Makan di Lesehan Kenari adalah favoritnya. Makanannya yang selalu
menggoda selera membuat Arenz tak bisa jika tidak menikmatinya setiap hari
apalagi nasi goreng telurnya sangat menggoda selera. Arenz mengambil tempat
duduk dibawah pohon. Ia menunggu pesanannya datang sambil menikmati keadaan
sekitarnya. Siang ini lesehan tidak terlalu ramai karena memang biasanya
lesehan ini ramai menjelang sore sampai malam. Tak berapa lama kemudian
pesanannya pun datang. Mbak Sarti yang mengantarkannya. Arenz tersenyum melihat
nasi goreng kesukaannya sudah ada di depan matanya. Hanya tinggal tunggu waktu
menyantapnya.
“Ini nasi goreng special kesukaan mbak Arenz sudah siap”
“Makasih Mbak”
“Oh ya, tumben Mbak Arenz ke sininya siang? Biasanya agak sorean?”
“Hehe,.. iya neh. Habis sudah keburu laper Mbak”
“Haha,… Mbak Arenz ini bisa aja. Yaudah Mbak, selamat menikmati. Saya ke
belakang dulu, ya”
“Oke”
Sepeninggal Mbak Sarti pergi, Arenz pun langsung melahap makanannya.
000
Sosok itu berdiri mematung. Tatapannya penuh kebencian memandang
cakrawala didepannya. Disampingnya terlihat seorang cewek tengah menangis
tersedu-sedu. Ia berbalik tanpa memandang cewek itu.
“Tangisan buaya kamu, tidak akan mengubah keputusanku”jelasnya dingin.
“Aku mohon, maafkan aku. Apakah tidak ada lagi rasa sayangmu untukku?Aku
masih sangat menyanyangimu”
“Sayangnya rasa itu telah berubah menjadi kebencian untukmu. Tapi, aku
harus berterima kasih padamu karena kamu telah membukakan mataku tentang semua
ini.”
“Aku mohon, maafkan aku. Aku khilaf saat itu”akunya membuat cowok itu
tersenyum sinis.
“Oh ya, khilafkah?Sudah berapa kali kamu melakukannya?Dibayar berapa kamu
sampai kamu mau melakukannya?HAH!!!Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu karena
aku menghormatimu sebagai perempuan. Tapi, apa yang kamu lakukan
dibelakangku?Pengkhianatan!!!Kamu menunjukkan bahwa kamu tak pantas untuk
dihormati bahkan dihargai”jelasnya. Cowok itu mengambil biolanya kemudian pergi
dengan ninjanya. Sedangkan cewek yang disampingnya hanya menangis dan terus
menangis.
Arenz terpaku melihatnya. Kejadian itu benar-benar didepannya. Baru kali
ini ia melihat kejadian itu. Dengan ragu ia mendekati cewek itu.
“Jika kamu ingin meneruskan tangismu, pergilah!Jangan disini atau semua
orang akan melihatmu!”ucapnya membuat cewek itu menghentikan tangisnya. Cewek
itu pun tersadar ketika semua orang berkerumun melihatnya. Ia pun langsung lari
menembus kerumunan itu yang diikuti seruan dari kerumunan orang itu. Arenz
menghela nafasnya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.
Hari ini ia ingin melihat pameran yang dilihatnya kemarin di spanduk. Ia
pun menyetop taksi karena ia tidak mengetahui daerah yang tertera di spanduk
itu. Taksi itu pun langsung berjalan menuju gedung yang yang dimaksud.
“Oh, mb’nya mau lihat pameran ya mb’?”tanya sopir taksi itu.
“Iya nih, pak”
“Saya tadi juga kesana lho mb’. Nganterin pelanggan yang juga kesana.
Kayaknya sih pameran kali ini berbeda deh mb’ dari biasanya, orang biasanya
pamerannya diadainnya ngga’ di situ.”
“Jogja Expo Center ,
maksud bapak?”
“Iya mb’, biasanya itu di gedung
kesenian atau di moseum. Lha ini malah di JEC”Arenz mengangguk mengerti karena
ia memang belum mengetahui semuanya tentang Jogja.
“Bapak kerja sebagai sopir taksi sih berapa tahun?”tanyanya.
“Sudah 10 tahun ini, mb’”jawab sopir itu.
“Oh,.. berarti sudah lama banget ya, pak?”
“Ya, kira-kira sich begitu, mb’”
“Bapak, ngga’ bosen melakoni pekerjaan sebagai sopir taksi?”
Sopir itu tertawa mendengar pertanyaan Arenz.
“Semua orang pasti memiliki rasa bosan dalam melakoni pekerjaannya.
Tinggal kita pintar-pintar aja mengatasinya”jelas sopir itu membuat Arenz
terpukau dengan jawaban yang diberikannya. Ternyata, walaupun hanya sopir taksi
tidak membuatnya menjadi orang yang berpikiran sempit.
“Yah, walaupun saya cuma sebagai sopir taksi alhamdulillah saya bisa
menyekolahkan anak saya sampai kuliah”
“Memang anak bapak kuliah dimana, pak?” tanya Arenz penasaran. Sopir itu
menyebutkan sebuah universitas.
“Wah, hebat dong!Universitas kebanggaan saya itu pak. Anak bapak di
jurusan apa pak?”tanya Arenz menggebu-gebu.
“Di kedokteran”
“Wah, benar-benar hebat!”
“Saya itu bersyukur sekali lho mb’ anak saya sampai diterima di sana . Saya dulu malah
tidak sempat membayangkan menyekolahkan anak saya sampai kuliah. Tapi, berkat
kegigihan anak saya. Dia berhasil masuk melalui jalur beasiswa tanpa harus
mengeluarkan biaya sepeserpun”cerita sopir itu menggebu-gebu. Arenz tersenyum
melihat ekspresi sopir itu yang begitu semangat menceritakan kisah hidupnya.
Air mata disudut mata sopir itu pun jelas menggambarkan kebahagiannya.
“Bapak, pasti bangga sekali, ya”timpal Arenz.
“Pastinya mb’, saya sampai tidak tahu harus berbuat apa waktu mendengar
berita itu. saya hanya bisa bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Yang Maha
Kuasa.”
“Mb’ sendiri kuliah dimana?”
“Di Akutansi, pak”
“Wah, Ryan itu mb’. Akhir-akhir ini kan pekerjaan yang melibatkan sarjana
akuntansi cukup banyak. Saya doakan mb’ sukses nantinya”
Arenz terharu mendengarnya.
“Amin. Makasih pak atas doanya”
“Sama-sama mb’”
Arenz termenung. Ia memejamkan matanya beberapa saat. Terima kasih, pak. Bapak telah memberiku
sepercik harapan untuk hal ini. Batin
Arenz.
Sopir itu menghentikan taksinya. Ia menoleh kebelakang dengan senyum
khasnya.
“Sudah sampai, mb’”Arenz tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum.
Arenz melangkahkan kakinya memasuki gedung itu. di depan pintu terpasang
sebuah denah lokasi pameran karya seni itu. Sederet seniman sastra membuka
stand di sebelah timur, itu pun masih terbagi menjadi beberapa stand. Seperti
sastra puisi, cerpen, novel, syair dan lainnya. Kemudian diikuti oleh
stand-stand yang memamerkan karya-karya lukisan mereka. ada juga yang memainkan drama teater disebuah
panggung kecil ditengah-tengah. Kemudian di ujung sebelah barat untuk para
seniman musik. Mereka memperlihatkan keahlian mereka dalam bermain musik dengan
memainkan beberapa alat musik. Ada
juga yang bernyanyi, menciptakan syair baru secara spontan ditengah keramaian.
Sehingga gemuruh tepuk tangan terdengar dari segala arah. Ia tersadar ternyata
yang menghadiri pameran ini tidak hanya para seniman tapi juga puluhan pelajar
yang bersorak gembira melihat tontonan mereka masing-masing. Mereka terlihat
karena memakai seragam sekolah mereka. Ada
juga beberapa masyarakat umum yang tampak antusias menghadiri pameran ini.
Arenz tersenyum melihatnya.
Arenz memperhatikan seorang seniman yang tengah membaca sebuah puisi. Ia
mencoba memahami makna puisi yang dibacakan oleh seniman itu. setelah itu ia
pun berkeliling melihat pameran-pameran yang lain. Arenz menghentikan
langkahnya saat mendengar seseorang memainkan sebuah biola. Lagu yang dimainkan
seniman itu langsung menyentuh hatinya begitu ia mendengarkan. Sebuah lagu
dengan nada kesedihan yang begitu sempurna menyedot otaknya untuk berhenti
berfikir dan menjadikannya menikmati alunan nada itu. Arenz seperti ikut merasakan
apa yang tengah dituangkan dalam lagu itu. Sepertinya seniman itu tengah
menuangkan perasaannya dan berbaur dalam satu alunan nada yang dimainkannya.
Tepuk tangan terdengar gemuruh di sekitar stand itu. Ternyata seniman biola itu
mampu menyedot banyak pengunjung dan mendapatkan pujian dari penonton. Arenz
pun memberikan tepuk tangannya pada pemain biola. Tapi, kemudian ia tersadar.
“Dia,..?”pikirnya tak percaya melihat apa yang dilihat didepannya.
000
Arenz mencari keberadaan cowok biola itu. Tiba-tiba cowok itu menghilang
ditengah-tengah gemuruh tepuk tangan. Mungkinkah permainannya menggambarkan
kejadian tadi pagi?Ah,.. tapi itu bukan urusanku. Simpul Arenz kemudian. Ia
pun keluar dari kerumunan. Mendingan
lihat yang lain. Pikirnya. Tapi, tiba-tiba perutnya mengkerut dan
mengeluarkan bunyi membuat Arenz merubah niatnya. Ia pun memutuskan untuk
mencari tempat makan terlebih dahulu.
Arenz memasuki warung bakso dipinggir jalan tak jauh dari JEC. Setelah
memesan bakso kesukaannya ia pun mencari tempat untuk duduk melepas lelahnya.
Tidak terasa ia telah berdiri berjam-jam di pameran tadi. Sambil menunggu
pesanannya ia mengambil buku diarynya. Belum sempat ia membukanya, pesanannya
telah datang. Ia pun memasukkan kembali buku diarynya.
Seseorang membuatnya menghentikan makannya ketika ia mendengar
perkataannya. Matanya pun beralih pada sosok itu. seorang cowok dengan kemeja
biru tua yang tengah memesan. Sesaat ia nampak berfikir tapi, kemudian ia pun
melanjutkan kembali makannya. Tapi, Arenz kembali menghentikan makannya saat
seseorang menyapanya.
“Permisi, boleh saya duduk disini?”tanya seorang cowok dengan logat
jawanya. Arenz menengadahkan kepalanya. Ternyata cowok berkemeja biru itu yang
menyapanya. Ia pun tersenyum mempersilakan cowok itu duduk.
“Mb’ ini ngga’ pake micin tho mb’?”tanya cowok itu kepada pelayan.
“Iya mas, bakso ini sesuai pesanan masnya kok”jawab pelayan itu.
“Ryan, makasih kalau begitu”
Arenz telah mengahabiskan
makanannya. Ia menoleh ke arah cowok disampingnya yang tengah sibuk mencampur
kecap dan sambal kedalam baksonya.
“Mas, dokter ya?”tanya Arenz tiba-tiba membuat cowok itu menoleh heran.
“Kok mb’ tw?”tanyanya penuh selidik. Arenz tersenyum.
“Terlihat dari cara mas memesan bakso”jawab Arenz yang disambut senyum
cowok itu.
“Yah, tepatnya baru mau mb’ soalnya belum jadi sarjana”jelas cowok itu.
“Oh ya, kenalan dulu mb’ nama saya Bowo”ucapnya.
“Arenza”
“Oh,.. mb’ Arenza”
“Ngga usah pake mb’ soalnya sepertinya saya lebih muda dari masnya”cowok
itu tertawa mendengar ucapan polos Arenz.
“Haha,.. iya dech Arenza”ucap Bowo membuat Arenz tertawa mendengar logat
jawa Bowo yang begitu kental.
“Kita ngobrol sambil aku makan ya””Kamu bukan asli jogja, ya?soalnya gaya bicaramu beda,
Arenza”tebak Bowo.
“Kata siapa aku bukan orang asli Jogja. Ibuku asli jawa sedangkan ayahku
asli sunda”Sanggah Arenz.
“Oh, berarti kamu keturunan Jawa-sunda tho. Pantesan bentuk-bentuk wajah
kamu itu membentuk dua daerah itu”canda Bowo.
“Yee, memangnya aku pulau apa”keduanya pun tertawa.
“Kamu lucu juga ya…”“Oh ya, dari mana kamu menyimpulkan bahwa aku memesan
bakso ngga’ pake penyedap rasa itu menandakan kalau aku seorang dokter?”tanya
Bowo. Arenz terdiam beberapa saat.
“Ehm, … nebak aja. Mungkin untuk gaya
hidup sehat”tebak Arenz tersenyum kecut.
“Exactly”sahut Bowo.
“Temenku aja ya, saking sukanya sama bakso sampai-sampai dia belajar
untuk membuat bakso yang tanpa penyedap rasa. dan hasilnya pun tidak kalah
dengan bakso yang kita makan. Kapan-kapan dech aku ajak kamu ke tempatnya untuk
mencicipi masakannya. Dijamin mak nyos!!Tapi, Itu aja kalau dia lagi buat, hehe
…”Arenz tersenyum.
“Tapi, karena aku tidak sehebat dia dalam memasak. Aku putuskan kalau aku
beli bakso tanpa micin. Oh ya, kamu sudah kuliah? di jurusan apa?”tanyanya
“Akuntansi”jawab Arenz pendek.
“Oh pantes, mukamu itu kayak ada perkaliannya.”canda Bowo. Arenz tertawa
mendengarnya.
“Ada-ada aja”sahut Arenz.
“Oh ya, kata temenku itu kalau kita melakukan gaya hidup sehat menjadikan kita tahan
banting. Maksudnya kita dapat menjaga keseimbangan tubuh kita apabila ada
hal-hal yang mengganggu kehidupan kita. Contohnya saja bila kita ada masalah.
Seberapa besar pun badai menerjang kamu akan tetap berdiri di posisimu. Karena
kamu memiliki pemikiran yang jernih dan berbeda dari orang lain.”Arenz
merenungi ucapan Bowo. Sepertinya ia pernah mendengar hal itu tapi, dari siapa
ya?. Pikirnya.
“Kata temenku juga yang terpenting adalah olah raga. Karena dengan olah
raga akan membuatmu menjadi lebih baik
dalam menghadapi hari esok”ucap Bowo menggebu-gebu.
Seketika itu Arenz teringat sesuatu.
“Opa?”ucapnya lirih.
“Arenza, kamu ngga’ papa kan ?”tanya
Bowo yang melihat Arenz terdiam.
“Oh, ngga papa kok. Aku duluan ya. “
“Iya, hati-hati Arenza”Arenz beranjak dari duduknya. Ia segera ke kasir.
Setelah membayar ia berjalan keluar. Tapi, sesaat ia membalikkan badannya waktu
Bowo memanggilnya kembali.
“Arenza, sukses ya!”ucap Bowo membuat Arenz tersenyum.
“Makasih,”sahut Arenz tanpa mengeluarkan suara. Ia pun segera bergegas
pergi.
000
Arenz membuka laci mejanya. Tampak sebuah kotak kecil keemasan bertengger
didalamnya. Diambilnya kotak itu perlahan. Opa?.pikirnya.
Serpihan batu giok itu kini berada ditangannya. Digenggamnya serpihan itu
dengan kuatnya. Terngiang-ngiang wajah opa dipikirannya. Karena genggamannya
yang terlalu kuat, ia tidak menyadari bahwa ia telah menjatuhkan kotak itu.
Saat ia akan mengambil kotak itu, ia melihat sesuatu dibalik bantalan kotak
itu. Sebuah kertas yang terlipat cukup tebal dengan warna sama seperti kotak
itu “keemasan”. Ia merasa asing dengan kertas itu. karena ia tidak pernah
melihatnya. Ia memang tidak pernah membukanya sejak kematian opa. Dengan rasa
penasaran yang membuncah. ia membukanya dengan cepat dan mulai membaca isi
tulisan itu.
Untuk
Arenz peri kecil Opa.
Mungkin
saat kamu membaca tulisan ini, opa sudah tidak ada disisimu lagi, cucuku.
Tangan Arenz gemetar saat ia membaca tulisan Opa. Matanya mulai
berkaca-kaca.
Opa
ingin kembali memberimu selamat untuk kedua kalinya. Yang mungkin tidak bisa Opa
ucapkan lagi nantinya. Selamat Ulang Tahun, cucuku. Semoga apa yang kau
cita-citakan tercapai. Dan kau selalu berada dalam lindungan-Nya.
Maaf,
jika Opa tidak memberitahukan kepadamu tentang penyakit jantung Opa yang kambuh
beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya Bi Inah dan Joko sudah mengetahuinya sejak
peristiwa itu. yaitu sejak Opa jatuh pingsan beberapa bulan yang lalu tepatnya
saat Ayahmu kecelakaan. Sejak saat itu opa sering merasakan nyeri didada
opa. Opa sudah mencoba berobat ke kota sampai-sampai opa
berbohong padamu bahwa opa harus pergi beberapa hari untuk urusan perkebunan.
Tapi, sepertinya takdir berkata lain. Opa divonis penyakit jantung opa semakin
parah dan harus segera dicangkok. Opa menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan
seorang pendonor. Tapi, tak ada hasilnya. Akhirnya opa memutuskan untuk
menghentikan pencarian itu. dan kembali dengan kehidupan opa. Opa bersyukur
karena opa menjalani sisa hidup opa ditemani oleh seorang peri kecil bernama
Arenza. Sosok orang yang selalu ceria dan semangat dalam menjalani hidupnya.
Dia tetap tertawa walaupun sebenarnya ia menangis. Seorang cucu yang dapat
membuat semua orang tersenyum padanya. Dialah kamu, Arenza. Sosok gadis yang
merindukan sentuhan kasih sayang pada mulanya tapi kemudian tumbuh menjadi
sosok seorang gadis yang selalu memberikan kasih sayangnya pada setiap orang
agar mereka selalu tersenyum.
Opa
tidak ingin membuatmu menjadi khawatir karena penyakit opa. Maka dari itu, opa
tidak pernah memberitahumu tentang hal itu. Opa pun melarang keras Bi Inah
ataupun Joko memberitahukan hal itu kepada orang tuamu apalagi padamu.
Opa
sering mengajakmu untuk berolah raga karena opa tidak ingin kamu seperti opa.
Opa tidak ingin kamu memiliki penyakit sama seperti opa. Opa ingin melihatmu
selalu sehat. Opa selalu menekankan padamu untuk selalu berolah raga. Opa harap
kamu tidak melupakan pesan opa untuk hal ini. Hahaha ….. tapi, opa jamin kamu
pasti lupa. Ingatlah Arenz bahwa olah raga dapat membuatmu menjadi lebih baik
dalam menghadapi hari esok! Karena akan membantu dalam menyeimbangkan kesehatan
jasmani dan rohanimu.
Arenza,
jagalah dengan baik serpihan giok pemberian omamu. Mungkin itu akan membawamu
pada sosok yang akan menemanimu suatu saat nanti. Sosok yang akan menjadi
suamimu. Opa yakin kamu akan mendapatkan seseorang yang memang pantas untuk
gadis sebaik kamu. Dan ingat jangan lupa untuk memperjuangkan cita-citamu, Bu dokter!
Opa
yakin kamu pasti bisa. Dengan semangat dan ceriamu yang selalu tinggi. Kamu
pasti bisa meraihnya!
Terimakasih
cucuku karena kamu telah menjadi peri kecil opa. Dan kamu mampu membuat opa
bangkit setelah kematian omamu.
Opa
menyanyangimu, Arenza.
Dari opa yang selalu menyanyangimu
Air mata Arenz tak dapat lagi dibendung. Ia menangis sesenggukan dibawah ranjangnya. Pikirannya
melayang entah kemana. Namun yang ada dalam benaknya saat ini adalah kerinduan.
Kerinduan yang terpancar jelas dari sorot matanya. Ia rindu akan belaian opa
yang begitu menyanyanginya. Lama Arenz duduk mematung. Tapi, perlahan-lahan Arenz
beranjak dari duduknya. Serpihan giok itu masih digenggamnya. Ia pun kembali
meletakkan serpihan itu ditempatnya.
000
bersammbuuungggg,,,,,,
