Minggu, 06 Mei 2012

novel jilid 1


#ABSTRAK                                              ARENZ bag 2
Batu-batu kecil tersebar disepanjang jalan membuat Arenz sedikit kesulitan mengayuh sepedanya. ia memandang Opanya yang justru telah berada jauh didepannya. Opa begitu mudah melalui jalan terjal ini, mungkin karena sudah terbiasa. Arenz berusaha mengejar Opa yang berada di depan.
            “Opa tunggu,..!”teriak Arenz sambil berusaha mengayuh sepedanya dengan cepat. Bukannya menunggu Arenz, Opa malah mempercepat lajunya. Opa memegang dadanya sambil terus mengayuh sepedanya.
            “Ayo, kejar Opa kalau bisa!”tantang Opa membuat Arenz tambah bersemangat mengayuh sepedanya. Arenz terus menambah kecepatannya, ia tidak ingin dikalahkan oleh seorang kakek yang seharusnya berada di belakangnya. Jalan yang dilaluinya semakin sempit dan mulai berkelok-kelok membuat Arenz kesulitan untuk mendahului Opanya. Mereka mulai melewati jalan setapak, area persawahan, dan terakhir menelusuri pinggiran hutan. Opa memberi instruksi agar hati-hati saat melalui jalan tersebut.
            Opa menghentikan sepedanya yang diikuti Arenz. Keduanya turun dari sepeda dengan ekspresi yang berbeda-beda. Arenz melongo begitu melihat pemandangan dihadapannya. Begitu hijau dan menakjubkan. Tampak pohon-pohon besar berada di sekelilingnya, berjejer dengan rapinya. Masih terdengar kicauan burung yang menambah indahnya suara alam. Ia tidak menyangka Opanya akan memperlihatkan alam yang masih sangat alami dan begitu indahnya dengan pesona yang dimilikinya. Sedangkan Opa, ia memejamkan matanya beberapa saat sambil menikmati udara pagi yang begitu menyegarkan. Ia teringat kembali akan kenangannya masa lalu.
            “Indah sekali Opa.”surprise Arenz. Opa tersenyum mendengarnya.
            “Opa benar-benar hebat bisa menemukan tempat seindah ini.”ucap Arenz.
            “Indahnya,..”gumamnya lagi.
            “Opa ingin menunjukkan sesuatu padamu, kemari ikut Opa!”perintah Opa. Arenz berjalan mengekor  dibelakang. Opa berjalan menuju sebuah batu berukuran besar. Bahkan ukurannya lebih besar dari tinggi badan Arenz. Arenz mengernyitkan dahinya, entah apa yang berada dipikirannya. Opa sedikit berjongkok dan mulai memindahkan batu—batu kecil yang berada disekitar batu besar itu. Selagi Opa berjongkok dan entah apa yang sedang dilakukan Opa saat ini, Arenz melihat sekelilingnya sekali lagi. Rumput-rumput liar tumbuh dimana-mana menjulang tinggi. Daun-daun kering berjatuhan dari atas pohon. Tak henti-hentinya ia bersyukur akan keindahan alam yang berada dihadapannya saat ini.
            Arenz kembali mengernyitkan dahinya saat Opa memperlihatkan sesuatu padanya. Sebuah kotak kecil berwarna kuning keemasan dengan ukiran disetiap sisinya.
            “Masih seperti dulu.”gumam Opa.
            Opa memberikan kotak itu pada Arenz,”Bukalah!”pinta Opa.
            Dengan ragu-ragu dan rasa penasarannya Arenz membuka kotak itu perlahan. Sebuah serpihan batu giok berbentuk setengah hati dengan warna hijau zamrud bertengger diatas bantalan kotak itu. Arenz terpukau melihatnya. Ia meraih giok itu perlahan.
            “Indah sekali, Opa”surprise Arenz kedua kalinya.
            “Serpihan giok ini pemberian Oma untukmu sebagai kado ulang tahunmu ke-17. Sebenarnya Oma ingin memberikannya sendiri saat umurmu 17 tahun tapi, takdir berkata lain. Oma meninggal saat usiamu 7 tahun. Maka dari itu Oma meminta Opa untuk memberikan serpihan ini saat umurmu menginjak 17 tahun. Saat ini!”Opa menerawang masa lalu. Mata Opa berkaca-kaca mengenangnya. Arenz merasakan kerinduan Opa yang selama ini terpendam. Ia pun memeluk Opa.
            “Opa,..Opa jangan sedih!”pinta Arenz yang sudah menitikan air mata terlebih dahulu. Opa tersenyum mendengarnya. Opa membelai rambut cucunya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
            “Sudahlah, Opa tidak apa-apa kok.”Opa melepas pelukannya.
            “Oh ya, konon serpihan giok ini memiliki mitos lho”ucap Opa membuat Arenz bingung.
            “Mitos?”
            “Dulu saat Oma membeli serpihan ini, ia diberitahu bahwa serpihan ini memiliki pasangan. Jika kedua giok ini disatukan maka akan terbentuk sebuah hati yang melambangkan keabadian cinta. Maka siapapun yang memilki serpihan pasangan giok ini. Dia adalah jodohmu. Sedangkan saat Oma membelinya, pasangan serpihan ini sudah tidak ada. Jadi, ini adalah mitos yang cukup menarik bukan”jelas Opa.
            “JODOH”gumam Arenz sambil menerawang jauh menatap cakrawala.

000

            Bungkusan berwarna biru itu masih bertengger diatas meja nakasnya. Dengan senangnya Arenz mengambil bungkusan itu.
            “Ehm, apa ya isinya?”
            Arenz menimang-nimang bungkusan itu, ia pun mulai membukanya. Arenz penasaran dengan kado pemberian Opa tadi malam. Saat membuka kadonya sesekali Arenz tertawa kecil mengingat kejadian semalam saat Opa memberikan surpirse padanya. Opa bernyanyi didepan pintu dengan gitar tuanya yang diiringi koor Bi Inah dan Pak Min. Arenz segera bangun saat mendengar sayup-sayup suara Opa. Dengan kantuk yang masih menggelayut dibukanya pintu kamarnya.
            “SURPRISE”ucap Opa, Bi Inah dan Pak Min bersamaan. Lagu selamat ulang tahun pun keluar dari mulut Opa. Arenz tertawa melihatnya, ia tidak menyangka Opa akan mengadakan surprise party malam-malam begini. Dengan do’a Arenz meniup kue ulang tahunnya yang diiringi tepuk tangan Opa, Bi Inah, dan Pak Min. setelah pesta kecil-kecilan Arenz langsung kembali ke kamarnya. Tak sempat membuka kado ia sudah tertidur pulas.
            Arenz terkejut, sebuah kamera digital keluaran terbaru bertengger dengan indahnya. Kamera yang sangat ia impikan akhir-akhir ini, kini menjadi miliknya. Ia pun mengambil kamera itu dan menimangnya dengan suka cita. Tak hentinya ia memandangi kamera itu. Ia pun mencoba kamera itu dengan memotret dirinya sendiri. Arenz tertawa melihat dirinya dalam kamera itu, raut wajah bangun tidur yang belum ada polesan sedikitpun diwajahnya. Arenz kembali meraih bungkusan itu mencari sesuatu yang lain. Ia menemukan secariik kertas berwarna biru. Arenz mulai membac
            Untuk Arenza cucuku

Tahun silih berganti, dengan bertambanhya usiamu Opa harap kamu menjadi yang terbaik untuk orang-orang yang kamu sayangi. Tetaplah menjadi Arenz yang periang, yang selalu membuat semua orang tersenyum. Dan ingat! Kamu akan selalu menjadi peri kecil Opa.
                                                                        Dari Opa yang menyanyangimu       
          Arenz melipat kembali suratnya, matanya berkaca-kaca.
            “Opa,..”gumamnya. ia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini ia terlalu sering menangis  bahagia. Opa membuatnya selalu ingin menangis.
            Arenz melirik jam dindingnya. Waktu menunjukkan pukul 5 pagi, waktunya untuk salat shubuh. Arenz pun beranjak dari tidurnya berjalan menuju kamar mandi.
            Buru-buru Arenz keluar dari kamarnya. Ia membawa kamera pemberian Opa. Tidak sulit mencari Opa yang selalu melakukan rutinitas pagi hari. Arenz menemukan Opa sedang duduk diteras sambil memandangi bunga-bunga yang bernekaran.
            “Opa,..”panggilnya. Arenz berlari menghampiri Opa dan langsung menghambur ke pelukan Opa. Opa sedikit terkejut dengan kedatangan Arenz tapi, kemudian sebuah senyuman tersungging dari bibirnya.
            “Arenz sayang Opa”ucap Arenz sambil melepas pelukannya.
            “Opa juga sayang Arenz, Arenz mau berjanji dengan Opa?”
            Arenz mengangguk. Opa pun menunjukkan jari kelingkingnya yang disambut dengan jari kelingking Arenz.
            “Opa ingin Arenz selalu tersenyum apapun yang terjadi suatu saat nanti. Dan tetap berdiri walaupun badai menerjang. Seperti layaknya seorang Srikandi”
            “Arenz janji, Opa. Arenz berjanji akan selalu tersenyum dan tetap berdiri walaupun badai menerjang”
            “Satu lagi, olahraga akan membuatmu menjadi lebih baik dalam menghadapi hari esok”
            “Ihh,.. Opa ngga nyambung. Masa nyambungnya ke olah raga”protes Arenz. Opa tertawa mendengarnya.
            “Suatu saat nanti kamu akan tahu alasannya”sahut Opa misterius membuat Arenz bertanya-tanya dalam hati.
            Senyuman pun mucul dari keduanya. Kemudian disambung dengan gelak tawa dari keduanya. Tawa kasih sayang seorang kakek kepada cucunya. Tawa yang akan selalu terkenang diantara mereka.

000

bersambungggg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar