kali ini, lebih panjang daru biasanya, soalnyaa dah lamaa ga kesentuh nie blog...
Air mata Arenz tak dapat lagi dibendung. Ia menangis sesenggukan dibawah ranjangnya. Pikirannya
melayang entah kemana. Namun yang ada dalam benaknya saat ini adalah kerinduan.
Kerinduan yang terpancar jelas dari sorot matanya. Ia rindu akan belaian opa
yang begitu menyanyanginya. Lama Arenz duduk mematung. Tapi, perlahan-lahan
Arenz beranjak dari duduknya. Serpihan giok itu masih digenggamnya. Ia pun
kembali meletakkan serpihan itu ditempatnya.
000
Arenz terbangun malam harinya. Hatinya berdegup kencang. Bahkan ia kaget
kenapa tiba-tiba jantungnya berdegup sangat kencang dan tidak terkontrol. Ia
mencoba menetralisirnya dengan meminum segelas air putih. Tidak berapa lama kemudian ia pun mulai
tenang. Aku kenapa?kenapa aku jadi seperti ini?batinnya sambil menyentuh
dadanya. Apa yang terjadi denganku?apakah aku bermimpi?ah tidak, aku tidak
bermimpi. Tapi, ada perasaan aneh yang menghampiriku.?tanyanya dalam hati.
000
Pagi- pagi Arenz sudah duduk di beranda rumahnya, menikmati kesejukan
alam yang diberikan Tuhan untuk hambanya sama seperti yang ia lakukan dengan
kakeknya dulu. Serpihan giok itu berada dalam genggamannya. Ia mencoba
merenungkan peristiwa tadi malam karena sepertinya ada kaitannya dengan giok
pemberian opa. Kenapa aku tiba- tiba merindukan seseorang? sebenarnya siapa
yang aku rindukan? Lalu siapa cowok itu? Siapa cowok yang menghampiriku tadi
malam? Kenapa dia tersenyum? Kenapa dia meraih tanganku?mimpi ini sama seperti
mimpi satu minggu yang lalu.
“Arenz,..”panggil bunda membuyarkan lamunannya.
“Eh,… Bunda ngagetin aja”
“Ngga’ baik lho pagi- pagi ngelamun, pamali””Memangnya kamu lagi mikirin
apa sich?”tanya bunda.
“Ngga’ kok, Bun. Cuma mikir aja aku mau hunting lagi hari ini. Kira- kira
tempat yang asyik yang mana ya, Bun?”sahut Arenz berbohong.
“Kamu mau hunting lagi? Bukannya kemaren- kemaren kamu hunting juga, ya?”
“Iya, Bun. Tapi, daripada dirumah nganggur mendingan cari sesuatu yang
baru”
“Ehm, gimana kalau ke toko buku aja. Bukannya sekarang lagi banyak
diskon. Waktumu akan lebih bermanfaat di sana”usul bunda.
“Benar juga, Bunda. Sudah lama aku ngga’ ke toko buku”
“Tapi, jangan lupa ya. Nanti ikut jemput Ayah di bandara jam 3 sore”
“Oke, Bunda”
000
Mata Arenz terpaku pada tiga buku didepannya. Tangannya menimang- nimang buku-
buku tersebut. Ia bingung memilih antara buku akuntansi yang harus dibelinya
atau buku sastra yang ingin dibelinya dari dulu begitu juga buku analisis
kesehatan yang diinginkannya.
“Yang mana, ya? Sayangnya aku cuma bawa uang dua ratus lima puluh ribu.
Coba tadi aku ambil uang dulu di ATM, pasti aku bisa beli dua-duanya”ucap Arenz
lirih.
Sedang bingung- bingungnya memilih
tiba- tiba seseorang muncul dari belakang.
“Coba pilih yang lebih kamu butuhin”ucap seorang cewek yang tiba-tiba ada
disampingnya. Arenz memalingkan wajahnya. Terlihat didepannya seorang cewek
berkerudung biru tersenyum ke arahnya. Cewek itu melirik buku yang dibawa Arenz
sedari tadi.
“Akuntansi, analisis kesehatan atau sastra? Mana yang lebih kamu
butuhin?”ucap cewek itu lagi membuat Arenz terdiam.
“Oh,… maaf aku lancang ya?”ucap cewek itu merasa bersalah dengan
kelakuannya. Arenz segera tersadar dari lamunannya.
“Eh,.. ngga’ kok. Ngga’ apa-apa lagi”bantah Arenz.
“Beneran? Maaf ya””Ehm, kenalin namaku Suci”ucap cewek itu yang ternyata
bernama Suci. Ia mengulurkan tangannya.
“Arenza”sahut Arenz sambil menyambut tangan Suci.
“Namamu Ryan” puji Suci.
“Terima kasih. Kamu juga”sahut Arenz.
“ Eh, kok jadi kaku gini sich suasananya. Lucu dech”ucap Suci mencoba
mencairkan suasana. Membuat Arenz tertawa yang diikuti oleh Suci. Mereka berdua
pun menjadi akrab karena itu.
“Jadi kamu anak seni? Ambil jurusan apa?”
“Ehm, seni music”
“Keren banget. Berarti kamu bisa mainin semua alat music dong?”
“Ngga’ semua kok, cuma beberapa soalnya aku lebih konsentrasi ke biola”
“Wah biola, keren banget. Aku mau dong diajarin”pinta Arenz.
“Shiiep, kapan- kapan ya…”
“Oke”
“Suci”panggil seseorang dari belakang. Reflek Suci dan Arenz pun menoleh.
Seorang cowok dengan kemeja biru tengah berdiri tak jauh dari mereka.
“Mas Bowo”
“Ngapain aja sich, lama banget beli bukunya”ucap cowok itu yang ternyata
bernama Bowo.
“Sorry dech, Mas. Sini aku kenalin sama temen baruku”ucap Suci. Bowo pun
berjalan mendekat ke arah Suci.
“Kenalin, ini Arenz teman baruku”ucap Suci.
Bowo sedikit terkejut melihat Arenz yang tersenyum kepadanya.
“Halo, Mas Bowo. Kita ketemu lagi”sapa Arenz membuat Bowo sedikit
mengerutkan keningnya.
“Kamu itu Arenz yang kemarin, bukan?tanya Bowo memastikan. Arenz
mengangguk mantap.
“Tepat sekali”Bowo tersenyum mendengarnya.
“Jadi kalian sudah kenal?”tanya Suci heran.
“Kamu inget ngga’ sich, Ci. Dia itu cewek yang aku ceritain tadi”ucap
Bowo mengingatkan. Suci memutar otaknya.
“Oh, yang kamu bilang cewek lucu ya?”tanya Suci yang dibalas anggukan
Bowo.
“Nanti dulu, jadi mas Bowo cerita apa aja sama kamu, Suci?”tanya Arenz.
“Ehm, ada aja”jawab Suci membuat Arenz gemas.
“Sucii, jahat banget sich”ucap Arenz sedikit kesal. Tapi, malah membuat
Suci dan Bowo tertawa.
“Mas Bowo kok ikut-ikutan ketawa sich,…”sungut Arenz membuat Bowo
menggelengkan kepalanya.
“Kamu itu bener- bener lucu ya”tambah Bowo.
000
Sore ini Bandara Adisucipto tampak ramai. Hal ini
terlihat dari beberapa kerumunan orang di berbagai tempat. Ada yang tengah
duduk di ruang tunggu, ada yang hanya berdiri, ada pula yang duduk- duduk di
kafe. Arenz tengah menikmati vanilla ice nya sambil duduk di ruang tunggu.
Disampingnya bunda tampak serius melihat berita
yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun tv.
“Denger tuch Renz, sekarang banyak banget penyakit
yang muncul dan aneh- aneh macamnya. Kamu harus hati- hati lho kalau deket sama
orang yang ngga’ kamu kenal. Ntar kalau dia punya penyakit dan kamu tertular
gimana? Sekarang kan banyak penyakit yang menular lewat udara. Jadi hati- hati
kalau deket sama orang apalagi kamu bersentuhan. Ihh,… serem.”jelas bunda
panjang lebar membuat Arenz jengah mendengarnya.
“Bunda, Arenz ke toilet dulu ya”pamit Arenz.
“Jangan lama- lama ya! Bentar lagi ayah landing”
“Oke, Bunda”
Arenz berjalan menelusuri kerumunan orang di
depannya. Matanya mencari- cari papan nama yang bertuliskan toilet. Akhirnya ia
menemukannya. Dengan langkah yang sedikit tergesa- gesa ia menerobos kerumunan
orang. Tiba- tiba ia tersandung dan membuat keseimbangan tubuhnya goyah. Ia pun
terjatuh ke depan dan membuat orang yang berada di depannya terkejut. Ice yang
dibawanya pun ikut nimbrung menodai baju orang tersebut. Dengan segudang rasa
bersalahnya Arenz berdiri sambil tesenyum kaku memandangi orang yang
ditabraknya.
“Maaf ya, aku ngga’ sengaja”pintanya sambil meringis
menunjukkan giginya yang tersusun rapi. Tapi, kemudian ia menyadari sesuatu.
Cowok yang ditabraknya adalah cowok yang ia temui beberapa hari yang lalu di
toko bunga.
“Oh ya, … kamu sudah membuat bajuku kotor dan satu
lagi, kamu telah membuat karangan bungaku hancur gara- gara kamu. Dan kamu
hanya bilang “Maaf ngga’ sengaja””ucap cowok itu dingin membuat Arenz semakin
kikuk dan merasa bersalah, ia tidak menyangka cowok itu masih saja ingat
peristiwa kemarin.
“Aku bener- bener minta maaf. Apa yang bisa kulakukan
supaya kamu maafin aku?”tanya Arenz. Cowok itu hanya memandanginya dingin.
“Pergi dari hadapanku sekarang juga!”ucap cowok itu
dingin membuat Arenz sedikit terkejut. Ia pun segera pergi dari hadapan cowok
itu. Sesampainya di toilet Arenz mengelus- elus dadanya yang terasa sakit.
“Galak banget sich tuch cowok. Aku sampai takut
begini dibuatnya”ucapnya lirih sambil membenahi pakaiannya. Arenz segera
membasuh tangannya yang kotor di westafel. Ia melirik jam tangannya. Sedetik
kemudian ia teringat sesuatu.
“Ayah”ucapnya sambil buru- buru keluar. Tiba- tiba ia
mengerem langkahnya. Hampir saja ia menabrak orang lagi di depan toilet. Ia pun
mengarahkan pandangannya pada orang tersebut. Cowok itu lagi!batinnya . cowok
itu hanya memandanginya kemudian berlalu tanpa sepatah kata. Arenz tidak
memedulikannya. Segera ia melanjutkan langkahnya karena pesawat yang membawa
ayahnya sudah tiba dari tadi. Handphone nya pun terus berdering.
“Iya Bunda, Arenz sudah selesai kok”
“Ayah,..!”Arenz segera bersalaman menyambut
kedatangan ayah dan menghambur kepelukan ayah.
“Arenz kangen, Yah”
“Ayah juga, Arenz baik- baik aja kan dirumah sama
Bunda?”tanya Ayah yang dijawab dengan anggukan mantap Arenz.
“Oke, sekarang kita pulang. Ayah dah kangen nih sama
masakan Bunda”
“Cieee, sama masakannya atau orangnya?”goda Arenz
membuat Ayah tertawa geli.
“Dua- duanya lah”sahut Ayah membuat Bunda
menggelengkan kepalanya geli melihat tingkah suami dan anaknya. Mereka bertiga
pun berjalan beriringan meninggalkan bandara. Dijalan tak henti- hentinya Arenz
bercerita dengan Ayahnya.
“Iya, Yah. Kemaren itu pamerannya Ryan banget. Ada
juga yang permainan biolanya itu keren banget”cerocos Arenz tanpa henti.
“Arenz, udah dong ceritanya nanti lagi. Ayah kan
butuh istirahat”ucap bunda mengingatkan.
“Hehe, iya Bunda. Lagian Arenz dah ngga’ punya bahan
lagi buat cerita”sahut Arenz.
“Oke, nanti gantian Ayah yang cerita. Tapi, dirumah
aja ya”ucap ayah yang disambut anggukan Arenz.
“Oke”
Mobil berhenti di lampu merah. Arenz mengalihkan
pandangannya ke luar. Awan mendung tampak berjejeran di atas langit. Gerimis pun
mulai turun perlahan- lahan. Arenz menikmati suasana ini. Ia memejamkan matanya
beberapa saat. Ketika ia membuka kembali matanya ia dikejutkan dengan
pemandangan didepannya. Seorang cowok yang tengah bermain gitar di depan sebuah
gedung bekas toko. Cowok itu dikelilngi dengan anak- anak kecil yang duduk
melingkar. Arenz teringat sesuatu, ia pun membuka kaca mobilnya dan
memperhatikan wajah cowok itu lekat- lekat. Dia kan cowok biola itu.
Akhirnya aku lihat dia lagi. Pikirnya.
Tiba- tiba sebuah mobil berhenti disampingnya dan
menghalangi pandangannya pada cowok biola itu. Arenz sedikit mengeluh. Tapi, ia
kembali dikejutkan dengan pemandangan di depannya. Sekarang gantian cowok
dingin pembawa bunga itu yang berada di hadapannya.
Cowok itu melirik sekilas dan sedikit kaget melihat
Arenz yang tiba- tiba ada di depannya. Matanya membelalak kaget yang disambut
dengan cengiran Arenz yang buru- buru menutup kaca mobilnya.
Arenz mengelus- elus dadanya sambil mengatur kembali
nafasnya. Ia tak habis pikir sudah tiga kali dalam satu hari ini ia bertemu
dengan cowok dingin itu. Cowok yang membuatnya deg- degan karena tatapannya
yang tajam. Tanpa sadar Ayah melihat gelagat aneh Arenz.
“Kenapa, Renz?”
“E.. Ngga pa pa kok, Yah”
“Ngga’ pa pa kok ngos- ngosan gitu”
“Beneran, aku cuma kaget aja tiba- tiba kutub utara
pindah disini”
“Kutub utara? Kamu itu aneh- aneh aja sich, Renz”ucap
ayah sambil menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan Arenz yang
asal-asalan. Lampu kembali hijau dan mobil pun kembali berjalan.
000
Arenz menatap bangunan didepannya, sebuah gedung
bertingkat membuatnya berdiri terpaku beberapa saat. Sebuah impian yang
tersimpan erat didalam hatinya selama ini, kini hanya bisa tergantung dalam
hatinya saja. Cukup lama ia berdiri sendiri di pinggir jalan memandangi
bangunan itu. Sampai seseorang memanggilnya dan membuyarkan lamunannya.
“Arenz!!”panggil seseorang dari arah belakang
membuat Arenz mengalihkan pandangannya.
“Eh, Kak Bowo”sahut Arenz sedikit terkejut melihat
Bowo yang tengah berjalan ke arahnya.
“Ngapain kamu disini?”tanya Bowo sesampainya
dihadapan Arenz.
“Ehm, Cuma main doang kok. Mas Bowo sich ngapain
disini?”tanya Arenz balik.
“Lho aku memang disini kuliahnya”
“Oh, disini,…”sahut Arenz sambil mengangguk- angguk
mengerti.
“Kamu mau ikut ke dalam ngga’? soalnya aku mau ujian
praktek” tawar Bowo.
“Ngga’ dech, aku sudah mau pulang kok. Oh ya,
bukannya sekarang ada pertunjukkan music ya di museum Van Den Burg?”
“He’eh, tadi aku baru kesana. Suci juga disana kok”
“Oh, Mbak Suci ikut?”
“Iya, dia ikut mengiringi temannya”
“Wah, kalau begitu aku mau mampir ke sana dulu dech”
“Iya, pasti Suci seneng kalau kamu ke sana”
“Ya udah, aku pergi dulu ya”
“Oke”
“Oh, iya, sukses ya ujian prakteknya, Mas Bowo”
“Makasih, Renz, aku masuk duluan”pamit Bowo sambil
beranjak pergi. Sepeninggal Bowo, Arenz pun beranjak pergi dari tempatnya berdiri
dengan sisa- sisa harapannya. Baru saja ia membalikkan badan tiba- tiba
seseorang sudah ada di belakangnya, Arenz sedikit terkejut. Ia mundur beberapa
langkah.
“Kenapa kamu selalu menghalangi jalanku?”ucap cowok
itu ketus tanpa basa- basi. Arenz terdiam. Tanpa sepatah kata arenz pergi
meninggalkan cowok itu.
“Cewek aneh”
“Kenapa sich aku selalu bertemu dengannya? Dan kenapa
juga ia selalu ketus sama aku? Apa sich salahku? Kurasa semua peristiwa yang
terjadi bukan hanya salahku, tapi salah dia juga. Dia yang pertama kali
membuatku jengkel karena ia tak menjawab pertanyaanku sewaktu di toko bunga
seharusnya aku yang marah sama dia, trus kalau di bandara kemarin itu memang salahku
karena aku kurang hati- hati. Trus tadi, aku kan ngga’ tahu kalau ternyata dia
ada dibelakangku. Kurasa dia kekurangan obat tidur dech sampai- sampai dia
selalu ketus sama aku.”omel Arenz lirih. Kini, ia tengah berada di halte bus
Trans, tak lama kemudian bus itu datang dan membawa Arenz pergi.
Di dalam bus Arenz mengeluarkan buku oranyenya. Ia
pun membenahi posisi duduknya. Dengan sebuah pena ia mulai bermain dengan
imajinasinya.
Apa yang kurasakan???
Kenapa aku harus merasakannya?
Duduk dalam sebuah posisi yang memberiku sedikit
ruang untuk nafasku.
Apa ini yang dinamakan cinta?
Atau mungkin ini adalah beban???
Sebuah teka teki yang mungkin hanya aku dan Dia
yang mengetahuinya.
Aku??? Apakah aku benar- benar bisa
mendiskripsikannya???
Aku lelah, dan aku tak mau tahu.
“Sepertinya posisi seperti itu yang selalu membuatmu
nyaman.”celetuk seseorang yang membuat Arenz menghentikan tulisannya. Arenz
mengalihkan pandangannya.
“Sepertinya aku merusak suasanamu? Sorry”ucap cowok
itu.
“Siapa kamu?”tanya Arenz bingung.
“Oh iya, kenalin namaku Gilang.”
“Arenz”Arenz tampak berfikir, wajah cowok itu begitu
familiar baginya.
Wajahnya?? Mengingatkanku padanya. Kenapa mereka
bisa sebegitu miripnya? Ahh, mana mungkin, sekarang kan sudah banyak orang yang
wajahnya mirip. Masa bodo’.
“Kamu suka menulis ya?”tanya Gilang membuyarkan
lamunannya.
“Oh, iya. Itu merupakan hobiku”jawab Arenz singkat.
“Hobi yang pastinya membuatmu selalu melamun”tambah Gilang
membuat Arenz tertawa kecil.
“Sepertinya kita pernah ketemu ya?”tanya Arenz.
“Ya, kita memang pernah bertemu. Di bus trans juga.
Kalau tidak salah di sekitar malioboro”jawabnya lancar membuat Arenz
terperangah.
“Kamu benar- benar mengingatnya?”
“Yup, untuk masalah ingatan aku jagonya.”
“Oh,…”jawab Arenz sedikit heran campur bingung, dan
kaget.
Tapi, kenapa yang terfikirkan olehku malah orang
lain??? Ucap Arenz dalam hati.
“Hei,.. kok diem aja!”ucap Gilang membuyarkan
lamunannya.
“Eh,..ehm, ngga’,.. ngga’ apa- apa kok”jawabnya asal
sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela bus.
Arenz berhenti di pemberhentian halte depan museum
benteng Van Den Burg, ia pun berpisah dengan Gilang yang masih melanjutkan
perjalanannya. Sore ini tampak ramai di sekitar benteng karena tengah ada pertunjukkan
music didalam, segera Arenz berjalan memasuki museum.
Setibanya di dalam Arenz langsung disambut dengan
suara biola yang menggema. Matanya pun langsung tertuju pada panggung kecil
yang berada tak jauh darinya. Terlihat seorang cowok tengah bermain biola yang
diiringi dengan piano disampingnya. Arenz mengenal cowok itu. Dia adalah cowok
biola itu.
Tiba- tiba seseorang menepuk bahunya pelan membuatnya
sedikit terkejut. Tampak Suci tersenyum ke arahnya.
“Mbak Suci,..”
“Hei Renz, apa kabar?”
“Baik, Mbak. Pamerannya lumayan ramai ya”
“Alhamdulillah, di Jogja kan gudangnya seniman”
“Bener juga tuch,..”
“Oh iya, Mbak Suci ikut main, ya”
“He’eh, pasti kamu tahu dari Mas Bowo, ya”
“Iya,..”
“Kapan mainnya? jangan- jangan aku telat nih”
“Ngga’ kok, tepat waktu malah. Nih aku baru mau
main.”
“Wah, asyik dong. Aku bisa lihat atraksi Mbak Suci”
“Aku itu cuma mengiringi temenku, Ryan. Itu lho yang
lagi main biola di depan. Keren kan”
“Oh, namanya Ryan”
“Gimana? Cakep kan orangnya? Nanti aku kenalin ke
kamu.”
“Tapi, Mbak,…”
“Aku ke depan dulu ya”pamit Suci tanpa menanggapi
respon Arenz.
Arenz memperhatikan Suci yang tengah naik ke atas
panggung dan disambut tepukan tangan dari penonton. Arenz tersenyum saat
melihat Suci tersenyum ke arahnya, tapi sejurus kemudian ia terdiam ketika
melihat Ryan memandang ke arahnya dengan tatapan tajam. Ia pun langsung
menundukkan kepalanya. Ia kembali teringat tatapan mata itu. Tatapan itu hampir
sama seperti tatapan mata cowok pembawa bunga itu.
Tiba- tiba
jantungnya berdegup kencang membuatnya bingung. Aku kenapa sich? Kok
tiba- tiba perasaanku jadi aneh. Degupan jantung ini sama seperti degupan
jantung beberapa hari yang lalu. Tepatnya saat ia bermimpi sesuatu yang aneh.
Arenz memutar otaknya mencoba menerka sesuatu yang tengah terjadi padanya.
“Arenz”panggil Suci yang membuyarkan lamunannya.
Dilihatnya Suci tengah melambaikan tangannya ke arahnya memintanya untuk
menghampirinya. Ya Allah, ternyata permainan music Mbak Suci sudah selesai
padahal aku tidak mendengarkannya sama sekali. gerutu Arenz dalam hati.
Arenz pun berjalan pelan ke arah Suci. Ia tidak
berani memandang Ryan yang duduk di sebelah Suci.
“Ryan, kenalin Arenz”ucap Suci memperkenalkan Arenz
kepada Ryan.
“Arenz, ini Ryan.”ucapnya lagi.
Ryan memandang ke arah Arenz dengan tatapan tajamnya
membuat Arenz menjadi kikuk.
“Ryan”ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
“Arenz”sahutnya sambil menyambut uluran tangan Ryan.
“Oh iya, tahu ngga’ Yan, Arenz ini suka banget lho
sama music. Dia juga suka sama sastra sama kayak kamu”
“Ah, Mbak Suci ini bisa aja”ucap Arenz merasa tidak
enak hati.
“Oh gitu,… Suci kamu bisa ambilin air minumku di tas
ngga’?”tanya Ryan.
“Tentu”jawab Suci singkat yang kemudian meninggalkan
Arenz sendirian.
Ryan menatap Arenz dari bawah ke atas. Tatapannya tak
lepas dari wajah Arenz. Ia tampak berfikir sesaat.
“Kamu itu cewek yang kulihat waktu di dekat malioboro
itu, kan?”tanya Ryan tanpa basa basi.
“Iya”jawab Arenz singkat.
“Kamu juga cewek yang waktu di pameran JEC itu,
kan?”tanyanya lagi.
“Iya”
“Kuharap kamu ngga’ cerita apa- apa sama Suci tentang
kejadian waktu itu, antara aku dengan mantanku”
“Ngga’ kok, aku ngga’ akan cerita sama Suci”
“Baguslah kalau begitu, sekarang kita bisa
berteman.”ucap Ryan sambil tersenyum. Arenz pun ikut tersenyum.
“Biasa aja kalau sama aku, walaupun aku memang agak
nyeremin”
“Baiklah”
Tak butuh waktu lama untuk mengakrabkan mereka
berdua. Karena memang ada yang menyatukan pembicaraan mereka, yaitu music.
mereka pun mengobrol akrab. Ketegangan yang terjadi di antara mereka selama ini
seakan menguap entah kemana. Suci yang berdiri tak jauh dari mereka pun
tersenyum melihat hal itu. Botol minuman yang dibawanya dibiarkannya saja
tergantung dalam kepalan tangannya. Ia tidak ingin mengganggu perkenalan kedua
temannya. Bunyi handphone membuat Suci segera mengangkat telponnya.
“Gimana?”tanya suara di seberang.
“Semuanya lancar”jawab Suci mantap.
“Baguslah”
000
“Ayolah, bantu aku untuk mengantarkan pesanan
pelangganku. Please”pinta Gilang. Galang melengos mendengarnya.
“Aku bukan tukang antar, you know!”bantah Galang
sambil membenahi meja kerjanya.
“Ayolah, sebagai saudara seharusnya kita kan saling
membantu.”
“Tapi tidak dengan ini!”ucap Galang setengah
berteriak.
“Kalau penyakit maag ku tidak kambuh, aku tidak akan memintamu seperti
ini”ucap Gilang menjelaskan.
“Ayolah, kumohon saudaraku”
“Galang, bantulah adikmu sesekali. Kasihan dia.”pinta
Mama yang sudah ada dibalik pintu kerja Galang. Galang melengos untuk sekian
kalinya.
“Kenapa bukan Mang Jaka atau siapa kek, rekan kerjamu?
Atau mungkin dengan paket kilat? Kenapa harus aku?”Galang mencoba mengelak
untuk sekian kalinya.
“Lagian aku juga heran, Kenapa sich pelangganmu itu
menyuruh untuk mengantarkan pesanannya malam- malam begini. Buat orang susah
aja”tambahnya.
“Aduh Galang, mana ku tahu, yang jelas aku dapat dua
kali lipat bayarannya. Lagian kamu lupa ya. Kalau Mang Jaka itu masih baru di
Jogja ini. Lagipula dia itu tukang kebun bukan tukang sopir jadi mana mugkin
dia tahu jalanan daerah sini. Trus yang kedua semua rekan kerjaku sudah pada
pulang kerumah masing- masing. Kamu inget sekarang jam berapa? Jam sebelas
malam. Mana mungkin aku menyuruh mereka untuk melakukan hal ini. Lalu yang
ketiga kalau aku paketin yang ada jadinya nyampenya besok pagi plus semua
paketan sudah tutup dari jam 8 tadi. Dan yang terakhir,…”
“STOP,..oke aku bantu kamu, tapi ini untuk yang
pertama dan yang terakhir kalinya!”tegas Galang membuat Gilang tersenyum lebar.
“Waah, beneran, Lang. makasih ya. Makasih Kakakku
yang paling ganteng”ucap Gilang senang sambil mencoba memeluk Galang.
“Hei,.. apa- apaan ini. Jangan coba- coba kamu
melakukannya sama aku! aku masih normal tahu”ucap Galang emosi.
“Hehe,… maaf dech”sahut Gilang.
000
Arenz merebahkan tubuhnya di sofa tidur kamarnya.
Pikirannya melayang membayangkan kejadian yang dialaminya sehari tadi. Dia
bertemu tiga cowok dalam satu hari. Tiga cowok yang memiliki tiga sifat yang
berbeda. Tiga cowok yang memiliki satu kesamaan yang sama. Tiga cowok yang
tiba- tiba datang dalam kehidupannya dengan cara yang berbeda. Arenz tak habis
fikir dengan semua ini. Kenapa hal ini bisa terjadi padanya? Ia tidak tahu
dengan apa yang direncanakan yang maha kuasa padanya kali ini. Arenz
menghembuskan nafasnya berat.
“Tok,..tok,..tok,..”ketukan pintu khas bunda.
“Arenz, apakah kamu sudah tidur, nak?”tanya Bunda dari
balik pintu. Mendengar hal itu segera Arenz bangun dari tempat tidurnya.
“Ngga’ kok, Bun. Arenz belum tidur.”
Sejurus kemudian pintu terbuka muncul kedua
orangtuanya dari balik pintu.
“Ayah Bunda, ada apa?”
“Ehm, Ayah punya sesuatu buat kamu”ucap Ayah sambil
menghampiri Arenz yang diikuti bunda.
“Apa itu, Yah?”
“Ehm, coba kamu lihat di depan”
“Di depan?”dengan rasa penasaran yang membuncah Arenz
berlari keluar dari kamarnya. Ia menuruni tangga dengan tergesa- gesa dan
membuka pintu rumahnya dengan tergesa- gesa. Saat pintu terbuka ia tampak kaget
setengah mati seorang cowok tengah berdiri tepat didepannya. Dan dia adalah
cowok es itu.
“Kamu,..”ucap Arenz bingung dengan kedatangan cowok
yang tak kalah kagetnya dengan Arenz.
“Kamu”ucap Galang sama kagetnya.
“Ngapain kamu kesini malam- malam? Lagian kamu tahu
rumahku dari mana?”tanya Arenz tanpa henti.
Galang melengos, ia buru- buru menutupi wajahnya
dengan topi.
“Gimana Arenz? Kamu suka nak dengan motor baru
kamu?”tanya Ayah yang sudah ada dibelakangnya.
“Hah, motor baru?”ucap Arenz tambah bingung.
“Iya, Ayah beliin motor baru buat kamu. Kamu suka,
kan?”tanya Ayah sambil berdiri disampingnya. Arenz segera mencari motor yang
dikatakan Ayahnya. Tampak sebuah motor tergeletak di teras rumahnya.
“Oh, iya. Bagus banget, Yah. Makasih ya”ucap Arenz
sambil melihat motor barunya.
“Makasih ya, Yah. Motor barunya. Aku kira tadi Ayah
mindahin gunung es ke sini”ucap Arenz
sambil memandang kea rah Galang.
“Gunung es, ada ada aja kamu, Renz.”
“Oh, iya. Terima kasih ya, udah mau nganterin malam-
malam begini”ucap ayah pada Galang. Galang tersenyum tipis menanggapinya.
“Saya pamit”tambahnya.
“Oke,..”
Segera Galang pergi dari hadapan keluarga Arenz.
Mobilnya pun melaju kencang meninggalkan pekarangan rumah. Gilang, awas
kau!!!! Teriak Galang dalam hati.
000
Malam semakin larut, udara dingin pun semakin terasa
menyerbak merasuki tubuh Arenz yang tengah duduk di atas balkon depan kamarnya.
Sesekali ia meminum teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya.
“Cowok itu sebenarnya siapa sich?”tanya Arenz pada
dirinya sendiri.
“Akhir- akhir ini aku sering banget ketemu dia,
sehari ini aja udah dua kali ketemu. Udah gitu ada lagi yang mirip sama dia….
Aduh, kenapa aku harus mikirin dia sich, kenal aja ngga, apalagi tahu namanya.
Eh, tapi tatapan dia hampir sama seperti Ryan. Dan aku ngerasa seperti udah
kenal mata itu lama. Aduh, kenapa sich dia selalu pakai topi dan handband di
tangan kanannya. Seperti ada yang disembunyiin dech.”
“Aduh, kenapa juga aku harus mikirin itu”ucap
Arenz bingung pada dirinya sendiri.
“Arenz, kamu belum tidur, nak?”tanya Bunda tiba- tiba
muncul dibelakangnya.
“Eh, Bunda. Iya nih belum bisa tidur”jawab Arenz.
“Tidur dong, udah malem nih. Lihat tuch jam berapa?
Udah hampir jam satu malam kan? Dan besok kamu kuliah”
Arenz tersenyum mendengarnya.
“Iya, Bunda”sahutnya manja.
“Bunda, Arenz mau nanya sesuatu boleh ngga’?”
“Tentu, mau tanya apa, nak?”
“Ehm, sebentar”ucap Arenz sambil beranjak dari
duduknya dan masuk kedalam rumah. Beberapa saat kemudian ia kembali datang dengan
membawa sebuah kotak. Tepatnya kotak pemberian opanya dulu.
“Lihat dech, Bunda” Secara perlahan dibukanya kotak
itu, sedangkan Bunda menunggu apa yang diperlihatkan putrinya sambil
mengerutkan keningnya.
“Ehm, Bunda. Giok ini adalah pemberian almarhum Opa
sebagai kado warisan dari Oma”ucap Arenz sambil menyerahkan giok itu pada
Bundanya.
“Giok ini indah sekali, Renz. Tapi, kok Cuma setengah
hati bentuknya? Yang satu lagi mana? Ngga’ ada?”tanya Bunda terpukau melihat
keelokan giok itu.
“Giok ini pada awalnya memiliki pasangan yang jika
nanti disatukan akan menjadi sebuah hati. Konon giok ini adalah sebuah lambang
kasih sayang, bisa juga diartikan sebuah kesetian cinta. Lalu saat itu Oma
membelinya untukku. Beliau percaya bahwa giok ini nantinya akan membawaku pada
jodohku. Giok ini nantinya yang akan mempertemukanku dengannya. Kedengarannya
mungkin sangat konyol. Tapi, entah kenapa Arenz percaya banget akan hal itu.
Menurut Bunda, Arenz harus bagaimana?”
Bunda menatap Arenz lembut. Dibelainya rambut Arenz
yang terurai panjang.
“Kamu tahu, nak. Bahwa jodoh itu ditangan Tuhan.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Karena itulah kebesaran Allah.
Mungkin kita bisa mengartikan giok ini sebagai permata indah yang konon dapat
menemukan atau membawa kita pada jodoh kita nantinya. Tapi, semua itu kembali
kepada yang Maha Kuasa. Mungkin kita dapat memposisikan giok itu sebagai
perantara. Jikalau giok ini dapat
membawa kita pada jodoh adalah atas kuasa Allah. Jika tidak ya tidak.”
Arenz mengangguk mengerti penjelasan Bundanya.
“Iya, Bunda. Sekarang Arenz mengerti apa yang harus
Arenz lakukan.”
“Baguslah kalau begitu. Sekarang tidurlah. Sudah
malam”
“Baik, Bunda.”
Bunda segera pergi ketika Arenz telah merebahkan
tubuhnya di sofa tidur.
000
Arenz terbangun dari tidurnya, keringat dingin
merajai seluruh tubuhnya membuat baju tidurnya basah. jantungnya pun berdegup
kencang membuatnya terasa sakit. Nafasnya yang naik turun membuatnya sulit
bernafas. Arenz mencoba mengontrol kembali nafasnya dengan meminum segelas air
putih. Beberapa saat kemudian ia merasa lebih baik. Diliriknya jam dinding yang
sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Ia pun menyadari serpihan gioknya
masih dalam genggamannya.
Ya Allah, ada apa denganku? Apa yang sebenarnya
tengah terjadi padaku? Kenapa hal ini sering terjadi padaku?ucapnya dalam hati.
Arenz teringat akan mimpi yang baru saja dialaminya.
Dalam mimpi itu ia melihat wajah seorang cowok yang terlihat kabur dan tidak
jelas. Cowok itu mengenakan sesuatu di atas kepalanya membuatnya semakin
terlihat gelap. Saat cowok itu tengah berjalan ke arahnya bayangannya tampak
semakin jelas. Cowok itu tersenyum ke arahnya. Tapi, tiba- tiba ia terbangun
dan melihat kondisinya yang buruk.
Mimpi apa aku sebenarnya? Kenapa setiap mimpi ini
terjadi tubuhku mengalami reaksi yang aneh? Siapa sebenarnya cowok dalam mimpi
itu? Pikirnya bingung.
000
Aku tersudut pada suatu titik
Sebuah kegelapan yang tampak padaku
Tak ada secercah cahaya yang membuatku mengerti
Hanya dengungan suara yang membuatku pilu
Ku coba untuk bangun dan berdiri
Mencoba mencari celah untuk seberkas cahaya
Namun, aku hanya dapat berdiri tanpa menemukan suatu
apapun.
000
Ryan memasukkan semua buku- buku kuliahnya dalam tas.
Hari ini tidak ada jadwal manggung untuk pertunjukkannya. Jadi, ia ingin
menghabiskan waktunya seharian untuk belajar. Maklum mahasiswa akuntansi
haruslah bisa mengatur waktu selain mengatur keuangannya. Kadang ia tersenyum
sendiri saat orang- orang mengiranya adalah seorang mahasiswa seni padahal ia
seorang mahasiswa seni akutansi. Kebanyakan temannya adalah anak seni, seperti
Suci temannya sejak SMA. Tapi, tak menutup kemungkinan bahwa ia juga memiliki
banyak teman anak akutansi.
Handphone berdering membuat Ryan menghentikan
sarapannya.
“Assalamualaikum, kenapa?”
“Oh,,, tapi hari ini aku full kuliahnya”
“Ehm, iya dech nanti aku sempatin”
“Jam makan siang aja yach?”
“Oke, baayyy”hubungan telpon terputus, Ryan kembali
meletakkan Hpnya dan melanjutkan sarapannya yang tertunda.
Teriknya matahari tak membuat Arenz mengurungkan
niatnya untuk kuliah, hari ini ia hanya memiliki kelas siang tepatnya jam
ketiga. Ia segera memarkir motor barunya di tempat yang aman. Kali ini ia
mengenakan celana panjang putih dengan atasan kemeja panjang warna merah
membuatnya semakin terlihat cantik. Apalagi ditambah rambutnya yang terikat
rapi di atas kepalanya.
Arenz melirik jam tangannya, masih tersisa waktu
sepuluh menit untuk berjalan ke kelasnya. Dengan langkah santai ia menaiki
tangga dan berjalan menuju kelasnya. Buku besarnya pun telah tertenteng di
lengan tangannya.
Satu lantai telah terlewati, tinggal dua lantai
lagi. Pikirnya sambil terus berjalan. satu hal yang masih menggantung dalam
pikirannya, yaitu tentang mimpi anehnya. Betapa ia tidak mengerti tentang maksud
mimpi itu. Hal itu membuatnya menjadi seorang pemikir berat. Tiba- tiba bukunya
terjatuh dan ia pun tersadar dari lamunannya.
“Makasih”ucapnya ketika buku- bukunya diambilkan oleh
orang lain.
“Makanya lain kali jangan melamun lagi”sahut cowok
itu yang kemudian berdiri dan menyerahkan buku- bukunya. Arenz terkejut melihat
orang di depannya yang tak lain adalah Ryan.
“Kak Ryan, Ngapain di sini?”tanyanya.
Ryan tersenyum mendengarnya.
“Aku ada janji sama temanku. Tadinya aku mau
menyapamu tapi melihatmu jalan sambil melamun membuatku mengurungkan niatku dan
akhirnya kau tersadar juga dari lamunanmu. Memangnya sedang mikirin apa sich?”
“Ah, ngga’ apa- apa kok. Ngga’ penting”
Arenz memperhatikan penampilan Ryan hari ini. Ia
memakai celana jeans dengan atasan kemeja biru dan rambutnya tertutupi oleh
topi.
“Kamu suka pakai topi ya?”tanya Arenz.
“Ngga’ juga sich, cuma kalau lagi pengen aja”
“Oh, gitu”
“Oh iya, Renz. Besok datang ya di festival music”
“Wah, boleh tuch. Dimana tempatnya?”
“Di Mandala Krida”
“Oke, aku akan datang”arenz melirik jam tangannya.
“Sepertinya aku harus ke kelas. Aku tinggal ngga’
apa- apa kan?”
“Ngga’ apa- apa kok, lagian aku juga harus balik ke
kampus.”
“Sampai jumpa”ucap Arenz sambil berjalan meninggalkan
Ryan.
Ryan memandangi Arenz yang telah pergi dan tak
terlihat lagi. Ia pun tersenyum.
“Hei, siapa tuch? Pacar baru ya? Tumben seorang Ryan
bisa secair itu menghadapi cewek yang satu ini. Pake senyum- senyum lagi.”tanya
Andi tiba-tiba yang sudah berada disampingnya.
“Bukan kok, enak saja. Memangnya kamu kenal sama dia?”tanya Ryan.
“Lho kok, balik nanya. Aku memang tahu dia tapi ngga’
kenal. Kamu tahu ngga’ diam- diam banyak lho yang suka sama dia. Jadi kalau
kamu suka langsung tunjukin keburu entar diambil orang”
“Ah, kamu ini ada- ada aja. Ayo antar aku ke parkiran!”
“Baiklah, Boss”
000
Kenapa sich akuntansi selalu membuatku kesal?? Kenapa
sedikitpun aku tidak bisa mengerjakannya?? Ada apa sebenarnya denganku?? Gerutu
Arenz dalam hati sambil membanting pensilnya ke lantai. Matanya terarah pada
seorang teman yang duduk di depannya, tampak sekali ia begitu mudah mengerjakan
soal- soal yang tengah dikerjakannya. Kenapa aku tidak bisa seperti dia??
“Arenz, kamu kenapa sich? Kok diem aja?”tanya Tasya.
Arenz tersenyum kikuk.
“Ngga’ apa- apa, Cuma lagi kangen ma kimia”jawab
Arenz asal yang ternyata membuat Sansan memperhatikannya.
“Tenang aja, nanti aku pasti bantu kamu”ucapnya
membuat Arenz tersenyum.
“Makasih, San. Kamu baik dech”
“Aku kan temanmu, Renz. Jangan lupa itu!” keduanya
pun tersenyum.
Sekeluarnya dari kelas Arenz melirik jam tangannya.
Ia pun tengah mempertimbangkan sesuatu.
Akhirnya ia pun melangkahkan kakinya pergi.
“Renz, mau kemana?” tanya Tasya yang melihat Arenz
berjalan berlawanan dengannya.
“Ehm, pengen ke perpus bentar. Mau ikut?” tanya Arenz
balik.
“Ngga’ ah, kapan- kapan aja. Hehe,,”jawab Tasya
terkekeh.
“Huu, sukanya,,”timpal Arenz. Ia pun kembali
melangkahkan kakinya. Tapi, baru saja melangkah Tasya kembali memanggilnya yang
membuatnya kembali membalikkan tubuhnya.
“Oh iya, Renz”
“Apa lagi?”
“Besok ada festival music di Mandala. Kamu mau ke
sana ngga’? kalo iya, bareng ya”
“Oke,,”
Arenz membolak- balik buku akuntansi. Pikirannya
terpusat pada angka- angka di depannya. Tangannya pun tak lepas dari pensil dan
kalkulator. Cukup lama Arenz bertekur pada pekerjaannya saat ini sampai- sampai
ia tak sadar akan waktu yang sudah menunjukkan pukul empat sore.
Seorang petugas perpustakaan menghampirinya.
“Permisi, sudah saatnya tutup”
“Oh iya, Pak” Arenz segera mengemasi buku- bukunya.
“Lumayanlah, hari ini satu soal terselesaikan”ucapnya
lirih.
“Arenz,,”terdengar seseorang memanggilnya. Ia pun
menoleh dan sedikit terkejut ketika mendapati Gilang yang tiba- tiba ada di
hadapannya.
“Gilang, ngapain disini?”tanya Arenz sedikit terkejut.
Tapi, kemudian ia tersadar saat melihat sosok perempuan yang berdiri tak jauh
dari Gilang.
“Ehm, sepertinya,,,,”goda Arenz membuat Gilang salah
tingkah.
“Ah, kamu ada- ada aja sich, Renz. Jadi malu,,”
“Haha,, “
“Udah dari tadi ya?”tanya Arenz.
“He’eh, lumayan sich.”
“Kok, aku ngga’ liat kalian ya”
“Gimana mau liat kalo sedari tadi kamu ngga lepas
sama bukumu”
“Oh, Ya Allah, maaf dech”
“Ngga’ pa pa asalkan,,,”
“Asalkan apa?”
“Ehm, nanti aja dech. Yang penting kamu harus ingat
kalo kamu punya utang ma aku!”
“Ah, kamu ini,, okelah”
“Yawdah, pulang dulu ya.”
“Oke,,, hati- hati ya”
“Yup,,”
bersaaammbuuunggggggg.................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar