sudah cukup lama tinggal disini”ucap Ayah membuat Opa kaget.
“Jadi kamu ingin membawa Arenz
kembali ke jogja?”
“Sudah saatnya ia mengenal tempat
yang akan menjadi tempat tinggalnya suatu saat nanti, Opa. Aku sudah menyiapkan
segala sesuatunya untuk Arenz termasuk mendaftarkannya di universitas terbaik
di jogja. Tapi, semua keputusan aku kembalikan pada Arenz. Karena dia yang akan
menjalaninya nanti”jelas Ayah. Hal itu membuat Opa sedikit kecewa, ia
menghentikan langkahnya. Dalam pikirannya, terbayang wajah Arenz saat ia
tersenyum dan ia tidak akan melihatnya kembali nanti.
“Ayah!Opa!”Panggil Arenz dari atas
gubuk.
“Opa, Ayo cepat!Arenz sudah sampai
atas tuch”ajak Ayah membuat Opa tersadar dari lamunannya.
“Oh iya,..”
Arenz tersenyum melihat Ayah dan
Opanya telah sampai diatas. Mereka berjalan menghampiri Arenz.
“Gimana Ayah, Opa?Arenz menangkan!”seru
Arenz.
“Ya ya ya, kamu pemenangnya”sahut
Ayah.
“Baiklah, Opa ngaku kalah. Gelar
raja tercepat Opa berikan sama kamu”ucap Opa membuat Arenz melonjak
kegirangan.”Yes”ucapnya disela tawanya. Opa ikut tertawa mendengarnya.
Sedangkan Ayah hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arenz dan Opa
sambil sesekali tersenyum.
“Kakek sama cucu, sama aja
sifatnya”gumam Ayah.
Arenz menatapi brosur-brosur yang
ada dihadapannya. Ia memilah satu persatu brosur itu.
“Ehm, Arenz pengen coba yang ini
deh, Yah”ucap Arenz sambil menunjuk salah satu brosur yang menarik
perhatiannya.
“Baik, lalu yang lainnya. Pilihan
cadangannya?”
“Ehm, yang ini dech, Yah”
“Ryan, kamu pintarnya milihnya”puji
Ayah.
“Iya dong, Arenz gitu lho”ucap Arenz
bangga.
“Aduh, sudah mulai nih
narsisnya”sindir Bunda sambil membelai rambut Arenz. Arenz nyengir
menanggapinya.
“Oh iya, .. Opa mana, Bun?”tanya
Arenz yang sedari tadi tidak melihat batang hidung Opanya.
“Dikamar. Tadi Bunda lihat Opa masuk
kamar setelah salat isya’. Mungkin Opa sudah tidur”simpul Bunda.
“Oh,..”
“Ayah Bunda, boleh ngga’ Arenz
meminta satu permintaan lagi?”
“Apa itu, sayang?”tanya Bunda.
Arenz menerawang ke atap rumah. Ia
tersenyum simpul.
Disisi lain, Opa tengah duduk diatas
kasurnya. Dalam keremangan lampu ia memegang sebuah bingkai yang terdapat foto
Arenz didalamnya. Disentuhnya foto itu, pandangannya menerawang jauh. Tak terasa ia menitikan air mata.
“Arenz”ucapnya lirih.
000
Pagi-pagi sekali Arenz sudah
mengetuk pintu kamar Opa. Arenz tersenyum saat Opa membukakan pintu untuknya.
“Pagi Opa,..”sapa Arenz dengan
senyuman khasnya. Opa tersenyum.
“Ada apa ini? tumben pagi-pagi sudah ke kamar
Opa?”tanya Opa heran.
“Ayo masuk!”
Opa mengernyitkan
dahinya.“Apa? ke Jogja?”
Arenz mengangguk mantap.
“Mau ya, Opa. Opa tinggal di Jogja
sama Arenz”pinta Arenz. Opa menggeleng pelan.
“Arenz, Opa tidak bisa kalau harus
tinggal di Jogja. Nanti yang akan mengurusi perkebunan Opa siapa? lagi pula
tempat Opa disini bukan di Jogja.”tolak Opa.
“Yah, Opa. Mas Joko kan bisa membantu Opa
mengurus perkebunan, nanti kita kesini setiap satu atau dua bulan sekali. Lagi
pula nanti kita bisa olahraga bersama, terus jalan-jalan”rayu Arenz. Opa
tersenyum mendengarnya.
“Tidak Arenz, Opa tidak
bisa”
Arenz menunduk kecewa.”Pokoknya,
kalau Opa ngga’ mau ikut Arenz ngga’ mau sekolah di Jogja”ancam Arenz akhirnya
membuat Opa merasa serba salah.
“Arenz,”
“Opa, Ayolah demi Arenz!”pinta Bunda
tiba-tiba muncul dari pintu diikuti Ayah. Arenz tersenyum, ia merasa mendapat
dukungan dari kedua orang tuanya.
“Opa,..”
Opa terdiam beberapa saat. Ia
menghela nafas.
“Kalau bukan karena Arenz, Opa ngga’
mau ke jogja”ucap Opa akhirnya membuat Arenz tersenyum.
“Benar, Opa?Opa mau ke Jogja?”Opa
mengangguk.
“Yes,…!”seru Arenz bahagia.
“Akhirnya kita ke Jogja besok. Jogja
iam coming!”serunya membuat Opa, Ayah, dan Bunda tertawa.
000
Arenz mengikat rambutnya sambil bercermin.
“Oke, sudah selesai”ucapnya sambil
merapikan kaos panjangnya.
Dengan mendorong kopernya ia keluar
dari kamarnya.
“Selamat tinggal, kamarku”ucapnya
sambil menutup pintu. Ia pun menghampiri kamar Ayah bundanya.
“Ayah, Bunda!”panggilnya. sepi tak
ada orang. Kopernya pun sudah tidak ada. Mungkin sudah kebawah duluan.
Pikirnya. Ia pun menyusul ke bawah. Ia berniat untuk menghampiri Opa.
Arenz menghentikan langkahnya ketika
berada di depan pintu kamar Opa. Ia melihat kedua orang tuanya menangis di tepi
ranjang Opa. Terlihat Opa tengah berbaring di ranjangnya. Arenz merasakan
firasat buruknya.
“Opa,..”ucapnya lirih. Ayah dan
Bunda menoleh. Bunda pun menghampiri Arenz yang masih berdiri di depan pintu.
“Bunda, Opa kenapa?Opa sakit?Opa
kenapa, Bunda?”tanya Arenz, suaranya mulai serak.
“Bunda kita jadi ke Jogja kan ?””Bunda kenapa
diam?kenapa Bunda ngga’ jawab?”.Arenz semakin tak terkontrol.
“Arenz,”Bunda tak sanggup
mengeluarkan kata-katanya. Arenz semakin bingung. Ia berlari menghampiri Opa.
Dilihatnya Opa berbaring di ranjangnya dengan senyum yang mengembang dari
bibirnya. Tangan Opa terlipat diatas perutnya. Arenz tak kuasa menahan
tangisnya.
“Opa?Opa kenapa?Opa kok tidur
sih?kita kan
mau ke Jogja sekarang. Kita harus berangkat Opa nanti takut ketinggalan
pesawat”ucap Arenz parau.
“Opa!bangun Opa!bangun!”ucap Arenz
setengah berteriak sambil menggoyang-goyang tubuh Opa.
“Arenz!”ucap Bunda.
“Bangun Opa!Opa bangun!”
“Sudahlah, Arenz”ucap Ayah sambil memeluk Arenz dari belakang. menariknya
menjauh dari ranjang Opa.
“Ngga’ Yah, Opa harus bangun. Kita harus berangkat sekarang”ucap Arenz
berusaha melepaskan pelukan Ayahnya.
“Arenz!Arenz dengarkan Ayah!”perintah Ayahnya.
“Opa sudah meninggal, Arenz”ucap
Ayah membuat Arenz semakin menangis.
“Ngga’ Yah, ngga’”rintih Arenz dalam pelukan Ayah. Semakin lama suara Arenz
semakin pelan. Ayah merasakan tubuh Arenz begitu lemas.
“Arenz,..”tak ada jawaban. Ia jatuh pingsan.
000
6 bulan kemudian disebuah toko
musik.
Aku rindu setengah mati kepadamu…
Sungguh ku ingin kau tahu…
Aku rindu…
Setengah mati…
Aku rindu...
Arenz memejamkan matanya sambil menghayati lagu yang tengah diputar di
toko musik itu. Lagu itu menggambarkan dirinya yang tengah merindukan
seseorang. Ya., ia memang merindukan Opa. Tapi, ia juga merindukan seseorang
yang tak dikenalnya tapi telah berani mengambil setengah isi hatinya. Lama-lama
lagu itu redup dan berganti lagu lainnya. Arenz menghela nafasnya. Ia berjalan
ke arah kasir.
“Permisi mb’, lagu yang baru saja diputar tersedia kasetnya ngga’ ya
mb’?”tanyanya pada penjaga kasir.
“Oh, maksud mb’ D’Masiv?”penjaga kasir itu balik menanyainya.
“Ehm, iya mungkin”jawabnya ragu karena ia tak banyak tahu tentang musik. Ia baru menyukai musik beberapa
bulan yang lalu setelah mendengar sebuah lagu yang menceritakan tentang
seseorang yang disayanginya meninggal karena ia teringat akan kematian Opanya. Sejak saat itu ia menyukai lagu-lagu mellow.
“Disebelah sana
mb’, deket pintu sebelah timur”ucap penjaga itu.
“Oh iya, ehm bisa minta tolong ambilkan mb’”pinta Arenz. Penjaga kasir
itu tersenyum.
“Sepertinya mb’ tidak terlalu mengetahui tentang musik ya?”tebak penjaga
kasir itu membuat Arenz tersenyum kecut.
“Baiklah, ayo ikut saya mb’!”ajak penjaga kasir itu sambil berjalan
menuju tempat yang dicarinya.
Arenz kembali mendengar sebuah lagu kesukaannya menggema ditelinganya.
Mengapa terjadi kepada dirimu…
Aku tak percaya, kau telah tiada..
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia…
Agar aku dapat, berjumpa denganmu…
Arenz tersenyum sendiri mendengarkan
lagu itu. Ia teringat Opanya. Ia kembali sadar saat penjaga kasir melambaikan
tangannya didepannya.
‘’Mb’ ngelamun ya… mikirin apa sich
mb?’’’ Arenz tersenyum sambil menggeleng pelan.
‘’Ehm,.. Mb’ lagi dengerin lagu yang
baru diputar ya?’’tebak penjaga kasir itu membuat Arenz sedikit kaget.
‘’Lagunya peterpan, kan ? Lagunya memang Ryan-Ryan
kok. Ini lagu lama mb tapi, kalau mb’ mau biar saya carikan’’tawar penjaga
kasir. Arenz menggelen pelan.
‘’Aku udah punya kok’’jawab Arenz.
‘’Oh…gitu.’’sahut penjaga kasir sambil
kembali mencari kaset yang diminta Arenz.
“Ehm, ini dia”penjaga kasir itu menyerahkan kaset yang diminta Arenz.
“Lagunya sedih banget ya mb’ “ucap penjaga kasir itu membuat Arenz
tersenyum.
“Atau mb’ lagi merindukan seseorang nih”tebak penjaga kasir itu membuat
Arenz terpaku.
“Mb’ ngerinduin siapa mb’?pacar ya?”tebaknya lagi.
“Ehm, ngga’ kok. Cuma suka lagunya aja. Saya jadinya beli yang ini
mb’”ucap Arenz.
“Baik mb’”Oh ya mb’, biasanya orang itu sukanya mengekspresikan dirinya
lewat musik lho mb’. Ada
yang dengan menyanyi ada juga yang dengan memainkan alat musik tertentu atau
menciptakan lagu”ucap penjaga kasir itu sambil memberikan kembalian pada Arenz.
“Makasih, ya mb’. Kapan-kapan kesini lagi ya mb’”Arenz tersenyum
menanggapinya. Ia keluar dari toko musik itu.
Kawasan malioboro selalu dipenuhi oleh lautan manusia. Mereka datang dari
berbagai daerah dengan tujuan mereka masing-masing. Arenz langsung menyukai
tempat ini sejak ia menginjakkan kakinya di Jogja 2 bulan yang lalu tepatnya
dua minggu setelah Opanya meninggal.
Arenz berjalan menelusuri jalanan malioboro. Ia berhenti di halte trans
Jogja, salah satu bus berwarna hijau yang beroperasi di wilayah sekitar
malioboro selain bus-bus yang lain. Setelah membayar tiket ia duduk beberapa
menit menunggu bus yang akan ia naiki datang. Tak berapa lama kemudian bus itu
pun datang. Ia pun segera masuk dan mengambil tempat dekat pintu.
Arenz melirik orang disebelahnya yang tengah mendengarkan musik. Melihat
itu ia jadi teringat akan kata-kata penjaga kasir tadi. Ia tertarik dengan “Menciptakan
sebuah lagu” apakah mungkin ia bisa melakukan hal itu. Ia pun mengambil buku
diarynya dalam tas. Ia kembali melihat tulisan-tulisannya selama ini. Sebuah
tulisan ungkapan hatinya yang ia tulis dengan makna konotasinya. Lelaki
disampinya meliriknya dan melihat lembaran tulisan yang terbuka. Ia tersenyum.
“Puisimu Ryan juga ya”celetuknya membuat Arenz kaget dan langsung menutup
buku diarynya. Arenz hanya tersenyum kecut menanggapinya. Tak lama kemudian bus
itu berhenti. Lelaki itu beranjak dari duduknya.
“Aku duluan ya. Oh ya, ngomong soal tadi aku beneran ngga’ bohong”ucap
lelaki itu seraya keluar dari bus. Sepeninggal lelaki itu, Arenz masih terdiam
sampai-sampai ia tidak tahu jika ia telah melalui halte yang seharusnya ia
turun. Ia tersadar ketika mendengar komando dari bus itu bahwa ia telah
melewatkan haltenya. Arenz pun segera turun di pemberhentian setelahnya. ia
berjalan melewati trotoar jalan. Saat ia ingin menyetop taksi ia melihat
sesuatu yang membuatnya mengurungkan niatnya. Ia melihat spanduk bertuliskan
“Hadirilah Pertunjukkan dan Pameran Karya Para Seniman Jogja”. Arenz melihat
tanggal yang tertera di spanduk itu. Masih
2 hari lagi. Pikirnya.
000
Dalam sepiku, kucoba untuk
memahami semua ini.
Memahami apa yang ada dalam
diriku.
Memahami gejolak yang menerpa
hidupku.
Memahami satu demi satu sesuatu
yang hadir dalam hidupku.
Tapi,
Tak tuntasnya Kau memberiku
berbagai warna dalam kehidupanku ini.
Dan semua itu terjadi laksana
sebuah petir yang menggelegar di siang hari.
Mungkin aku memang tidak
memperhatikan gemuruh yang datang lebih awal.
Tapi,
Sungguh aku butuh proses untuk
semua ini.
“Arenza,..”panggil Bunda dari lantai bawah.
“Ya, Bunda”sahut Arenz sambil menutup buku diarinya.
“Ada
telpon dari Ayah, sayang”
“Ya Bunda, Arenz turun
sekarang”segera Arenz keluar dari kamarnya. Ia berlari kecil menuruni tangga.
“Hei, hati-hati dong Arenz kalau turun”Bunda mengingatkan. Arenz nyengir.
Ia pun langsung menerima telpon dari ayahnya.
“Ayah,..”
000
“Arenz, mau kemana hari ini?masih libur kan kuliahnya?”tanya bunda.
“Ehm, Arenz mau hunting sesuatu. Memang kenapa bunda?”Arenz balik nanya.
Ia mengambil sepotong roti bakarnya dan melahapnya.
“Ehm, Bunda mau nitip nih, boleh?”pinta bunda sambil meneguk tehnya.
Arenz mengangguk tanpa bersuara. Ia masih berkutat dengan rotinya sambil
sesekali menambahkan selai pada rotinya.
“Tolong nanti kamu mampir ke tempat Bu Narti. Trus bilang ke dia kalau
bunda jadi pesan rangkaian bunga yang kemarin. Dan ini uangnya”Bunda memberikan amplop berisi uang yang langsung diterima
oleh Arenz.
“Kenapa ngga’ telpon aja sich, Bunda?”
“Sekalian silaturahmi kan
lebih baik. Lagi pula hari ini bunda ada acara dirumah teman lama bunda. Kamu
mau ikut?”tawar bunda yang langsung ditolak oleh Arenz.
“Maaf ya, Bunda. Arenz masih muda belum berumur”ucapnya sambil
menghabiskan rotinya membuat bunda tersenyum geli.
“Lho, sekalian latihan untuk jadi seorang ibu kan baik”canda bunda membuat Arenz
bersungut.
“Bunda,…”rengeknya kesal. Bunda tertawa melihatnya.
“Ya sudah, cepat mandi!sudah siang nih!”
“Oke, ini juga mau mandi”sahutnya sambil bangkit dari duduknya. Ia
meninggalkan ruang makan yang diikuti bunda.
“Assalamualaikum, Bu Narti”
Arenz berdiri di depan ruko bunga milik salah seorang teman bundanya. Ruko
itu cukup luas dengan hiasan bunga setiap sudutnya. Tak lama kemudian muncul
seorang cowok dari dalam. Ia membawa rangkaian bunga ditangannya. Arenz
memperhatikannya, ia pun berjalan ke arah cowok itu.
“Maaf, Bu Nartinya ada?”tanyanya pada cowok pembawa bunga. Cowok itu
menoleh sekilas kemudian kembali sibuk dengan bunga bawaannya tanpa merespon
pertanyaan Arenz. Arenz sedikit kesal. Ia pun mengulang pertanyaannya.
“Maaf, Bu Nartinya ada?”tanyanya dengan penuh kesabaran. Tapi, lagi-lagi
cowok itu tak meresponnya membuatnya geregetan. Cowok itu malah hendak pergi
meninggalkannya.
“ Maaf, aku kan nanya sama kamu, Bu Nartinya ada ngga’? kenapa kamu ngga’
jawab? ”tanyanya untuk sekian kali. Ia mencoba untuk mengendalikan emosinya. Tiba-
tiba cowok itu menatap ke arahnya, tatapannya begitu tajam membuat Arenz
terhenyak. Mata itu???? Pikirnya. Saat itu juga muncul seorang perempuan
paruh baya dari dalam.
“Eh, Ada
mbak Arenz tho” sapa perempuan itu dengan logat jawa kentalnya membuat Arenz
lega. Akhirnya orang yang dicarinya muncul juga. Seketika perhatiannya tertuju
pada perempuan paruh baya itu. Arenz tersenyum simpul.
“Sama siapa Mbak? Bundanya mana? Sendirian ya?”tanya Bu Narti.
“Iya, sendirian”jawab Arenz singkat.
“Wah, sudah berani pergi sendiri ya, Mbak. Naik apa tadi? Kesasar ngga’?”
“Naik taksi Bu, soalnya belum tahu jalannya.”
“Oh gitu. Ya sudah duduk dulu Mbak, saya kebelakang sebentar”ucap Bu
Narti sambil beranjak pergi.
“Maaf, saya buru-buru jadi tidak bisa lama-lama.”ucap Arenz membuat Bu
Narti mengurungkan niatnya.
Arenz langsung mengatakan sebab kedatangannya kepada Bu Narti.
“Saya kesini cuma mau memberikan ini kepada Ibu.”ucap Arenz sambil
memberikan sebuah amplop kepada Bu Narti.
“Kata Bunda rangkaian bunganya yang kemarin jadi”
Bu Narti tersenyum penuh arti.
“Mbak Arenz ini lucu ya. Mbok duduk dulu sambil minum. Baru nanti kita
ngobrol banyak. Sekalian silaturahmi”ucap Bu Narti yang melihat gelagat Arenz
yang terburu-buru. Arenz tersenyum kikuk membuat Bu Narti semakin geli
melihatnya.
“Ya sudah, nanti saya kirimkan paket bunganya”
“Makasih, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu”pamit Arenz.
“Beneran ngga’ mau minum dulu?”tanya Bu Narti membuat Arenz semakin
kikuk.
“Bilang aja kalau mau, ngga’ usah basa basi. Pake malu-malu segala”ucap
cowok pembawa bunga sambil tersenyum kecut. Arenz tersadar cowok itu belum
pergi dari tadi. Cowok itu merekam semua pembicaraannya dengan Bu Narti.
“Ngga’ kok. Sungguh saya lagi terburu-buru”ucap Arenz membela dirinya.
“Mas Galang, ngga’ boleh kayak gitu! Kasihan Mbak Arenz. Ya sudah
hati-hati dijalan ya Mbak Arenz”
Arenz tersenyum kikuk.
“Permisi, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” Arenz berjalan ke arah taksinya.
“Bu Narti, saya jadinya pesan yang ini dech”ucap cowok pembawa bunga yang
bernama Galang.
“Oke, nanti saya kirimkan Mas Galang”
000
bersambuuunggg......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar