#ABSTRAK ARENZ bag 2
Batu-batu kecil
tersebar disepanjang jalan membuat Arenz sedikit kesulitan mengayuh sepedanya.
ia memandang Opanya yang justru telah berada jauh didepannya. Opa begitu mudah
melalui jalan terjal ini, mungkin karena sudah terbiasa. Arenz berusaha
mengejar Opa yang berada di depan.
“Opa tunggu,..!”teriak Arenz sambil
berusaha mengayuh sepedanya dengan cepat. Bukannya menunggu Arenz, Opa malah
mempercepat lajunya. Opa memegang dadanya sambil terus mengayuh sepedanya.
“Ayo, kejar Opa kalau bisa!”tantang
Opa membuat Arenz tambah bersemangat mengayuh sepedanya. Arenz terus menambah
kecepatannya, ia tidak ingin dikalahkan oleh seorang kakek yang seharusnya
berada di belakangnya. Jalan yang dilaluinya semakin sempit dan mulai
berkelok-kelok membuat Arenz kesulitan untuk mendahului Opanya. Mereka mulai
melewati jalan setapak, area persawahan, dan terakhir menelusuri pinggiran
hutan. Opa memberi instruksi agar hati-hati saat melalui jalan tersebut.
Opa menghentikan sepedanya yang
diikuti Arenz. Keduanya turun dari sepeda dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Arenz melongo begitu melihat pemandangan dihadapannya. Begitu hijau dan
menakjubkan. Tampak pohon-pohon besar berada di sekelilingnya, berjejer dengan
rapinya. Masih terdengar kicauan burung yang menambah indahnya suara alam. Ia
tidak menyangka Opanya akan memperlihatkan alam yang masih sangat alami dan
begitu indahnya dengan pesona yang dimilikinya. Sedangkan Opa , ia
memejamkan matanya beberapa saat sambil menikmati udara pagi yang begitu
menyegarkan. Ia teringat kembali akan kenangannya masa lalu.
“Indah sekali Opa.”surprise Arenz.
Opa tersenyum mendengarnya.
“Opa benar-benar hebat bisa
menemukan tempat seindah ini.”ucap Arenz.
“Indahnya,..”gumamnya lagi.
“Opa ingin menunjukkan sesuatu
padamu, kemari ikut Opa!”perintah Opa. Arenz berjalan mengekor dibelakang. Opa berjalan menuju sebuah batu
berukuran besar. Bahkan ukurannya lebih besar dari tinggi badan Arenz. Arenz
mengernyitkan dahinya, entah apa yang berada dipikirannya. Opa sedikit
berjongkok dan mulai memindahkan batu—batu kecil yang berada disekitar batu
besar itu. Selagi Opa berjongkok dan entah apa yang sedang dilakukan Opa saat
ini, Arenz melihat sekelilingnya sekali lagi. Rumput-rumput liar tumbuh
dimana-mana menjulang tinggi. Daun-daun kering berjatuhan dari atas pohon. Tak
henti-hentinya ia bersyukur akan keindahan alam yang berada dihadapannya saat
ini.
Arenz kembali mengernyitkan dahinya
saat Opa memperlihatkan sesuatu padanya. Sebuah kotak kecil berwarna kuning
keemasan dengan ukiran disetiap sisinya.
“Masih seperti dulu.”gumam Opa.
Opa memberikan kotak itu pada
Arenz,”Bukalah!”pinta Opa.
Dengan ragu-ragu dan rasa
penasarannya Arenz membuka kotak itu perlahan. Sebuah serpihan batu giok
berbentuk setengah hati dengan warna hijau zamrud bertengger diatas bantalan
kotak itu. Arenz terpukau melihatnya. Ia meraih giok itu perlahan.
“Indah sekali, Opa”surprise Arenz
kedua kalinya.
“Serpihan giok ini pemberian Oma
untukmu sebagai kado ulang tahunmu ke-17. Sebenarnya Oma ingin memberikannya
sendiri saat umurmu 17 tahun tapi, takdir berkata lain. Oma meninggal saat
usiamu 7 tahun. Maka dari itu Oma meminta Opa untuk memberikan serpihan ini saat
umurmu menginjak 17 tahun. Saat ini!”Opa menerawang masa lalu. Mata Opa
berkaca-kaca mengenangnya. Arenz merasakan kerinduan Opa yang selama ini
terpendam. Ia pun memeluk Opa.
“Opa,..Opa jangan sedih!”pinta Arenz
yang sudah menitikan air mata terlebih dahulu. Opa tersenyum mendengarnya. Opa
membelai rambut cucunya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Sudahlah, Opa tidak apa-apa
kok.”Opa melepas pelukannya.
“Oh ya, konon serpihan giok ini
memiliki mitos lho”ucap Opa membuat Arenz bingung.
“Mitos?”
“Dulu saat Oma membeli serpihan ini,
ia diberitahu bahwa serpihan ini memiliki pasangan. Jika kedua giok ini
disatukan maka akan terbentuk sebuah hati yang melambangkan keabadian cinta.
Maka siapapun yang memilki serpihan pasangan giok ini. Dia adalah jodohmu.
Sedangkan saat Oma membelinya, pasangan serpihan ini sudah tidak ada. Jadi, ini
adalah mitos yang cukup menarik bukan”jelas Opa.
“JODOH”gumam Arenz sambil menerawang
jauh menatap cakrawala.
000
Bungkusan berwarna biru itu masih
bertengger diatas meja nakasnya. Dengan senangnya Arenz mengambil bungkusan
itu.
“Ehm, apa ya isinya?”
Arenz menimang-nimang bungkusan itu,
ia pun mulai membukanya. Arenz penasaran dengan kado pemberian Opa tadi malam.
Saat membuka kadonya sesekali Arenz tertawa kecil mengingat kejadian semalam
saat Opa memberikan surpirse padanya. Opa bernyanyi didepan pintu dengan gitar
tuanya yang diiringi koor Bi Inah dan Pak Min. Arenz segera bangun saat
mendengar sayup-sayup suara Opa. Dengan kantuk yang masih menggelayut dibukanya
pintu kamarnya.
“SURPRISE”ucap Opa, Bi Inah dan Pak
Min bersamaan. Lagu selamat ulang tahun pun keluar dari mulut Opa. Arenz
tertawa melihatnya, ia tidak menyangka Opa akan mengadakan surprise party
malam-malam begini. Dengan do’a Arenz meniup kue ulang tahunnya yang diiringi
tepuk tangan Opa, Bi Inah, dan Pak Min. setelah pesta kecil-kecilan Arenz
langsung kembali ke kamarnya. Tak sempat membuka kado ia sudah tertidur pulas.
Arenz terkejut, sebuah kamera
digital keluaran terbaru bertengger dengan indahnya. Kamera yang sangat ia
impikan akhir-akhir ini, kini menjadi miliknya. Ia pun mengambil kamera itu dan
menimangnya dengan suka cita. Tak hentinya ia memandangi kamera itu. Ia pun mencoba
kamera itu dengan memotret dirinya sendiri. Arenz tertawa melihat dirinya dalam
kamera itu, raut wajah bangun tidur yang belum ada polesan sedikitpun
diwajahnya. Arenz kembali meraih bungkusan itu mencari sesuatu yang lain. Ia
menemukan secariik kertas berwarna biru. Arenz mulai membac
Untuk Arenza cucuku
Tahun
silih berganti, dengan bertambanhya usiamu Opa harap kamu menjadi yang terbaik
untuk orang-orang yang kamu sayangi. Tetaplah menjadi Arenz yang periang, yang
selalu membuat semua orang tersenyum. Dan ingat! Kamu akan selalu menjadi peri
kecil Opa.
Dari
Opa yang menyanyangimu
Arenz
melipat kembali suratnya, matanya berkaca-kaca.
“Opa,..”gumamnya. ia tidak tahu
kenapa akhir-akhir ini ia terlalu sering menangis bahagia. Opa membuatnya selalu ingin
menangis.
Arenz melirik jam dindingnya. Waktu
menunjukkan pukul 5 pagi, waktunya untuk salat shubuh. Arenz pun beranjak dari
tidurnya berjalan menuju kamar mandi.
Buru-buru Arenz keluar dari
kamarnya. Ia membawa kamera pemberian Opa. Tidak sulit mencari Opa yang selalu
melakukan rutinitas pagi hari. Arenz menemukan Opa sedang duduk diteras sambil
memandangi bunga-bunga yang bernekaran.
“Opa,..”panggilnya. Arenz berlari
menghampiri Opa dan langsung menghambur ke pelukan Opa. Opa sedikit terkejut
dengan kedatangan Arenz tapi, kemudian sebuah senyuman tersungging dari
bibirnya.
“Arenz sayang Opa”ucap Arenz sambil
melepas pelukannya.
“Opa juga sayang Arenz, Arenz mau
berjanji dengan Opa?”
Arenz mengangguk. Opa pun
menunjukkan jari kelingkingnya yang disambut dengan jari kelingking Arenz.
“Opa ingin Arenz selalu tersenyum
apapun yang terjadi suatu saat nanti. Dan tetap berdiri walaupun badai
menerjang. Seperti layaknya seorang Srikandi”
“Arenz janji, Opa. Arenz berjanji
akan selalu tersenyum dan tetap berdiri walaupun badai menerjang”
“Satu lagi, olahraga akan membuatmu
menjadi lebih baik dalam menghadapi hari esok”
“Ihh,.. Opa ngga nyambung. Masa
nyambungnya ke olah raga”protes Arenz. Opa tertawa mendengarnya.
“Suatu saat nanti kamu akan tahu
alasannya”sahut Opa misterius membuat Arenz bertanya-tanya dalam hati.
Senyuman pun mucul dari keduanya.
Kemudian disambung dengan gelak tawa dari keduanya. Tawa kasih sayang seorang
kakek kepada cucunya. Tawa yang akan selalu terkenang diantara mereka.
000
bersambungggg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar