Senin, 28 Mei 2012

novel jilid 1

#ABSTRAK                                                ARENZ bag 4



Makan di Lesehan Kenari adalah favoritnya. Makanannya yang selalu menggoda selera membuat Arenz tak bisa jika tidak menikmatinya setiap hari apalagi nasi goreng telurnya sangat menggoda selera. Arenz mengambil tempat duduk dibawah pohon. Ia menunggu pesanannya datang sambil menikmati keadaan sekitarnya. Siang ini lesehan tidak terlalu ramai karena memang biasanya lesehan ini ramai menjelang sore sampai malam. Tak berapa lama kemudian pesanannya pun datang. Mbak Sarti yang mengantarkannya. Arenz tersenyum melihat nasi goreng kesukaannya sudah ada di depan matanya. Hanya tinggal tunggu waktu menyantapnya.
“Ini nasi goreng special kesukaan mbak Arenz sudah siap”
“Makasih Mbak”
“Oh ya, tumben Mbak Arenz ke sininya siang? Biasanya agak sorean?”
“Hehe,.. iya neh. Habis sudah keburu laper Mbak”
“Haha,… Mbak Arenz ini bisa aja. Yaudah Mbak, selamat menikmati. Saya ke belakang dulu, ya”
“Oke”
Sepeninggal Mbak Sarti pergi, Arenz pun langsung melahap makanannya.

000

Sosok itu berdiri mematung. Tatapannya penuh kebencian memandang cakrawala didepannya. Disampingnya terlihat seorang cewek tengah menangis tersedu-sedu. Ia berbalik tanpa memandang cewek itu.
“Tangisan buaya kamu, tidak akan mengubah keputusanku”jelasnya dingin.
“Aku mohon, maafkan aku. Apakah tidak ada lagi rasa sayangmu untukku?Aku masih sangat menyanyangimu”
“Sayangnya rasa itu telah berubah menjadi kebencian untukmu. Tapi, aku harus berterima kasih padamu karena kamu telah membukakan mataku tentang semua ini.”
“Aku mohon, maafkan aku. Aku khilaf saat itu”akunya membuat cowok itu tersenyum sinis.
“Oh ya, khilafkah?Sudah berapa kali kamu melakukannya?Dibayar berapa kamu sampai kamu mau melakukannya?HAH!!!Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu karena aku menghormatimu sebagai perempuan. Tapi, apa yang kamu lakukan dibelakangku?Pengkhianatan!!!Kamu menunjukkan bahwa kamu tak pantas untuk dihormati bahkan dihargai”jelasnya. Cowok itu mengambil biolanya kemudian pergi dengan ninjanya. Sedangkan cewek yang disampingnya hanya menangis dan terus menangis.
Arenz terpaku melihatnya. Kejadian itu benar-benar didepannya. Baru kali ini ia melihat kejadian itu. Dengan ragu ia mendekati cewek itu.
“Jika kamu ingin meneruskan tangismu, pergilah!Jangan disini atau semua orang akan melihatmu!”ucapnya membuat cewek itu menghentikan tangisnya. Cewek itu pun tersadar ketika semua orang berkerumun melihatnya. Ia pun langsung lari menembus kerumunan itu yang diikuti seruan dari kerumunan orang itu. Arenz menghela nafasnya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.
Hari ini ia ingin melihat pameran yang dilihatnya kemarin di spanduk. Ia pun menyetop taksi karena ia tidak mengetahui daerah yang tertera di spanduk itu. Taksi itu pun langsung berjalan menuju gedung yang yang dimaksud.
“Oh, mb’nya mau lihat pameran ya mb’?”tanya sopir taksi itu.
“Iya nih, pak”
“Saya tadi juga kesana lho mb’. Nganterin pelanggan yang juga kesana. Kayaknya sih pameran kali ini berbeda deh mb’ dari biasanya, orang biasanya pamerannya diadainnya ngga’ di situ.”
Jogja Expo Center, maksud bapak?”
“Iya mb’, biasanya itu  di gedung kesenian atau di moseum. Lha ini malah di JEC”Arenz mengangguk mengerti karena ia memang belum mengetahui semuanya tentang Jogja.
“Bapak kerja sebagai sopir taksi sih berapa tahun?”tanyanya.
“Sudah 10 tahun ini, mb’”jawab sopir itu.
“Oh,.. berarti sudah lama banget ya, pak?”
“Ya, kira-kira sich begitu, mb’”
“Bapak, ngga’ bosen melakoni pekerjaan sebagai sopir taksi?”
Sopir itu tertawa mendengar pertanyaan Arenz.
“Semua orang pasti memiliki rasa bosan dalam melakoni pekerjaannya. Tinggal kita pintar-pintar aja mengatasinya”jelas sopir itu membuat Arenz terpukau dengan jawaban yang diberikannya. Ternyata, walaupun hanya sopir taksi tidak membuatnya menjadi orang yang berpikiran sempit.
“Yah, walaupun saya cuma sebagai sopir taksi alhamdulillah saya bisa menyekolahkan anak saya sampai kuliah”
“Memang anak bapak kuliah dimana, pak?” tanya Arenz penasaran. Sopir itu menyebutkan sebuah universitas.
“Wah, hebat dong!Universitas kebanggaan saya itu pak. Anak bapak di jurusan apa pak?”tanya Arenz menggebu-gebu.
“Di kedokteran”
“Wah, benar-benar hebat!”
“Saya itu bersyukur sekali lho mb’ anak saya sampai diterima di sana. Saya dulu malah tidak sempat membayangkan menyekolahkan anak saya sampai kuliah. Tapi, berkat kegigihan anak saya. Dia berhasil masuk melalui jalur beasiswa tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun”cerita sopir itu menggebu-gebu. Arenz tersenyum melihat ekspresi sopir itu yang begitu semangat menceritakan kisah hidupnya. Air mata disudut mata sopir itu pun jelas menggambarkan kebahagiannya.
“Bapak, pasti bangga sekali, ya”timpal Arenz.
“Pastinya mb’, saya sampai tidak tahu harus berbuat apa waktu mendengar berita itu. saya hanya bisa bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Yang Maha Kuasa.”
“Mb’ sendiri kuliah dimana?”
“Di Akutansi, pak”
“Wah, Ryan itu mb’. Akhir-akhir ini kan pekerjaan yang melibatkan sarjana akuntansi cukup banyak. Saya doakan mb’ sukses nantinya”
Arenz terharu mendengarnya.
“Amin. Makasih pak atas doanya”
“Sama-sama mb’”
Arenz termenung. Ia memejamkan matanya beberapa saat. Terima kasih, pak. Bapak telah memberiku sepercik harapan  untuk hal ini. Batin Arenz.
Sopir itu menghentikan taksinya. Ia menoleh kebelakang dengan senyum khasnya.
“Sudah sampai, mb’”Arenz tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum.

Jogja Expo Center merupakan gedung dengan halaman yang cukup luas. Halamannya pun dibuat sedemikian rupa agar terlihat indah dan rapi. Gedung itu telah dipenuhi banyak orang rupanya. Kebanyakan yang menghadiri pameran adalah para seniman dari berbagai daerah.  Terlihat dari cara mereka mengungkapkan gaya bahasa mereka. Arenz menatap gedung itu. spanduk yang ia lihat kemarin pun terpasang juga di sepanjang jalan. Sepertinya ini memang pameran besar-besaran. Pikirnya.
Arenz melangkahkan kakinya memasuki gedung itu. di depan pintu terpasang sebuah denah lokasi pameran karya seni itu. Sederet seniman sastra membuka stand di sebelah timur, itu pun masih terbagi menjadi beberapa stand. Seperti sastra puisi, cerpen, novel, syair dan lainnya. Kemudian diikuti oleh stand-stand yang memamerkan karya-karya lukisan mereka. ada  juga yang memainkan drama teater disebuah panggung kecil ditengah-tengah. Kemudian di ujung sebelah barat untuk para seniman musik. Mereka memperlihatkan keahlian mereka dalam bermain musik dengan memainkan beberapa alat musik. Ada juga yang bernyanyi, menciptakan syair baru secara spontan ditengah keramaian. Sehingga gemuruh tepuk tangan terdengar dari segala arah. Ia tersadar ternyata yang menghadiri pameran ini tidak hanya para seniman tapi juga puluhan pelajar yang bersorak gembira melihat tontonan mereka masing-masing. Mereka terlihat karena memakai seragam sekolah mereka. Ada juga beberapa masyarakat umum yang tampak antusias menghadiri pameran ini. Arenz tersenyum melihatnya.
Arenz memperhatikan seorang seniman yang tengah membaca sebuah puisi. Ia mencoba memahami makna puisi yang dibacakan oleh seniman itu. setelah itu ia pun berkeliling melihat pameran-pameran yang lain. Arenz menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memainkan sebuah biola. Lagu yang dimainkan seniman itu langsung menyentuh hatinya begitu ia mendengarkan. Sebuah lagu dengan nada kesedihan yang begitu sempurna menyedot otaknya untuk berhenti berfikir dan menjadikannya menikmati alunan nada itu. Arenz seperti ikut merasakan apa yang tengah dituangkan dalam lagu itu. Sepertinya seniman itu tengah menuangkan perasaannya dan berbaur dalam satu alunan nada yang dimainkannya. Tepuk tangan terdengar gemuruh di sekitar stand itu. Ternyata seniman biola itu mampu menyedot banyak pengunjung dan mendapatkan pujian dari penonton. Arenz pun memberikan tepuk tangannya pada pemain biola. Tapi, kemudian ia tersadar.
“Dia,..?”pikirnya tak percaya melihat apa yang dilihat didepannya.

000

Arenz mencari keberadaan cowok biola itu. Tiba-tiba cowok itu menghilang ditengah-tengah  gemuruh tepuk tangan. Mungkinkah permainannya menggambarkan kejadian tadi pagi?Ah,.. tapi itu bukan urusanku. Simpul Arenz kemudian. Ia pun keluar dari kerumunan. Mendingan lihat yang lain. Pikirnya. Tapi, tiba-tiba perutnya mengkerut dan mengeluarkan bunyi membuat Arenz merubah niatnya. Ia pun memutuskan untuk mencari tempat makan terlebih dahulu.
Arenz memasuki warung bakso dipinggir jalan tak jauh dari JEC. Setelah memesan bakso kesukaannya ia pun mencari tempat untuk duduk melepas lelahnya. Tidak terasa ia telah berdiri berjam-jam di pameran tadi. Sambil menunggu pesanannya ia mengambil buku diarynya. Belum sempat ia membukanya, pesanannya telah datang. Ia pun memasukkan kembali buku diarynya.
Seseorang membuatnya menghentikan makannya ketika ia mendengar perkataannya. Matanya pun beralih pada sosok itu. seorang cowok dengan kemeja biru tua yang tengah memesan. Sesaat ia nampak berfikir tapi, kemudian ia pun melanjutkan kembali makannya. Tapi, Arenz kembali menghentikan makannya saat seseorang menyapanya.
“Permisi, boleh saya duduk disini?”tanya seorang cowok dengan logat jawanya. Arenz menengadahkan kepalanya. Ternyata cowok berkemeja biru itu yang menyapanya. Ia pun tersenyum mempersilakan cowok itu duduk.
“Mb’ ini ngga’ pake micin tho mb’?”tanya cowok itu kepada pelayan.
“Iya mas, bakso ini sesuai pesanan masnya kok”jawab pelayan itu.
“Ryan, makasih kalau begitu”
 Arenz telah mengahabiskan makanannya. Ia menoleh ke arah cowok disampingnya yang tengah sibuk mencampur kecap dan sambal kedalam baksonya.
“Mas, dokter ya?”tanya Arenz tiba-tiba membuat cowok itu menoleh heran.
“Kok mb’ tw?”tanyanya penuh selidik. Arenz tersenyum.
“Terlihat dari cara mas memesan bakso”jawab Arenz yang disambut senyum cowok itu.
“Yah, tepatnya baru mau mb’ soalnya belum jadi sarjana”jelas cowok itu.
“Oh ya, kenalan dulu mb’ nama saya Bowo”ucapnya.
“Arenza”
“Oh,.. mb’ Arenza”
“Ngga usah pake mb’ soalnya sepertinya saya lebih muda dari masnya”cowok itu tertawa mendengar ucapan polos Arenz.
“Haha,.. iya dech Arenza”ucap Bowo membuat Arenz tertawa mendengar logat jawa Bowo yang begitu kental.
“Kita ngobrol sambil aku makan ya””Kamu bukan asli jogja, ya?soalnya gaya bicaramu beda, Arenza”tebak Bowo.
“Kata siapa aku bukan orang asli Jogja. Ibuku asli jawa sedangkan ayahku asli sunda”Sanggah Arenz.
“Oh, berarti kamu keturunan Jawa-sunda tho. Pantesan bentuk-bentuk wajah kamu itu membentuk dua daerah itu”canda Bowo.
“Yee, memangnya aku pulau apa”keduanya pun tertawa.
“Kamu lucu juga ya…”“Oh ya, dari mana kamu menyimpulkan bahwa aku memesan bakso ngga’ pake penyedap rasa itu menandakan kalau aku seorang dokter?”tanya Bowo. Arenz terdiam beberapa saat.
“Ehm, … nebak aja. Mungkin untuk gaya hidup sehat”tebak Arenz tersenyum kecut.
“Exactly”sahut Bowo.
“Temenku aja ya, saking sukanya sama bakso sampai-sampai dia belajar untuk membuat bakso yang tanpa penyedap rasa. dan hasilnya pun tidak kalah dengan bakso yang kita makan. Kapan-kapan dech aku ajak kamu ke tempatnya untuk mencicipi masakannya. Dijamin mak nyos!!Tapi, Itu aja kalau dia lagi buat, hehe …”Arenz tersenyum.
“Tapi, karena aku tidak sehebat dia dalam memasak. Aku putuskan kalau aku beli bakso tanpa micin. Oh ya, kamu sudah kuliah? di jurusan apa?”tanyanya
“Akuntansi”jawab Arenz pendek.
“Oh pantes, mukamu itu kayak ada perkaliannya.”canda Bowo. Arenz tertawa mendengarnya.
“Ada-ada aja”sahut Arenz.
“Oh ya, kata temenku itu kalau kita melakukan gaya hidup sehat menjadikan kita tahan banting. Maksudnya kita dapat menjaga keseimbangan tubuh kita apabila ada hal-hal yang mengganggu kehidupan kita. Contohnya saja bila kita ada masalah. Seberapa besar pun badai menerjang kamu akan tetap berdiri di posisimu. Karena kamu memiliki pemikiran yang jernih dan berbeda dari orang lain.”Arenz merenungi ucapan Bowo. Sepertinya ia pernah mendengar hal itu tapi, dari siapa ya?. Pikirnya.
“Kata temenku juga yang terpenting adalah olah raga. Karena dengan olah raga akan membuatmu   menjadi lebih baik dalam menghadapi hari esok”ucap Bowo menggebu-gebu.
Seketika itu Arenz teringat sesuatu.
“Opa?”ucapnya lirih.
“Arenza, kamu ngga’ papa kan?”tanya Bowo yang melihat Arenz terdiam.
“Oh, ngga papa kok. Aku duluan ya. “
“Iya, hati-hati Arenza”Arenz beranjak dari duduknya. Ia segera ke kasir. Setelah membayar ia berjalan keluar. Tapi, sesaat ia membalikkan badannya waktu Bowo memanggilnya kembali.
“Arenza, sukses ya!”ucap Bowo membuat Arenz tersenyum.
“Makasih,”sahut Arenz tanpa mengeluarkan suara. Ia pun segera bergegas pergi.

000

Arenz membuka laci mejanya. Tampak sebuah kotak kecil keemasan bertengger didalamnya. Diambilnya kotak itu perlahan. Opa?.pikirnya.
Serpihan batu giok itu kini berada ditangannya. Digenggamnya serpihan itu dengan kuatnya. Terngiang-ngiang wajah opa dipikirannya. Karena genggamannya yang terlalu kuat, ia tidak menyadari bahwa ia telah menjatuhkan kotak itu. Saat ia akan mengambil kotak itu, ia melihat sesuatu dibalik bantalan kotak itu. Sebuah kertas yang terlipat cukup tebal dengan warna sama seperti kotak itu “keemasan”. Ia merasa asing dengan kertas itu. karena ia tidak pernah melihatnya. Ia memang tidak pernah membukanya sejak kematian opa. Dengan rasa penasaran yang membuncah. ia membukanya dengan cepat dan mulai membaca isi tulisan itu.

Untuk Arenz peri kecil Opa.
Mungkin saat kamu membaca tulisan ini, opa sudah tidak ada disisimu lagi, cucuku.
Tangan Arenz gemetar saat ia membaca tulisan Opa. Matanya mulai berkaca-kaca.
Opa ingin kembali memberimu selamat untuk kedua kalinya. Yang mungkin tidak bisa Opa ucapkan lagi nantinya. Selamat Ulang Tahun, cucuku. Semoga apa yang kau cita-citakan tercapai. Dan kau selalu berada dalam lindungan-Nya.
Maaf, jika Opa tidak memberitahukan kepadamu tentang penyakit jantung Opa yang kambuh beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya Bi Inah dan Joko sudah mengetahuinya sejak peristiwa itu. yaitu sejak Opa jatuh pingsan beberapa bulan yang lalu tepatnya saat Ayahmu kecelakaan. Sejak saat itu opa sering merasakan nyeri didada opa.  Opa sudah mencoba berobat ke kota sampai-sampai opa berbohong padamu bahwa opa harus pergi beberapa hari untuk urusan perkebunan. Tapi, sepertinya takdir berkata lain. Opa divonis penyakit jantung opa semakin parah dan harus segera dicangkok. Opa menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan seorang pendonor. Tapi, tak ada hasilnya. Akhirnya opa memutuskan untuk menghentikan pencarian itu. dan kembali dengan kehidupan opa. Opa bersyukur karena opa menjalani sisa hidup opa ditemani oleh seorang peri kecil bernama Arenza. Sosok orang yang selalu ceria dan semangat dalam menjalani hidupnya. Dia tetap tertawa walaupun sebenarnya ia menangis. Seorang cucu yang dapat membuat semua orang tersenyum padanya. Dialah kamu, Arenza. Sosok gadis yang merindukan sentuhan kasih sayang pada mulanya tapi kemudian tumbuh menjadi sosok seorang gadis yang selalu memberikan kasih sayangnya pada setiap orang agar mereka selalu tersenyum.
Opa tidak ingin membuatmu menjadi khawatir karena penyakit opa. Maka dari itu, opa tidak pernah memberitahumu tentang hal itu. Opa pun melarang keras Bi Inah ataupun Joko memberitahukan hal itu kepada orang tuamu apalagi padamu.
Opa sering mengajakmu untuk berolah raga karena opa tidak ingin kamu seperti opa. Opa tidak ingin kamu memiliki penyakit sama seperti opa. Opa ingin melihatmu selalu sehat. Opa selalu menekankan padamu untuk selalu berolah raga. Opa harap kamu tidak melupakan pesan opa untuk hal ini. Hahaha ….. tapi, opa jamin kamu pasti lupa. Ingatlah Arenz bahwa olah raga dapat membuatmu menjadi lebih baik dalam menghadapi hari esok! Karena akan membantu dalam menyeimbangkan kesehatan jasmani dan rohanimu.
Arenza, jagalah dengan baik serpihan giok pemberian omamu. Mungkin itu akan membawamu pada sosok yang akan menemanimu suatu saat nanti. Sosok yang akan menjadi suamimu. Opa yakin kamu akan mendapatkan seseorang yang memang pantas untuk gadis sebaik kamu. Dan ingat jangan lupa untuk memperjuangkan cita-citamu,  Bu dokter!
Opa yakin kamu pasti bisa. Dengan semangat dan ceriamu yang selalu tinggi. Kamu pasti bisa meraihnya!
Terimakasih cucuku karena kamu telah menjadi peri kecil opa. Dan kamu mampu membuat opa bangkit setelah kematian omamu.
Opa menyanyangimu, Arenza.

                                                        Dari opa yang selalu menyanyangimu


Air mata Arenz tak dapat lagi dibendung. Ia menangis sesenggukan dibawah ranjangnya. Pikirannya melayang entah kemana. Namun yang ada dalam benaknya saat ini adalah kerinduan. Kerinduan yang terpancar jelas dari sorot matanya. Ia rindu akan belaian opa yang begitu menyanyanginya. Lama Arenz duduk mematung. Tapi, perlahan-lahan Arenz beranjak dari duduknya. Serpihan giok itu masih digenggamnya. Ia pun kembali meletakkan serpihan itu ditempatnya.

000

bersammbuuungggg,,,,,,

Selasa, 08 Mei 2012

novel jilid 1

#ABSTRAK                                  ARENZ bag 3


by: Dezira Qoryza

Gesekan itu semakin pelan dan tak terdengar. Sosok itu membuka matanya kembali. Kenangan indah di masa lalunya merasuk kembali dalam ingatannya. Ia terdiam beberapa saat. Kemudian meletakkan kembali biolanya. Ia merindukan seseorang.

000

            “CEPRET”kilatan cahaya keluar dari kamera Arenz. Ia tersenyum. Hari ini ia telah berhasil mengambil  gambar perkebunan teh Opanya dari atas. Rasa senang menyelimutinya. Ia berjalan menuruni jalan setapak.
            Arenz tersenyum jahil saat melihat calon objeknya, terlihat Joko tengah sibuk memetik daun teh. Berjingkat-jingkat Arenz mendekati Joko. Sepertinya Joko tidak menyadari kehadiran Arenz. Arenz mulai meluncurkan jurus kejahiliannya. Dengan sedikit membungkuk ia menali silang tali sepatu Joko. Kemudian ia memakai topeng hantu yang sudah disediakanya. Dengan senyuman jahilnya ia menepuk pundak Joko. Saat Joko menoleh Arenz meneriakkan sesuatu yang membuat joko ketakutan. Joko pun terjatuh saat ia berniat berlari karena sepatunya tak bisa jalan, akibatnya ia terguling beberapa meter ke bawah. Bajunya kotor penuh dengah tanah basah,  wajahnya pun dipenuhi debu yang menempel. Sekali lagi tiba-tiba wajahnya terkena kilatan cahaya yang membuatnya menyipitkan matanya. Joko ngos-ngosan. Untung saja ranjangnya tadi tidak dipakainya, kalau dipakai kacaulah semua daun tehnya yang dipetiknya sedari tadi akan jatuh semua.
            “ARENZ,..”teriak Joko kesal.
            “CEPRET” lagi-lagi Arenz mengambil gambarnya. Dengan tawa khasnya Arenz berlari menjauh. Joko berusaha bangkit dan mengejar Arenz. Ia akan memberi balasan yang setimpal untuk Arenz. Joko mulai kehilangan jejak Arenz. Arenz terlalu cepat larinya. Ia pun  menelusuri perkebunan itu mencari sosok Arenz. Tiba-tiba ia dijegal seseorang yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Akhirnya ia terjatuh untuk kedua kalinya.
            “CEPRET”lagi-lagi kilatan cahaya membuatnya menyipitkan matanya.
            “ARENZ”teriak Joko semakin kesal.
            “Hahaha,.. makasih ya Mas Joko”
            “Daa,…”Arenz melambaikan tangannya. Joko ingin sekali mengejarnya tapi apa dayanya. Ia merasakan tubuhnya sakit bukan main. Arenz telah menguras tenaganya untuk bangun.
            “SIAL!PARAH!”gerutunya kesal.

            Langkah Arenz terhenti ketika melihat sebuah mercedes biru bertengger manis dipekarangan rumahnya. Ia tersenyum saat melihat plat mobil AB123Q. Senyumnya semakin mengembang. Dengan berlari kecil ia memasuki rumah.
            “Ayah! Bunda!”suara Arenz menggema di seluruh isi ruangan membuat semua yang ada di dalam menutup telinganya risih.
            “Arenz!”seru Opa, Ayah, dan Bunda bersamaan. Arenz nyengir kuda menanggapinya.
            “Ayah, Bunda!Arenz kangen!”ucap Arenz masih dengan volume tingginya membuat Ayah Bundanya menggelengkan kepalanya. Arenz menghambur ke pelukan kedua orang tuanya.
            “Bunda sama Ayah juga kangen Arenz. Banget malah”sahut Bunda sambil mencium pipi Arenz gemas.
            “Oh iya, Ayah dan Bunda punya sesuatu buat kamu”ucap Ayah sambil memberikan sebuah bungkusan pada Arenz. Arenz menerimanya dengan senang hati. Dengan semangat Arenz membuka bungkusan itu.
            Sebuah handphone keluaran terbaru bertengger dengan manisnya dalam bungkusan itu. Diraihnya handphone bercorak siluet oranye. Arenz terkesima melihatnya.
            “Bunda sengaja memilih warna oranye karena Arenz suka banget sama warna oranye”
            “Gimana sayang?”tanya Ayah.
            “Ryan banget Yah. Makasih ya, Ayah Bunda”ucap Arenz sambil menimang-nimang handphone barunya. 
            “Happy birthday, ya sayang.”ucap Bunda.
            “Makasih Bunda”sahut Arenz.
            “Oh ya, tunggu bentar!”Arenz berlari kecil ke kamarnya membuat semua orang terheran. Arenz kembali muncul sambil membawa kamera barunya.
            “Ini dia, Arenz juga dapet hadiah dari Opa”Arenz menunjukkan kameranya.
            “Wah Ryannya!!Opa memang pandai memilih”puji Bunda.
            “Iya dong, walaupun sudah tua tapi semangat masih muda”timpal Opa membuat semua yang berada di ruangan itu tertawa.
            “Sekarang kita foto bareng ya. Buat kenang-kenangan”
            “Oke dech, Ayo baris yang rapi!”seru Opa. Semua pun berdiri membentuk satu barisan. Arenz berdiri ditengah-tengah antara Opa dan kedua orang tuanya.
            “CEPRET”gambar itu pun berhasil diambil dengan sempurna. Sebuah kenangan yang takk

000

            Canda dan tawa menghiasi bibir manis Arenz beberapa hari ini. Kedatangan Ayah Bundanya mampu membuatnya betah untuk tidak menjahili orang. Kali ini pun pagi-pagi sekali Arenz bangun dari tidurnya karena Ayah dan Opa mengajaknya untuk berlari pagi. Arenz berlari menelusuri jalan setapak. Dibelakangnya tampak Ayah dan Opa berlari mengejarnya.
            “Arenz tunggu kami!”teriak Opa ngos-ngosan. Arenz menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya sambil berkacak pinggang.
            “Siapa suruh nantang Arenz!”ucap Arenz setengah berteriak sambil membusungkan dada. Ayah menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah putri semata wayangnya sambil terus berlari. Arenz kembali melangkahkan kakinya tapi, kali ini ia menurunkan kecepatan larinya.
            “Seperti itulah anakmu, keras kepala, maunya menang sendiri, manjanya minta ampun mentang-mentang ia cucuku satu-satunya. Dan satu lagi, jahilnya minta ampun dech”ucap Opa membuat Ayah tersenyum mendengarnya.
            “Satu hal lagi yang terlupakan Opa, yaitu keceriannya yang selalu membuat orang tersenyum jika melihatnya. Dan itulah yang membuatku selalu merindukannya. Aku ingin membawanya pulang karena kukira ia sudah cukup lama tinggal disini”ucap Ayah membuat Opa kaget.
            “Jadi kamu ingin membawa Arenz kembali ke jogja?”
            “Sudah saatnya ia mengenal tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya suatu saat nanti, Opa. Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk Arenz termasuk mendaftarkannya di universitas terbaik di jogja. Tapi, semua keputusan aku kembalikan pada Arenz. Karena dia yang akan menjalaninya nanti”jelas Ayah. Hal itu membuat Opa sedikit kecewa, ia menghentikan langkahnya. Dalam pikirannya, terbayang wajah Arenz saat ia tersenyum dan ia tidak akan melihatnya kembali nanti.
            “Ayah!Opa!”Panggil Arenz dari atas gubuk.
            “Opa, Ayo cepat!Arenz sudah sampai atas tuch”ajak Ayah membuat Opa tersadar dari lamunannya.
            “Oh iya,..”
            Arenz tersenyum melihat Ayah dan Opanya telah sampai diatas. Mereka berjalan menghampiri Arenz.
            “Gimana Ayah, Opa?Arenz menangkan!”seru Arenz.
            “Ya ya ya, kamu pemenangnya”sahut Ayah.
            “Baiklah, Opa ngaku kalah. Gelar raja tercepat Opa berikan sama kamu”ucap Opa membuat Arenz melonjak kegirangan.”Yes”ucapnya disela tawanya. Opa ikut tertawa mendengarnya. Sedangkan Ayah hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arenz dan Opa sambil sesekali tersenyum.
            “Kakek sama cucu, sama aja sifatnya”gumam Ayah.

            Arenz menatapi brosur-brosur yang ada dihadapannya. Ia memilah satu persatu brosur itu.
            “Ehm, Arenz pengen coba yang ini deh, Yah”ucap Arenz sambil menunjuk salah satu brosur yang menarik perhatiannya.
            “Baik, lalu yang lainnya. Pilihan cadangannya?”
            “Ehm, yang ini dech, Yah”
            “Ryan, kamu pintarnya milihnya”puji Ayah.
            “Iya dong, Arenz gitu lho”ucap Arenz bangga.
            “Aduh, sudah mulai nih narsisnya”sindir Bunda sambil membelai rambut Arenz. Arenz nyengir menanggapinya.
            “Oh iya, .. Opa mana, Bun?”tanya Arenz yang sedari tadi tidak melihat batang hidung Opanya.
            “Dikamar. Tadi Bunda lihat Opa masuk kamar setelah salat isya’. Mungkin Opa sudah tidur”simpul Bunda.
            “Oh,..”
            “Ayah Bunda, boleh ngga’ Arenz meminta satu permintaan lagi?”
            “Apa itu, sayang?”tanya Bunda.
            Arenz menerawang ke atap rumah. Ia tersenyum simpul.

            Disisi lain, Opa tengah duduk diatas kasurnya. Dalam keremangan lampu ia memegang sebuah bingkai yang terdapat foto Arenz didalamnya. Disentuhnya foto itu, pandangannya menerawang  jauh. Tak terasa ia menitikan air mata.
            “Arenz”ucapnya lirih.

000

            Pagi-pagi sekali Arenz sudah mengetuk pintu kamar Opa. Arenz tersenyum saat  Opa membukakan pintu untuknya.
            “Pagi Opa,..”sapa Arenz dengan senyuman khasnya. Opa tersenyum.
            “Ada apa ini? tumben pagi-pagi sudah ke kamar Opa?”tanya Opa heran.
            “Ayo masuk!”

            Opa mengernyitkan dahinya.“Apa? ke Jogja?”
            Arenz mengangguk mantap.
            “Mau ya, Opa. Opa tinggal di Jogja sama Arenz”pinta Arenz. Opa menggeleng pelan.
            “Arenz, Opa tidak bisa kalau harus tinggal di Jogja. Nanti yang akan mengurusi perkebunan Opa siapa? lagi pula tempat Opa disini bukan di Jogja.”tolak Opa.
            “Yah, Opa. Mas Joko kan bisa membantu Opa mengurus perkebunan, nanti kita kesini setiap satu atau dua bulan sekali. Lagi pula nanti kita bisa olahraga bersama, terus jalan-jalan”rayu Arenz. Opa tersenyum mendengarnya.
            “Tidak Arenz, Opa tidak bisa”
            Arenz menunduk kecewa.”Pokoknya, kalau Opa ngga’ mau ikut Arenz ngga’ mau sekolah di Jogja”ancam Arenz akhirnya membuat Opa merasa serba salah.
            “Arenz,”
            “Opa, Ayolah demi Arenz!”pinta Bunda tiba-tiba muncul dari pintu diikuti Ayah. Arenz tersenyum, ia merasa mendapat dukungan dari kedua orang tuanya.
            “Opa,..”
            Opa terdiam beberapa saat. Ia menghela nafas.
            “Kalau bukan karena Arenz, Opa ngga’ mau ke jogja”ucap Opa akhirnya membuat Arenz tersenyum.
            “Benar, Opa?Opa mau ke Jogja?”Opa mengangguk.
            “Yes,…!”seru Arenz bahagia.
            “Akhirnya kita ke Jogja besok. Jogja iam coming!”serunya membuat Opa, Ayah, dan Bunda tertawa.

000

            Arenz mengikat rambutnya sambil bercermin.
            “Oke, sudah selesai”ucapnya sambil merapikan kaos panjangnya.
            Dengan mendorong kopernya ia keluar dari kamarnya.
            “Selamat tinggal, kamarku”ucapnya sambil menutup pintu. Ia pun menghampiri kamar Ayah bundanya.
            “Ayah, Bunda!”panggilnya. sepi tak ada orang. Kopernya pun sudah tidak ada. Mungkin sudah kebawah duluan. Pikirnya. Ia pun menyusul ke bawah. Ia berniat untuk menghampiri Opa.
            Arenz menghentikan langkahnya ketika berada di depan pintu kamar Opa. Ia melihat kedua orang tuanya menangis di tepi ranjang Opa. Terlihat Opa tengah berbaring di ranjangnya. Arenz merasakan firasat buruknya.
            “Opa,..”ucapnya lirih. Ayah dan Bunda menoleh. Bunda pun menghampiri Arenz yang masih berdiri di depan pintu.
            “Bunda, Opa kenapa?Opa sakit?Opa kenapa, Bunda?”tanya Arenz, suaranya mulai serak.
            “Bunda kita jadi ke Jogja kan?””Bunda kenapa diam?kenapa Bunda ngga’ jawab?”.Arenz semakin tak terkontrol.
            “Arenz,”Bunda tak sanggup mengeluarkan kata-katanya. Arenz semakin bingung. Ia berlari menghampiri Opa. Dilihatnya Opa berbaring di ranjangnya dengan senyum yang mengembang dari bibirnya. Tangan Opa terlipat diatas perutnya. Arenz tak kuasa menahan tangisnya.
            “Opa?Opa kenapa?Opa kok tidur sih?kita kan mau ke Jogja sekarang. Kita harus berangkat Opa nanti takut ketinggalan pesawat”ucap Arenz parau.
            “Opa!bangun Opa!bangun!”ucap Arenz setengah berteriak sambil menggoyang-goyang tubuh Opa.
            “Arenz!”ucap Bunda.
“Bangun Opa!Opa bangun!”
“Sudahlah, Arenz”ucap Ayah sambil memeluk Arenz dari belakang. menariknya menjauh dari ranjang Opa.
“Ngga’ Yah, Opa harus bangun. Kita harus berangkat sekarang”ucap Arenz berusaha melepaskan pelukan Ayahnya.
“Arenz!Arenz dengarkan Ayah!”perintah Ayahnya.
“Opa sudah meninggal,  Arenz”ucap Ayah membuat Arenz semakin menangis.
“Ngga’ Yah, ngga’”rintih Arenz dalam pelukan Ayah. Semakin lama suara Arenz semakin pelan. Ayah merasakan tubuh Arenz begitu lemas. 
“Arenz,..”tak ada jawaban. Ia jatuh pingsan.

000

6 bulan kemudian disebuah toko musik.

Aku rindu setengah mati kepadamu…
Sungguh ku ingin kau tahu…
Aku rindu…
Setengah mati…
Aku rindu...

Arenz memejamkan matanya sambil menghayati lagu yang tengah diputar di toko musik itu. Lagu itu menggambarkan dirinya yang tengah merindukan seseorang. Ya., ia memang merindukan Opa. Tapi, ia juga merindukan seseorang yang tak dikenalnya tapi telah berani mengambil setengah isi hatinya. Lama-lama lagu itu redup dan berganti lagu lainnya. Arenz menghela nafasnya. Ia berjalan ke arah kasir.
“Permisi mb’, lagu yang baru saja diputar tersedia kasetnya ngga’ ya mb’?”tanyanya pada penjaga kasir.
“Oh, maksud mb’ D’Masiv?”penjaga kasir itu balik menanyainya.
“Ehm, iya mungkin”jawabnya ragu karena ia tak banyak tahu  tentang musik. Ia baru menyukai musik beberapa bulan yang lalu setelah mendengar sebuah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang disayanginya meninggal karena ia teringat akan kematian Opanya.  Sejak saat itu ia menyukai lagu-lagu mellow.
“Disebelah sana mb’, deket pintu sebelah timur”ucap penjaga itu.
“Oh iya, ehm bisa minta tolong ambilkan mb’”pinta Arenz. Penjaga kasir itu tersenyum.
“Sepertinya mb’ tidak terlalu mengetahui tentang musik ya?”tebak penjaga kasir itu membuat Arenz tersenyum kecut.
“Baiklah, ayo ikut saya mb’!”ajak penjaga kasir itu sambil berjalan menuju tempat yang dicarinya.
Arenz kembali mendengar sebuah lagu kesukaannya menggema ditelinganya.

Mengapa terjadi kepada dirimu…
Aku tak percaya, kau telah tiada..
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia…
Agar aku dapat, berjumpa denganmu…
            Arenz tersenyum sendiri mendengarkan lagu itu. Ia teringat Opanya. Ia kembali sadar saat penjaga kasir melambaikan tangannya didepannya.
            ‘’Mb’ ngelamun ya… mikirin apa sich mb?’’’ Arenz tersenyum sambil menggeleng pelan.
            ‘’Ehm,.. Mb’ lagi dengerin lagu yang baru diputar ya?’’tebak penjaga kasir itu membuat Arenz sedikit kaget.
            ‘’Lagunya peterpan, kan? Lagunya memang Ryan-Ryan kok. Ini lagu lama mb tapi, kalau mb’ mau biar saya carikan’’tawar penjaga kasir. Arenz menggelen pelan.
            ‘’Aku udah punya kok’’jawab Arenz.
            ‘’Oh…gitu.’’sahut penjaga kasir sambil kembali mencari kaset yang diminta Arenz.
“Ehm, ini dia”penjaga kasir itu menyerahkan kaset yang diminta Arenz.
“Lagunya sedih banget ya mb’ “ucap penjaga kasir itu membuat Arenz tersenyum.
“Atau mb’ lagi merindukan seseorang nih”tebak penjaga kasir itu membuat Arenz terpaku.
“Mb’ ngerinduin siapa mb’?pacar ya?”tebaknya lagi.
“Ehm, ngga’ kok. Cuma suka lagunya aja. Saya jadinya beli yang ini mb’”ucap Arenz.
“Baik mb’”Oh ya mb’, biasanya orang itu sukanya mengekspresikan dirinya lewat musik lho mb’. Ada yang dengan menyanyi ada juga yang dengan memainkan alat musik tertentu atau menciptakan lagu”ucap penjaga kasir itu sambil memberikan kembalian pada Arenz.
“Makasih, ya mb’. Kapan-kapan kesini lagi ya mb’”Arenz tersenyum menanggapinya. Ia keluar dari toko musik itu.
Kawasan malioboro selalu dipenuhi oleh lautan manusia. Mereka datang dari berbagai daerah dengan tujuan mereka masing-masing. Arenz langsung menyukai tempat ini sejak ia menginjakkan kakinya di Jogja 2 bulan yang lalu tepatnya dua minggu setelah Opanya meninggal.
Arenz berjalan menelusuri jalanan malioboro. Ia berhenti di halte trans Jogja, salah satu bus berwarna hijau yang beroperasi di wilayah sekitar malioboro selain bus-bus yang lain. Setelah membayar tiket ia duduk beberapa menit menunggu bus yang akan ia naiki datang. Tak berapa lama kemudian bus itu pun datang. Ia pun segera masuk dan mengambil tempat dekat pintu.
Arenz melirik orang disebelahnya yang tengah mendengarkan musik. Melihat itu ia jadi teringat akan kata-kata penjaga kasir tadi. Ia tertarik dengan “Menciptakan sebuah lagu” apakah mungkin ia bisa melakukan hal itu. Ia pun mengambil buku diarynya dalam tas. Ia kembali melihat tulisan-tulisannya selama ini. Sebuah tulisan ungkapan hatinya yang ia tulis dengan makna konotasinya. Lelaki disampinya meliriknya dan melihat lembaran tulisan yang terbuka. Ia tersenyum.
“Puisimu Ryan juga ya”celetuknya membuat Arenz kaget dan langsung menutup buku diarynya. Arenz hanya tersenyum kecut menanggapinya. Tak lama kemudian bus itu berhenti. Lelaki itu beranjak dari duduknya.
“Aku duluan ya. Oh ya, ngomong soal tadi aku beneran ngga’ bohong”ucap lelaki itu seraya keluar dari bus. Sepeninggal lelaki itu, Arenz masih terdiam sampai-sampai ia tidak tahu jika ia telah melalui halte yang seharusnya ia turun. Ia tersadar ketika mendengar komando dari bus itu bahwa ia telah melewatkan haltenya. Arenz pun segera turun di pemberhentian setelahnya. ia berjalan melewati trotoar jalan. Saat ia ingin menyetop taksi ia melihat sesuatu yang membuatnya mengurungkan niatnya. Ia melihat spanduk bertuliskan “Hadirilah Pertunjukkan dan Pameran Karya Para Seniman Jogja”. Arenz melihat tanggal yang tertera di spanduk itu. Masih 2 hari lagi. Pikirnya.

000

Dalam sepiku, kucoba untuk memahami semua ini.
Memahami apa yang ada dalam diriku.
Memahami gejolak yang menerpa hidupku.
Memahami satu demi satu sesuatu yang hadir dalam hidupku.
Tapi,                                                           
Tak tuntasnya Kau memberiku berbagai warna dalam kehidupanku ini.
Dan semua itu terjadi laksana sebuah petir yang menggelegar di siang hari.
Mungkin aku memang tidak memperhatikan gemuruh yang datang lebih awal.
Tapi,
Sungguh aku butuh proses untuk semua ini.

“Arenza,..”panggil Bunda dari lantai bawah.
“Ya, Bunda”sahut Arenz sambil menutup buku diarinya.
Ada telpon dari Ayah, sayang”
Ya Bunda, Arenz turun sekarang”segera Arenz keluar dari kamarnya. Ia berlari kecil menuruni tangga.
“Hei, hati-hati dong Arenz kalau turun”Bunda mengingatkan. Arenz nyengir. Ia pun langsung menerima telpon dari ayahnya.
“Ayah,..”

000

“Arenz, mau kemana hari ini?masih libur kan kuliahnya?”tanya bunda.
“Ehm, Arenz mau hunting sesuatu. Memang kenapa bunda?”Arenz balik nanya. Ia mengambil sepotong roti bakarnya dan melahapnya.
“Ehm, Bunda mau nitip nih, boleh?”pinta bunda sambil meneguk tehnya. Arenz mengangguk tanpa bersuara. Ia masih berkutat dengan rotinya sambil sesekali menambahkan selai pada rotinya.
“Tolong nanti kamu mampir ke tempat Bu Narti. Trus bilang ke dia kalau bunda jadi pesan rangkaian bunga yang kemarin. Dan ini uangnya”Bunda memberikan  amplop berisi uang yang langsung diterima oleh Arenz.
“Kenapa ngga’ telpon aja sich, Bunda?”
“Sekalian silaturahmi kan lebih baik. Lagi pula hari ini bunda ada acara dirumah teman lama bunda. Kamu mau ikut?”tawar bunda yang langsung ditolak oleh Arenz.
“Maaf ya, Bunda. Arenz masih muda belum berumur”ucapnya sambil menghabiskan rotinya membuat bunda tersenyum geli.
“Lho, sekalian latihan untuk jadi seorang ibu kan baik”canda bunda membuat Arenz bersungut.
“Bunda,…”rengeknya kesal. Bunda tertawa melihatnya.
“Ya sudah, cepat mandi!sudah siang nih!”
“Oke, ini juga mau mandi”sahutnya sambil bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan ruang makan yang diikuti bunda.

“Assalamualaikum, Bu Narti”
Arenz berdiri di depan ruko bunga milik salah seorang teman bundanya. Ruko itu cukup luas dengan hiasan bunga setiap sudutnya. Tak lama kemudian muncul seorang cowok dari dalam. Ia membawa rangkaian bunga ditangannya. Arenz memperhatikannya, ia pun berjalan ke arah cowok itu.
“Maaf, Bu Nartinya ada?”tanyanya pada cowok pembawa bunga. Cowok itu menoleh sekilas kemudian kembali sibuk dengan bunga bawaannya tanpa merespon pertanyaan Arenz. Arenz sedikit kesal. Ia pun mengulang pertanyaannya.
“Maaf, Bu Nartinya ada?”tanyanya dengan penuh kesabaran. Tapi, lagi-lagi cowok itu tak meresponnya membuatnya geregetan. Cowok itu malah hendak pergi meninggalkannya.
“ Maaf, aku kan nanya sama kamu, Bu Nartinya ada ngga’? kenapa kamu ngga’ jawab? ”tanyanya untuk sekian kali. Ia mencoba untuk mengendalikan emosinya. Tiba- tiba cowok itu menatap ke arahnya, tatapannya begitu tajam membuat Arenz terhenyak. Mata itu???? Pikirnya. Saat itu juga muncul seorang perempuan paruh baya dari dalam.
“Eh, Ada mbak Arenz tho” sapa perempuan itu dengan logat jawa kentalnya membuat Arenz lega. Akhirnya orang yang dicarinya muncul juga. Seketika perhatiannya tertuju pada perempuan paruh baya itu. Arenz tersenyum simpul.
“Sama siapa Mbak? Bundanya mana? Sendirian ya?”tanya Bu Narti.
“Iya, sendirian”jawab Arenz singkat.
“Wah, sudah berani pergi sendiri ya, Mbak. Naik apa tadi? Kesasar ngga’?”
“Naik taksi Bu, soalnya belum tahu jalannya.”
“Oh gitu. Ya sudah duduk dulu Mbak, saya kebelakang sebentar”ucap Bu Narti sambil beranjak pergi.
“Maaf, saya buru-buru jadi tidak bisa lama-lama.”ucap Arenz membuat Bu Narti mengurungkan niatnya.
Arenz langsung mengatakan sebab kedatangannya kepada Bu Narti.
“Saya kesini cuma mau memberikan ini kepada Ibu.”ucap Arenz sambil memberikan sebuah amplop kepada Bu Narti.
“Kata Bunda rangkaian bunganya yang kemarin jadi”
Bu Narti tersenyum penuh arti.
“Mbak Arenz ini lucu ya. Mbok duduk dulu sambil minum. Baru nanti kita ngobrol banyak. Sekalian silaturahmi”ucap Bu Narti yang melihat gelagat Arenz yang terburu-buru. Arenz tersenyum kikuk membuat Bu Narti semakin geli melihatnya.
“Ya sudah, nanti saya kirimkan paket bunganya”
“Makasih, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu”pamit Arenz.
“Beneran ngga’ mau minum dulu?”tanya Bu Narti membuat Arenz semakin kikuk.
“Bilang aja kalau mau, ngga’ usah basa basi. Pake malu-malu segala”ucap cowok pembawa bunga sambil tersenyum kecut. Arenz tersadar cowok itu belum pergi dari tadi. Cowok itu merekam semua pembicaraannya dengan Bu Narti.
“Ngga’ kok. Sungguh saya lagi terburu-buru”ucap Arenz membela dirinya.
“Mas Galang, ngga’ boleh kayak gitu! Kasihan Mbak Arenz. Ya sudah hati-hati dijalan ya Mbak Arenz”
Arenz tersenyum kikuk.
“Permisi, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” Arenz berjalan ke arah taksinya.
“Bu Narti, saya jadinya pesan yang ini dech”ucap cowok pembawa bunga yang bernama Galang.
“Oke, nanti saya kirimkan Mas Galang”

000

bersambuuunggg......

Minggu, 06 Mei 2012

novel jilid 1


#ABSTRAK                                              ARENZ bag 2
Batu-batu kecil tersebar disepanjang jalan membuat Arenz sedikit kesulitan mengayuh sepedanya. ia memandang Opanya yang justru telah berada jauh didepannya. Opa begitu mudah melalui jalan terjal ini, mungkin karena sudah terbiasa. Arenz berusaha mengejar Opa yang berada di depan.
            “Opa tunggu,..!”teriak Arenz sambil berusaha mengayuh sepedanya dengan cepat. Bukannya menunggu Arenz, Opa malah mempercepat lajunya. Opa memegang dadanya sambil terus mengayuh sepedanya.
            “Ayo, kejar Opa kalau bisa!”tantang Opa membuat Arenz tambah bersemangat mengayuh sepedanya. Arenz terus menambah kecepatannya, ia tidak ingin dikalahkan oleh seorang kakek yang seharusnya berada di belakangnya. Jalan yang dilaluinya semakin sempit dan mulai berkelok-kelok membuat Arenz kesulitan untuk mendahului Opanya. Mereka mulai melewati jalan setapak, area persawahan, dan terakhir menelusuri pinggiran hutan. Opa memberi instruksi agar hati-hati saat melalui jalan tersebut.
            Opa menghentikan sepedanya yang diikuti Arenz. Keduanya turun dari sepeda dengan ekspresi yang berbeda-beda. Arenz melongo begitu melihat pemandangan dihadapannya. Begitu hijau dan menakjubkan. Tampak pohon-pohon besar berada di sekelilingnya, berjejer dengan rapinya. Masih terdengar kicauan burung yang menambah indahnya suara alam. Ia tidak menyangka Opanya akan memperlihatkan alam yang masih sangat alami dan begitu indahnya dengan pesona yang dimilikinya. Sedangkan Opa, ia memejamkan matanya beberapa saat sambil menikmati udara pagi yang begitu menyegarkan. Ia teringat kembali akan kenangannya masa lalu.
            “Indah sekali Opa.”surprise Arenz. Opa tersenyum mendengarnya.
            “Opa benar-benar hebat bisa menemukan tempat seindah ini.”ucap Arenz.
            “Indahnya,..”gumamnya lagi.
            “Opa ingin menunjukkan sesuatu padamu, kemari ikut Opa!”perintah Opa. Arenz berjalan mengekor  dibelakang. Opa berjalan menuju sebuah batu berukuran besar. Bahkan ukurannya lebih besar dari tinggi badan Arenz. Arenz mengernyitkan dahinya, entah apa yang berada dipikirannya. Opa sedikit berjongkok dan mulai memindahkan batu—batu kecil yang berada disekitar batu besar itu. Selagi Opa berjongkok dan entah apa yang sedang dilakukan Opa saat ini, Arenz melihat sekelilingnya sekali lagi. Rumput-rumput liar tumbuh dimana-mana menjulang tinggi. Daun-daun kering berjatuhan dari atas pohon. Tak henti-hentinya ia bersyukur akan keindahan alam yang berada dihadapannya saat ini.
            Arenz kembali mengernyitkan dahinya saat Opa memperlihatkan sesuatu padanya. Sebuah kotak kecil berwarna kuning keemasan dengan ukiran disetiap sisinya.
            “Masih seperti dulu.”gumam Opa.
            Opa memberikan kotak itu pada Arenz,”Bukalah!”pinta Opa.
            Dengan ragu-ragu dan rasa penasarannya Arenz membuka kotak itu perlahan. Sebuah serpihan batu giok berbentuk setengah hati dengan warna hijau zamrud bertengger diatas bantalan kotak itu. Arenz terpukau melihatnya. Ia meraih giok itu perlahan.
            “Indah sekali, Opa”surprise Arenz kedua kalinya.
            “Serpihan giok ini pemberian Oma untukmu sebagai kado ulang tahunmu ke-17. Sebenarnya Oma ingin memberikannya sendiri saat umurmu 17 tahun tapi, takdir berkata lain. Oma meninggal saat usiamu 7 tahun. Maka dari itu Oma meminta Opa untuk memberikan serpihan ini saat umurmu menginjak 17 tahun. Saat ini!”Opa menerawang masa lalu. Mata Opa berkaca-kaca mengenangnya. Arenz merasakan kerinduan Opa yang selama ini terpendam. Ia pun memeluk Opa.
            “Opa,..Opa jangan sedih!”pinta Arenz yang sudah menitikan air mata terlebih dahulu. Opa tersenyum mendengarnya. Opa membelai rambut cucunya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
            “Sudahlah, Opa tidak apa-apa kok.”Opa melepas pelukannya.
            “Oh ya, konon serpihan giok ini memiliki mitos lho”ucap Opa membuat Arenz bingung.
            “Mitos?”
            “Dulu saat Oma membeli serpihan ini, ia diberitahu bahwa serpihan ini memiliki pasangan. Jika kedua giok ini disatukan maka akan terbentuk sebuah hati yang melambangkan keabadian cinta. Maka siapapun yang memilki serpihan pasangan giok ini. Dia adalah jodohmu. Sedangkan saat Oma membelinya, pasangan serpihan ini sudah tidak ada. Jadi, ini adalah mitos yang cukup menarik bukan”jelas Opa.
            “JODOH”gumam Arenz sambil menerawang jauh menatap cakrawala.

000

            Bungkusan berwarna biru itu masih bertengger diatas meja nakasnya. Dengan senangnya Arenz mengambil bungkusan itu.
            “Ehm, apa ya isinya?”
            Arenz menimang-nimang bungkusan itu, ia pun mulai membukanya. Arenz penasaran dengan kado pemberian Opa tadi malam. Saat membuka kadonya sesekali Arenz tertawa kecil mengingat kejadian semalam saat Opa memberikan surpirse padanya. Opa bernyanyi didepan pintu dengan gitar tuanya yang diiringi koor Bi Inah dan Pak Min. Arenz segera bangun saat mendengar sayup-sayup suara Opa. Dengan kantuk yang masih menggelayut dibukanya pintu kamarnya.
            “SURPRISE”ucap Opa, Bi Inah dan Pak Min bersamaan. Lagu selamat ulang tahun pun keluar dari mulut Opa. Arenz tertawa melihatnya, ia tidak menyangka Opa akan mengadakan surprise party malam-malam begini. Dengan do’a Arenz meniup kue ulang tahunnya yang diiringi tepuk tangan Opa, Bi Inah, dan Pak Min. setelah pesta kecil-kecilan Arenz langsung kembali ke kamarnya. Tak sempat membuka kado ia sudah tertidur pulas.
            Arenz terkejut, sebuah kamera digital keluaran terbaru bertengger dengan indahnya. Kamera yang sangat ia impikan akhir-akhir ini, kini menjadi miliknya. Ia pun mengambil kamera itu dan menimangnya dengan suka cita. Tak hentinya ia memandangi kamera itu. Ia pun mencoba kamera itu dengan memotret dirinya sendiri. Arenz tertawa melihat dirinya dalam kamera itu, raut wajah bangun tidur yang belum ada polesan sedikitpun diwajahnya. Arenz kembali meraih bungkusan itu mencari sesuatu yang lain. Ia menemukan secariik kertas berwarna biru. Arenz mulai membac
            Untuk Arenza cucuku

Tahun silih berganti, dengan bertambanhya usiamu Opa harap kamu menjadi yang terbaik untuk orang-orang yang kamu sayangi. Tetaplah menjadi Arenz yang periang, yang selalu membuat semua orang tersenyum. Dan ingat! Kamu akan selalu menjadi peri kecil Opa.
                                                                        Dari Opa yang menyanyangimu       
          Arenz melipat kembali suratnya, matanya berkaca-kaca.
            “Opa,..”gumamnya. ia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini ia terlalu sering menangis  bahagia. Opa membuatnya selalu ingin menangis.
            Arenz melirik jam dindingnya. Waktu menunjukkan pukul 5 pagi, waktunya untuk salat shubuh. Arenz pun beranjak dari tidurnya berjalan menuju kamar mandi.
            Buru-buru Arenz keluar dari kamarnya. Ia membawa kamera pemberian Opa. Tidak sulit mencari Opa yang selalu melakukan rutinitas pagi hari. Arenz menemukan Opa sedang duduk diteras sambil memandangi bunga-bunga yang bernekaran.
            “Opa,..”panggilnya. Arenz berlari menghampiri Opa dan langsung menghambur ke pelukan Opa. Opa sedikit terkejut dengan kedatangan Arenz tapi, kemudian sebuah senyuman tersungging dari bibirnya.
            “Arenz sayang Opa”ucap Arenz sambil melepas pelukannya.
            “Opa juga sayang Arenz, Arenz mau berjanji dengan Opa?”
            Arenz mengangguk. Opa pun menunjukkan jari kelingkingnya yang disambut dengan jari kelingking Arenz.
            “Opa ingin Arenz selalu tersenyum apapun yang terjadi suatu saat nanti. Dan tetap berdiri walaupun badai menerjang. Seperti layaknya seorang Srikandi”
            “Arenz janji, Opa. Arenz berjanji akan selalu tersenyum dan tetap berdiri walaupun badai menerjang”
            “Satu lagi, olahraga akan membuatmu menjadi lebih baik dalam menghadapi hari esok”
            “Ihh,.. Opa ngga nyambung. Masa nyambungnya ke olah raga”protes Arenz. Opa tertawa mendengarnya.
            “Suatu saat nanti kamu akan tahu alasannya”sahut Opa misterius membuat Arenz bertanya-tanya dalam hati.
            Senyuman pun mucul dari keduanya. Kemudian disambung dengan gelak tawa dari keduanya. Tawa kasih sayang seorang kakek kepada cucunya. Tawa yang akan selalu terkenang diantara mereka.

000

bersambungggg

Jumat, 04 Mei 2012

my brother and little sister


novel jilid 1


   #ABSTRAK                                            "ARENZ" bag 1
“Non Arenz, bubur ayamnya sudah siap’’ ucap bibi sambil meletakkan semangkuk bubur di hadapan Arenz. Arenz membuka matanya perlahan, ia merapatkan kembali selimut ke tubuhnya. Ia tengah menikmati udara pagi sambil tiduran di kursi panjang yang terbuat dari rotan yang terletak di balkon depan kamarnya.
            “Lebih nikmat jika dimakan selagi hangat dan ini susunya, non”
            “Makasih, Bi”ucap Arenz sambil menguap lebar. Ia beranjak dari tidurnya tapi tetap membungkus tubuhnya dengan selimut.
            “Opa mana, Bi?”tanyanya.
            “Sepertinya di kebun soalnya sejak subuh tadi tuan sudah pergi sama mas Joko, non”
            “Oh,..”
            “Permisi, non. saya mau ke dapur dulu”pamit bibi yang dibalas dengan anggukan Arenz.
            Arenz mengikat rambut panjangnya, ia berjalan ke arah balkon. Dihirupnya udara pagi yang terasa lembut menyentuh kulitnya. Ia mulai merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan melakukan beberapa gerakan senam kecil. Ia pun merentangkan tangannya sambil memejamkan matanya seolah-olah ia telah siap menyambut datangnya pagi. Setelah itu ia mulai merasakan kehangatan menyentuh dan menyelimuti tubuhnya. Darah yang mengalir dalam tubuhnya seakan mengalir begitu derasnya mengikuti arah sinar matahari yang begitu terasa ditubuhnya. Arenz membuka matanya perlahan, sebuah senyuman tersungging dari bibir manisnya diikuti gerakan lesung pipinya yang menjorok kedalam.
            “Non, air hangatnya sudah siap. Mau langsung mandi atau nanti, non?”ucap Bi Inah yang sudah ada dibelakangnya. Arenz membalikkan tubuhnya.
            “Sepuluh menit lagi aku mandi. Aku mau sarapan dulu”
            “Baik non,”
            Arenz mulai melahap buburnya yang mulai terasa dingin. Tak berapa lama kemudian ia menyambar handuknya sambil berjalan ke arah kamar mandi.

            000

            Hamparan hijau terlihat begitu luas. Dihadapannya berjejer barisan tumbuhan teh yang tertata dengan rapinya. Banyak pekerja perkebunan yang mulai memetik daun teh, mereka terlihat begitu bahagia saat pucuk daun teh telah berada dalam gendongan dan mulai memenuhi isi keranjang mereka. Sungguh pemandangan yang begitu alami dan menakjubkan. Tak lama kemudian ia pun mulai menelusuri perkebunan itu. Ia menyapa setiap orang yang dijumpainya.
            “Pagi Bu Sari!”
            “Pagi non Arenz!”
            “Wah, keranjangnya sudah hampir penuh ya, bu”
            “Iya nih, alhamdulillah”
            “Oh ya, gimana kabar teh Anis?”
            “Alhamdulillah, baik. Sekarang Anis teh sudah mengandung 4 bulan, Non Arenz”
            “Wah, berarti Bu Sari sudah mau punya cucu dong. Selamat ya, bu”
            “Terima kasih, non”
            “Non Arenz nyari tuan Baskoro, ya?”
            “Iya nih, Bu Sari tahu ngga’?”
            “Tadi sih saya ngeliat sama mas Joko lagi ngobrol  sama petugas daerah di sekitar gubuk peristirahatan, non”
            “Oh, kalau begitu saya pergi dulu ya, Bu Sari. Makasih”
            “Sama-sama”
            Arenz melanjutkan pencariannya. Ia berjalan menelusuri perkebunan dengan langkah ringannya. Ia mengamati sekelilingnya mencari sosok yang dicarinya. Sejurus kemudian ia tersenyum. Ia berjingkat-jingkat mendekati sosok yang dicarinya.
            “Opa,..!”panggilnya sambil berteriak membuat Opa menutup telinganya lekat-lekat. Kemudian dipegangnya dadanya yang terasa nyeri. Opa mencoba mengatur nafasnya kembali. Joko melihatnya tapi, Opa tersenyum menandakan ia baik- baik saja membuat Joko tenang. Opa menggeleng pelan melihat cucunya malah menertawainya. Dengan gemas Opa mencubit hidung Arenz.
            “Sakit Opa!”gerutu Arenz sambil mengelus-elus hidungnya. Gantian Opa yang tertawa melihat Arenz memanyunkan bibirnya.
            “Itu hukuman bagi orang yang sukanya jahilin orang. Apalagi Opanya sendiri”ucap Opa. Mas Joko yang berada disamping Opa ikut-ikutan tertawa melihat Arenz. Ia tak heran jika Arenz seperti itu. Karena hal itu sudah sering terjadi malahan ia juga tak jarang menjadi korban kejahiliannya.
            “Makanya Renz, besok lagi hati-hati kalau mau jahilin orang. Kena batunya baru tahu rasa kamu”ucap Mas Joko. Arenz mencibir mendengar ucapan Joko.
            “Awas ya, tinggal liat tanggal mainnya aja”sungut Arenz pura-pura marah.
            “Oke, aku tunggu tanggal mainnya”tantang Joko sambil melipat tangannya membuat Arenz kesal. Dan kali ini Opa dan Joko tertawa kompak membuat Arenz semakin kesal.
            Arenz melipat tangannya, bibirnya masih manyun perihal kejadian tadi. Tapi, beberapa saat kemudian ia tersenyum mengingat sesuatu yang sedari tadi ingin ditanyakannya yang menjadi tujuannya mencari Opa.
            “Opa,… Opa”ucap Arenz manja. Kening Opa berkerut mendengarnya, biasanya kalau sudah seperti ini ada udang dibalik batu.
            “Ehm, kemarin perasaan ada yang janji mau ngajak Arenz kemana gitu. Katanya sih mau ngeliatin sesuatu”ucapnya sambil memainkan rambutnya yang dikucir kuda. Opa mencoba mengingat sesuatu, sejurus kemudian ia tersenyum.
            “Ehm, gimana ya?”
            “Opa, ayo dong jadi! Arenz pengen tahu nih. Arenz penasaran!”pintanya memelas. Tapi, Opa tidak memberinya respon positif. Opa hanya terdiam sambil menatapnya.
            “Opa,.. Arenz janji dech ngga’ gangguin Opa lagi. Ayo dong Opa!”pintanya sekali lagi.
            “Ehm, boleh sih,..”
            Tanpa ba-bi-bu Arenz mendorong tubuh Opa berjalan.
            “Eh,…e ..kok dorong-dorong sih. Opa kan belum selesai bicara “
            “Ayo kita berangkat!”ucap Arenz tanpa memedulikan ucapan Opa. Dan Opa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucu semata wayangnya.
            “Joko, tolong teruskan pekerjaan yang belum selesai. Aku mau nurutin gadis manja ini dulu”pesan Opa.
            “Baik, Tuan”
            Opa dan Arenz berjalan beriringan menelusuri perkebunan menuju pinggiran jalan.
            “Sepedamu dimana, Renz?Ambil dulu!”perintah Opa.
            “Emangnya mau kemana sih, Opa?”tanyan Arenz penasaran.
            “Ada dech, kalau Opa beritahu sekarang bukan kejutan namanya”jawaban Opa membuat Arenz semakin penasaran. Ia pun mengambil sepedanya sambil terus menebak-nebak kejutan yang akan diberikan Opa padanya.

000

bersambunggggg